Apa yang Anda bayangkan ketika diajak berkunjung ke desa bernama Pocong? Sebuah desa seram yang dipenuhi hantu pocong, kah? Jika benar, maka bersiaplah untuk kecewa. Karena, kecuali jika memang ada pocong yang sedang iseng, anda tidak akan menemukan hantu di sana.

Suasana menyeramkan, mungkin akan anda temui. Sebab, sebagian besar wilayah desa yang berada di wilayah administrasi Kecamatan Tragah, Bangkalan ini masih berupa sawah dan lahan kosong yang ditumbuhi berbagai macam pohon. Sedang daerah perkampungannya, berada di tengah persawahan. Jauh dari jalan utama.

Memang ada beberapa rumor yang menyebutkan bahwa asal-muasal nama Desa Pocong lekat dengan kejadian mistis. Dikisahkan, ketika desa ini masih berupa hutan belantara dan belum banyak penghuni, ada hantu pocong yang muncul setiap hari. Kejadian ini berlangsung selama 40 hari berturut-turut, sehingga desa ini kemudian diberi nama Desa Pocong.

Namun, kisah ini diragukan kebenarannya. Menurut Masduki, Carik Desa Pocong, para tetua desa tidak pernah menghubungkan sejarah desa dengan kehadiran hantu tersebut. Dari cerita lisan yang dikisahkan turun-temurun, konon, nama pocong diambil dari sebuah cerita munculnya sumber air pertama.

Seperti yang dikisahkan Dwi Ratno Varianto, guru SDN Pocong, dulu ada sebuah pohon pucang yang dari bawahnya keluar air. Dari hari ke hari, air tersebut tidak juga berhenti mengalir dan meluas, sampai akhirnya menjadi sumber air. Sumber tersebut kemudian dikenal dengan sebutan sumber pucang. Daerah sekitar sumber, kemudian dikenal dengan nama Desa Pucang.

“Awalnya disebut desa pucang. Lambat-laun, berubah menjadi pocong. Orang Madura, kan biasa begitu. Ambil mudahnya,” jelas warga asli Pocong ini sambal terkekeh.

Masih menurut Dwi, Desa Pocong juga masuk sebagai desa tertua di Madura. Dari kisah legenda yang beredar, warga percaya bahwa nama Desa Pocong, sudah ada bahkan sebelum Sumenep, Sampang atau Bangkalan sendiri. Pasalnya, mereka percaya bahwa sejarah Desa Pocong, berkaitan erar dengan legenda Ke’ Lessap; legenda pemberontak yang paling mashur di Madura.

Ini terbukti dari sudah di kenalnya Nyai Pocong sebagai salah satu selir Raja Pangeran Cakraningrat IV (versi lain megatakan Cakraningrat III). Penguasa kerajaan di wilayah yang kini dikenl dengan nama Bangkalan.

Nyi pocong adalah ibu dari Ke’ Lessap, seorang pangeran yang terbuang. Meski lahir sebagai anak selir, Ke’ Lessap ternyata tidak mendapat pengakuan dari ayahnya. Bahkan, alih-alih mendapat penghormatan sebagai pangeran, ia dijadikan juru rawat kuda istana. Merasa terhina dan tak diakui, ia kemudian bertapa untuk mendapat kesaktian.

Usahanya tak sia-sia. Ia kemudian mendapat pusaka berupa calok (golok) bernama Kodhi Crancang. Berbekal pusaka tersebut, Ke’ Lessap kemudian melakukan pemberontakan. Ia memulai dengan menguasai ujung timur Pulau Madura. Daerah yang kemudian dikenal dengan nama Sumenep atau dulunya Songennep. Berasal dari kata Moso (Musuh) dan Ngenep (Menginap) atau tempat musuh menginap. Sebab, ketika menguasai wilayah tersebut, Le’ Kessap sempat menginap di sana.

Begitu pula dengan nama Pamekasan, yang berasal dari Mekasan atau pesan peringatan yang dikirim Ke’ Lessap sebelum menguasai wilayah yang ada di barat Sumenep tersebut. Sedangkan nama Sampang berasal dari kata nyimpang. Kata yang diambil dari tindakan Ke’ Lessap membelokkan arah pasukannya untuk menghindari sergapan Pasukan Adipati Adikoro IV. Utusan ayah Ke’ Lessap.

Dan nama Bangkalan, berasal dari kata bengkah laan artinya, mati sudah. Diambil dari peristiwa ketika raja menyerukan kata bengkah laan berulang-ulang setelah matinya Ke’ Lessap. “Yang benar yang mana, kami juga gak tau. Tetapi yang pasti, Desa Paocong ini sudah lama sekali. jadi susah juga ditelusuri,” tutup Dwi. (hay, tur)