Sebuah gulungan kertas dikeluarkan dari tas hitam berbentuk tabung. Pelan-pelan, gulungan tersebut digelar di lantai. Dua batang bambu berwara hitam dengan garis-garis putih adalah gambar pertama yang terlihat. Ukuran kertasnya memang paling panjang dari yang lain dengan hampir dua meter.

Tampak dari lukisan itu, seorang anak bermain egrang dari bambu. Ada beberapa kertas lain yang digulung bersama lukisan egrang tersebut. Ukurannya berbeda-beda. Bermacam lukisan telah digoreskan di atas kertas-kertas itu. Bunga lotus, pemandangan alam khas cina dengan objek utama lima gunung, burung merak juga anak-anak bermain dakon terlukis di sana secara monokrom. Hitam putih.

Lukisan-lukisan tersebut merupakan karya Bernadette Godeliva Fabiola Natasha. Pelukis tinta cina sekaligus dosen Grapic Desain di LaSalle Collage, Surabaya. Pemilihan tinta cina sebagai bahan dasar lukisan inilah yang membuat lukisan-lukisan Faby, sapaan akrabnya, didominasi warna hitam-putih.

Meski telah menghasilkan banyak karya, Faby mengaku awalnya tidak berniat menjadi pelukis. Ia memang senang menggambar sejak kecil. Bahkan, ketika berusia lima tahun, ia sudah menggambar dengan cat air dan akrilik. “Tapi orang tua gak ngebolehin jadi pelukis. Makanya juga gak pernah kursus lukis. Bagi mereka, seni ya seni. Sekadar hobi saja,” kenang Feby sambil tertawa kecil.

Ia pun kemudian hanya melukis jika sedang ingin melepas stres atau kangen, saja. Itu pun masih menggunakan akrilik, bukan tinta cina. Faby, baru berkenalan dengan lukisan tinta cina di tahun 2010. Berawal dari kebiasaannya membaca literatur cina tentang filosofi dan meditasi, ia menemukan berbagai referensi tentang lukisan menggunakan tinta cina.

Di cina, menurutnya melukis bukan sekadar kegiatan seni, tetapi juga media untuk meditasi dan healing. Setelah itu, ia mulai tertarik dan belajar lukisan cina secara autodidak. Berbekal video dari youtube, ia mulai dengan menggambar dasar-dasar lukisan cina.

“Kira-kira setengah tahun saya hanya menggambar empat model saja. Plum, orchid, bambu, dan chrysanthemum. Itu empat dasar belajar lukisan cina,” terang pelukis yang menyematkan nama Kaze Kazumi di setiap lukisannya tersebut.

Kesederhanaan lukisan cina yang dominan dengan warna hitam-putih menjadi salah satu alasan Faby mantab menekuninya. Selain itu, lukisan cina memiliki banyak filosofi. Sehingga, seorang pelukis tidak hanya sekadar menggambar tapi juga harus bisa memberikan makna. Menurutnya, hal ini memberikan tantangan lebih bagi dirinya.

Berbeda dengan lukisan cat air atau akrilik misalnya, yang bisa diulangi atau ditambal ketika salah membuat goresan. Melukis dengan tinta cina tidak bisa. Sekali membuat goresan, tinta akan langsung kering. Sehingga, diperlukan kepekaan yang tinggi ketika melukis. Suasana hati pelukis pun sangat berpengaruh pada goresan yang dibuat. Karenanya, hanya ada dua pilihan ketika salah menggores tinta; melakukan improvisasi, atau membuangnya.

“Dari prosesnya saja, sudah ada nilai filosofis yang bisa diambil. Ini menurut saya. Bahwa melukis dengan tinta cina ini seperti mnjalani hidup. Sekali melakukan kesalahan, tidak ada jalan kembali,” tambahnya.

Bagi Faby, melukis memang bukan sekadar membuat gambar. Tetapi memberikan makna pada sebuah karya, juga cara bagi dia untuk melakukan meditasi, meluapkan perasaan dan emosi serta penyembuhan diri. (mfr)