Seiring waktu, Kenpark, kawasan wisata tepi pantai di Surabaya, tumbuh menjadi kawasan wisata yang kaya ikon religi nan artistik. Seperti Sanggar Agung atau Hong Shan Tang, hingga Four-Faced Buddha Monument yang popularitasnya telah sampai di manca negara.

Lelaki itu menunduk, memejamkan mata dan mulai berdoa. Memanjat syukur, berbagi harapan dengan sang leluhur. Beberapa saat kemudian, setelah meletakkan hio, ia kembali menundukkan kepala. Menarik nafas panjang, lalu melangkah ringan ke arah belakang.

Rupanya di halaman belakang Puri Sanggar Agung, istri dan anaknya sedang duduk santai menghadap ke laut Selat Madura. Sesekali melihat pilar-pilar besi yang terpancang di pelataran dan patung naga emas di tengah halaman, sambil menikmati udara laut yang sangat segar.

Sementara patung Dewi Kwan Im setinggi kurang lebih 20 meter yang berdiri anggun dan berjajar bersama dua anak kecil beserta dua pasang dewa, serasa menyempurnakan segalanya. Pun dua naga raksasa yang berdiri gagah di bawah patung Sang Dewi, membangun rasa aman tak terhingga di antara mereka.

Lelaki itu, David, warga Bojonegoro, ternyata rutin pergi ke Sanggar Agung. Bagi keluarga besarnya, Sanggar Agung dianggap sebagai titik puncak dari proses ritual dan interaksi dengan pencipta. “Kalau belum bersembahyang di Sanggar Agung, rasanya ada yang kurang. Tiap tanggal 1 dan 15 tahun Cina, kalau pas hari libur, kami tak pernah lupa datang ke sini,” katanya.

Pengakuan David, ternyata dibenarkan oleh beberapa pengunjung Sanggar Agung yang lain. Seperti Juliana, 37 tahun, warga Kota Malang. Ia mengaku selalu menyempatkan diri untuk datang bersama suaminya. “Berdoa, sekaligus rekreasi bareng suami,” kata Julia sembari tersenyum.

Ya, bagi penganut Tri Dharma, Puri Sanggar Agung memang memiliki makna tersendiri. Di sinilah penganut agama Buddha, Kong Hu Cu dan Tao, bertemu dalam denyut nadi hari.

Sanggar Agung atau Hong Shan Tang diresmikan pada tahun 1999, didirikan atas prakarsa Soetiadji Yudho dengan membawa semangat spiritual umat Tri Dharma sekaligus mimpi tentang sebuah ikon kota di Surabaya.

Sejak didirikan hingga kini, banyak orang datang ke tempat peribadatan yang dibangun di sudut Pantai Ria Kenjeran, Jl Sukolilo Lor Surabaya ini. Sekadar ingin tahu, atau khusus untuk beribadah.

Menurut Freddy H. Istanto, Dekan Fakultas Teknologi dan Design di Universitas Ciputra, kompleks peribadatan di Sanggar Agung memang sangat menarik untuk dikaji. Karena design eksteriornya memiliki muatan multi kultur yang unik.

Sebagai contoh, jika dilihat dari atapnya, Sanggar Agung menggunakan perpaduan gaya Jawa yang cukup kuat. “Padahal secara umum, bangunannya bercorak Bali. Kesan ini muncul kuat jika kita melihat gapura dan ukir-ukirannya,” kata Freddy.

Ada kesan, lanjut penggagas Surabaya Heritage ini, desain Sanggar Agung sengaja membawa image rumah tradisional Indonesia agar tak terjebak pada gaya klenteng, vihara atau kuil kebanyakan, apalagi terjebak pada arsitektur negara China.

“Dalam beberapa tahun terakhir, banyak rumah peribadatan kita yang bergaya bangunan Indonesia. Masjid tak lagi bergaya Timur Tengah. Begitu juga kelenteng,” tambah Freddy.

Namun demikian, Freddy tetap melihat tradisi kuil China nampak di Sanggar Agung. “Itu sangat terasa jika melihat bulatan di pagar. Mirip bangunan di RRC,” tegas mantan Ketua Jurusan Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni dan Desain UK Petra ini.

Artinya, papar Freddy lagi, Sanggar Agung boleh disebut sebagai representasi harmoni kondisi psikologi dan budaya dari masyarakat setempat dengan umat Tri Dharma. “Dan semangat ini patut kita acungi jempol,” tandas Freddy.

Untuk Umum
Meski fungsi tempat peribadatan sangat kental, Sanggar Agung membuka diri untuk siapapun. Tentu saja, pra syarat yang wajib dipenuhi adalah ikut menjaga kesucian Sanggar Agung. Karena sebagai tempat ibadah masyarakat Tri Dharma, Sanggar Agung tak ubahnya jembatan doa bagi para dewa.

“Di sini kita bisa mengingat kebaikan-kebaikan mereka. Jadi selain berdoa iuntuk mereka, kita bisa belajar, mengenang, sehingga nantinya bisa meneladani apa yang sudah mereka lakukan,” kata seorang petugas di Sanggar Agung.

Misalnya pada Tian Kong, penguasa alam semesta yang tinggal di surga bertingkat sembilan, atau pada Guan Yin Pu Sa, Dewi Welas Asih yang memiliki seribu tangan untuk membantu umat manusia.

