STUNNING EAST JAVA|Thursday, December 18, 2014
  • GO STUNNING

Bandeng Kawak Si Raja Tambak 

Bila saatnya tiba, perebutan gelar untuk jadi yang terberat dan terhebat digelar. Pertarungan gengsi, pamor, kedudukan, dan lembar-lembar rupiah terjadi tak kenal henti.

Ramadhan telah berlalu, namun ada sebuah tradisi yang masih menarik dibahas. Seperti agenda tahunan yang ada di Kota Gresik, warga setempat kembali menyuguhkan perhelatan tradisi budaya akbar, Pasar dan Lelang Bandeng Tradisional (PLBT). Acara yang identik dengan lelang bandeng itu digelar setiap pada malam 27 hingga 29 di bulan Ramadhan.

Suasana di Jalan Gubernur Suryo, Gresik, yang biasa ramai dengan lalu lalang kendaraan bermotor, berubah menjadi lautan manusia. Lapak-lapak dadakan berdiri, dan para pedagang sibuk menjajakan ikan bandeng raksasa atau biasa disebut dengan bandeng kawak.

Tak terkecuali mulai dari kalangan pejabat, politikus, hingga para pemilik tambak juga terlibat dalam tumpah ruah masyarakat di pasar bandeng. Ada yang menawar dengan harga tinggi di saat lelang, dan adapula yang memborong bandeng kawak di lapak pasar selama tiga hari tiga malam.

Rupanya pasar dan lelang bandeng sangat dinanti oleh masyarakat setempat bahkan dari luar kota. Acara ini layak bersanding, karena ikut meramaikan suasana kota pudak di masa-masa Ramadhan. Selain keramaian di makam-makam para wali yang ada di sana, dan beberapa tempat sakral lainnya.

Tidak bisa dipungkiri, pasar dan lelang bandeng ini sudah jadi budaya yang terus dilakukan masyarakat sampai sekarang. Maklum, menurut survey tahun 2001 berjumlah 969.205 jiwa, dan kebanyakan menjadi nelayan yang memandang ikan bandeng sebagai simbol prestise tokoh masyarakat. Semakin kaya seseorang, maka bisa dipastikan semakin besar ikan bandeng yang disantapnya atau dimiliki ditambaknya.

Juga di pasar bandeng inilah, bandeng jumlah besar didapatkan. Nelayan dan petambak dari seluruh Gresik dan daerah pesisir yang dekat dengan kota itu, seperti Madura, Lamongan, Surabaya dan Sidoarjo datang ke lokasi ini setiap tahun untuk menjual ikan bandeng. Tidak tanggung-tanggung setiap nelayan dan pedagang menjual ikan bandeng hinggan 6 ton dalam dua malam. Masyarakat Gresik berlomba untuk membeli ikan bandeng terbesar yang dijual dalam even itu.

M. Sholeh adalah penjual ikan bandeng asal Mengare Gresik yang ikut menggelar dagangan dalam even ini. Sebagai persiapan, dirinya mempersiapkan ikan bandeng berbagai ukuran. Mulai yang beratnya 1-11 kilogram. Bandeng-bandeng itu didapatkan dari nelayan dan petambak yang ada di Gresik dan sebagian dari Sidoarjo. “Kami yakin seluruh ikan yang kami jual akan habis terbeli, karena memang biasanya seperti itu,” katanya. Bandeng terbesar yang dijual Sholeh yakni seberat 11 kilogram terjual seharga Rp 710 ribu.

Di tahun-tahun sebelumnya, M. Sholeh mengaku bisa menjual ikan bandeng dengan ukuran jauh lebih besar, hingga 18 kilogram. Tapi untuk tahun ini, ikan bandeng sebesar itu jarang ada. “Salah satu sebabnya karena tidak segera turun hujan, akibatnya air tambak yang digunakan untuk berternak bandeng lebih asin, makanya bandeng tidak bisa besar-besar,” jelasnya panjang lebar.

