Tak banyak disebut, tak banyak dilirik. Padahal candi peninggalan Majapahit ini menyimpan banyak kisi. Di antaranya mitos tentang singa dan dongeng Sri Tanjung.

Seperti kawasan wisata sejarah yang lain, Candi Jabung juga terbilang sepi pengunjung. Ketika eastjavatraveler.com bertandang ke candi yang terletak di Desa Jabung, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, atau 45 menit perjalanan arah timur dari kota Probolinggo itu, suasana nampak lengang. Sementara Candi Jabung yang berdiri megah, tak ubahnya raksasa merah bata yang duduk bersimpuh. Menikmati sepi, atau sedang memanjatkan doa.

Hanya nampak beberapa anak muda, yang justru memilih nongkrong di sebuah warung di dekat candi. Mungkin karena panas matahari yang terasa menyengat, mungkin karena sedang ingin menikmati Candi Jabung dari sisi selatan.

Di sekitar kompleks bangunan candi, pepohonan berdiri asri. Tak jauh di sisi barat, hamparan kebun tembakau menambah padan suasana. Bahkan jika kita berdiri di sisi utara Candi Menara Sudut, candi kecil yang ada di sisi sebelah barat daya Candi Jabung, kita bakal melihat beberapa pohon maja, hamparan sawah, dan pegunungan yang indah.

Memang, Candi Jabung tidak berdiri sendiri. Diperkirakan, Candi Menara Sudut dulunya menjadi penjuru pagar. Fungsinya sebagai pelengkap bangunan induk Candi Jabung. Tak berbeda dengan Candi Jabung, Candi Menara Sudut juga disusun dari bahan batu bata. Hanya saja, bangunan candi ini memiliki ukuran di tiap sisi sekitar 2,6 meter, dan tingginya mencapai enam meter.

Bandingkan dengan Candi Jabung yang meski sama-sama terbuat dari batu bata, ukuran panjangnya mencapai 13,13 meter, lebar 9,6 meter dan tinggi 16,2 meter. Luas tanah yang digunakan sebagai kompleks candi, diperkirakan memiliki panjang dan lebar 40 meter dan 35 meter.

Sayang, candi yang terletak di ketinggian delapan meter di atas permukaan laut ini ditemukan dalam kondisi rusak cukup parah. Sehingga proses rekonstruksi dalam pemugaran fisik candi pada tahun 1983-1987 tak melahirkan performa yang sempurna.

Sumber eastjavatraveler.com di tempat ini mengatakan, jika tangga di pintu utama candi berkesan tak jelas bentuknya, lebih banyak karena alasan informasi yang terbatas. Ketika dilakukan pemugaran, tim tidak memiliki gambaran tangga aslinya seperti apa. Jadi dibiarkan begitu saja. Daripada salah.

Disebutkan, pemugaran itu dilakukan oleh tim Proyek Pemugaran dan Pemeliharaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Timur yang dipimpin oleh Drs. R. Prajoga Kartamihardja.

Peneliti Asing
Walau Candi Jabung tak sepopuler candi Majapahit lain, seperti yang ada di Trowulan dan Panataran (Blitar), namun keberadaan candi ini tetap mengundang rasa ingin tahu. Tidak hanya wisatawan lokal, tapi juga yang datang dari seberang.

Berdasar catatan yang ada, pengunjung candi ini ada yang datang dari Korea, Belanda, Perancis, Swiss, dan masih banyak lagi. Di tempat ini, mereka ada yang sekadar jalan-jalan, ada juga yang datang untuk melakukan penelitian.

Untuk wisatawan lokal, jumlah pengunjung di kisaran 400-an orang per bulan. Tapi pada saat liburan, jumlahnya bisa membengkak jadi 12 ribu orang per bulan. “Jumlah pengunjung memang sangat sedikit. Karena Candi Jabung hanya diposisikan sebagai aset wisata, bukan aset wisata yang sekaligus difungsikan sebagai tempat ibadah,” ujar warga sekitar candi.

Bagi masyarakat Desa Jabung, Paiton, candi ini jadi kebanggan tersendiri. Artijan mengaku, walau tak ada dorongan khusus, warga secara sukarela mau menjaga keutuhan candi. Sehingga, sejak pemugaran dulu hingga kini, Candi Jabung jauh dari sentuhan kisah nyinyir. Tak ada perusakan, apalagi pencurian.

Dulu, masyarakat sekitar sering menemukan benda purba di sekitar Candi Jabung. Seperti makara dari batu yang kini sudah disimpan di Trowulan, cangkir, piring, dan kepingan uang logam dengan lobang persegi empat di bagian tengah. (hendro d. laksono, diolah dari berbagai sumber | foto : crisco 1492, wikimedia.org)