“Bagi mereka yang baru pertama kali datang ke Sanggar Agung, yayasan siap membantu menyediakan guide. Selain itu, kami juga menyediakan selebaran atau buku-buku panduan untuk memudahkan umat,” papar petugas yang enggan menyebutkan namanya ini.

Untuk pengunjung dari luar kota yang datang tanpa bekal peralatan sembahyang, yayasan menyiapkan sebuah kios di sayap kanan sanggar. Di sini kita bisa membeli lilin, hio, dan lain sebagainya.

Harus diakui, eksistensi Sanggar Agung memang mengundang decak kagum. Bahkan Museum Record Indonesia (MURI) yang diprakarsai Jaya Suprana, beberapa kali memberi penghargaan pada aktifitas yang dilakukan di tempat ini. Pada bulan September 2002 misalnya, penghargaan diberikan pada Soetiadji Yudho karena memprakarsai pemasangan 2000 lampion. Lalu pada 9 Nopember 2004, Sanggar Agung dapat penghargaan MURI karena memprakarsai pembuatan patung Buddha atau Dewa Empat Muka tertinggi dan terbesar di Indonesia.

Four Faces Buddha
Patung Dewa Empat Muka atau Four-Faced Buddha Monument ini berada di depan Sanggar Agung. Tinggi total bangunan suci yang pengerjaanya dilakukan sejak Juli 2003 ini, termasuk kubahnya, mencapai 36 meter.

Sementara luas lahan monumen 1,5 hektar. Tepat di bagian tengah, ditempatkan bangunan inti berukuran 9×9 meter. Sumber di PT Granting Jaya, pelaksana pembangunan monumen mengatakan, perhitungan pembangunan monumen ini banyak melibatkan angka sembilan. Karena disesuaikan dengan referensi monumen serupa di Thailand. Lagipula, ungkap sumber ini, angka sembilan memiliki arti tersendiri bagi umat Buddha.

Bangunan inti yang sekaligus jadi pusat peribadatan ini dikelilingi empat pilar berwarna hijau keemasan. Secara umum terdiri dari tiga bagian. Masing-masing stupa, patung Buddha, dan singgasana Buddha.

Stupa terletak di bagian atas dan dilengkapi dengan penangkal petir, memiliki tinggi 18 meter. Sedangkan patung Buddha dan singgasananya, memiliki tinggi masing-masing sembilan meter.

Dengan standar sepert ini, monumen Buddha Empat Muka di Kenpark jadi yang terbesar di Indonesia. Bahkan ada yang mengatakan, walau patung Four-Faced Buddha di Thailand masih jadi yang terbesar, tapi secara umum, Four-Faced Buddha di Kenpark jadi yang terbesar.

Sisi unik lainnya yang bisa ditemui di kompleks monumen, kita bisa melihat patung empat wajah dan empat pasang tangan ini ternyata juga dilapisi emas 22 karat di seluruh bagian tubuh.

Sumber EastJava Traveler yang sempat memantau proses pembangunan patung ini mengatakan, untuk menyempurnakan proses pelapisan emas, Granting Jaya dan Sanggar Agung sengaja mendatangkan bahan kampoh atau kertas emas (ada yang menyebut kertas kimpo, Red) asli Thailand. Lengkap dengan tukangnya, biaya pelapisan atau ritual pemberian jubah ini mencapai Rp 1,5 miliar.

Patung Dewa Empat Muka, ada juga yang menyebut sebagai Dewa Catur Muka, membawa filosofi empat kebaikan yang dimiliki Buddha. Yaitu welas asih, murah hati, adil (tidak memihak), dan meditasi. Jika diartikan secara keseluruhan, Buddha adalah wujud kasih sayang sesama manusia, membantu siapapun tanpa diskriminasi, dan setia dalam doa atau permohonan yang disampaikan dalam prosesi ritual.

Sementara di delapan tangan Buddha, ada kitab suci, air suci, senjata pertahanan, senjata melawan kejahatan, buku kitab suci, tasbih, dada, dan cupu.

Patung Dewa Empat Muka dikelilingi taman berhias bunga dan empat patung gajah putih bertinggi sekitar 4 meter di setiap sudut. Ada pula tiga kolam yang dihiasi bunga teratai, dan sebuah ruang meditasi. Kompleks patung Buddha raksasa ini juga dihiasi 12 lampu yang terbuat dari perunggu dan tembaga.

Dengan catatan seperti ini, tak berlebihan jika peresmiannya pada 9 Nopember 2004 lalu dihadiri oleh sejumlah tokoh penting. Termasuk petinggi agama seperti Viryanadi Mahatera, Phrarajkhru Sivacharaya (dari Thailand), dan Gede Anom Jala Karana Manuaba.

Kini, Four-Faced Buddha di Kenpark masih mencuri perhatian masyarakat dari seluruh belahan dunia. Catatan pengelola Kenpark menyebut, tiap hari, tak kurang dari 50 pengunjung datang ke Sanggar Agung. Bahkan pada hari libur dan hari suci umat Tri Dharma, jumlah ini bisa membengkak jadi ribuan. Sebagian besar datang untuk bersembahyang, selebihnya hanya jalan-jalan menikmati keindahan tempat ibadah ini.

naskah : hendro d. Laksono | foto : wt atmojo