Khoirul Hadi, pedagang bandeng lainnya mengaku sama. Warga Sedayu Gresik itu mengatakan karena hujan jarang turun, banyak ikan bandeng yang seharusnya bisa besar dan siap dipanen, malah mati di tambak. “Waktu saya membeli beberapa ikan milik tambak tetangga, banyak ikan bandeng besar yang mati, kasihan, kalau sudah seperti itu bandengnya tidak bisa lagi dijual,” ungkapnya.

Bandeng yang dijual Khoirul kebanyakan masih hidup dan segar. Kalau toh sudah mati, ikan itu biasanya mati dalam tumpukan es batu. “Orang akan tahu apakah ikan yang dijual ini masih fresh atau tidak, terutama dari beningnya mata dan kulit muka ikan dan kulit ikan, kalau sudah kusam, itu berarti ikannya sudah tidak segar lagi,” katanya. Untuk pasar bandeng kali ini, Kusnulhadi menyiapkan dana hingga Rp.24 juta rupiah untuk membeli sampai 500 biji ikan dari berbagai ukuran.

Tanda Giri
Tidak jelas awal mulai digelarnya Pasar dan Lelang Bandeng Tradisional di Gresik. Ada yang meyakini, kegiatan ini sudah dilakukan sejak awal Kota Gresik dibuka. Namun ada yang menyatakan, pesta ini adalah budaya yang dikenalkan Penjajah Belanda sebagai bentuk hiburan masyarakat pribumi Gresik dari keinginan untuk memberontak. Yang pasti, sejarah Gresik yang dikenal sebagai kota pelabuhan, memberi tempat untuk itu.

Sejak abad ke-11 misalnya, ketika Gresik tumbuh menjadi pusat perdagangan antar pulau dan antar negara, wilayah ini banyak dikunjungi oleh pedagang Cina, Arab, Gujarat, Kalkuta, Siam, Benggali hingga Campa. Saat itulah, perlahan-lahan agama Islam masuk ke tanah Jawa dengan dibawa oleh Syekh Maulana Malik Ibrahim dan Fatimah Binti Maimun. Di jaman itu, masyarakat banyak berprofesi sebagai nelayan, hingga sekarang. Terutama di daerah Ujung Pangkah, Sedayu dan Bungah yang berbatasan langsung dengan laut.

Hampir sepertiga bagian dari wilayah Kabupaten Gresik merupakan daerah pesisir pantai, yaitu sepanjang Kecamatan Kebomas, sebagian Kecamatan Gresik, Kecamatan Manyar, Kecamatan Bungah dan Kecamatan Ujungpangkah, Sidayu dan Panceng. Serta Kecamatan Tambak dan Kecamatan Sangkapura yang berada di Pulau Bawean. Dari total luas wilayah Gresik, 192 kilometer persegi adalah wilayah tambak dan kolam.

Karenanya, Gresik dikenal sebagai salah satu penyuplai ikan bandeng terbesar di Jawa Timur. Luas lahan tambak di kabupaten ini mencapai sekitar 28 ribu hektar, atau sekitar 46 persen dari total luas area tambak di Jatim. Produksi budi daya ikan bandeng di Gresik sendiri mencapai 23.200 ton per tahun.

Tidak hanya itu, adapula versi sejarah lain yang mencatat, seperti yang diceritakan Oemar Zainuddin, sumber EastJava Traveler sejarah pasar lelang bandeng bermula dari kisah tentang Sunan Giri ketika masih hidup, yang saat itu memiliki ratusan santri di pondok pesantrennya di kawasan bukit Giri Kedaton, yang sekarang dikenal dengan Desa Giri, Kecamatan Kebomas.

Para santri yang berguru untuk memperdalam ilmu agama Islam, memiliki kebiasaan mudik setiap menjelang lebaran. Sebelum kembali ke kampung halamannya untuk berlebaran, umumnya para santri turun bukit menuju Kota Gresik, guna sekadar mencari oleh-oleh sesuatu yang menjadi khas Gresik. “Karena makanan yang menjadi khas waktu itu adalah bandeng, akhirnya bandeng selalu dibawa pulang sebagai oleh-oleh,” tukas Oemar sembari tertawa kecil.

m. ridloi | foto : wt atmojo

ARTIKEL PILIHAN LAINNYA

Add a Comment