agus-kucink2

Keinginan yang kuat, memang harus didasari dengan kerja keras. Sekalipun berulang kali menemui kegagalan, sikap pantang menyerah tetap harus ditanamkan.

Setidaknya prinsip itulah yang ditanamkan Agus Koecink, seniman international asal Surabaya ini. Kecintaannya terhadap dunia seni memang terbilang lama, “sudah sejak sekolah dasar (SD), mulai ngeblat (menirukan) gambar yang ada di komik. Sampai saya ambil jurusan S1 di Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya, dan S2 di ISI Surakarta,” kisah laki-laki ini sembari menggendong anak keduanya mengenang.

Pemilik nama asli Agus Sukamto ini adalah sosok seniman yang jauh dari bayangan publik, seniman yang biasa dikenal memiliki rambut panjang dan jarang mandi, tak tampak pada dirinya. Ia lebih terkesan sederhana dengan potongan cepak, berkacamata, memakai kaos dan celana panjang.

Tak disangka, dibalik penampilan sederhananya itu Agus ‘Koecink’ banyak menuai prestasi dan berulang kali membuat pameran. Seperti yang diakuinya pada pelaksanaan pameran Rouen Je T’aime bersama Institute Français Indonesia di Gallery AJBS Surabaya, Agus beserta Istrinya pernah mendapatkan kehormatan untuk menjalani residensi di Museum Sejarah Alam Rouen, Perancis. Seniman yang sarat dengan gaya kontemporer ini, juga mendapatkan kesempatan untuk mendesain ruang Asia di museum tersebut bersama dengan istrinya.

Sekalipun akhir-akhir ini diberitakan mendapatkan pengaruh dari Rouen, soal warna lukisan yang jauh dari gaya kontemporer, Agus mengaku jika karya-karyanya tetap akan kental dengan tradisi Indonesia. “Saya lebih memilih lokalitas, karena lokalitas sangat kaya sekali, nila-nilai kelokalan juga sangat kental, dari Sabang sampai Merauke,” tuturnya mantap.

Hidup bahagia bersama keluarga kecilnya membuat Agus bersemangat untuk terus berkarya, ia mengakui rahasia suksesnya sebagai pelukis karena tiga hal yang selalu ia disiplinkan terhadap dirinya sendiri. “Pokoknya harus konsisten, berkreasi, dan terus bergerak. Uda tiga itu aja,” ujarnya sambil tersenyum.

naskah : pipit maulidiya | foto : farid rusly