Benang dan jarum yang notabene dipakai untuk menjahit baju. Bila berada di tangan-tangan kreatif, bahan-bahan ini mampu dikreasikan menjadi karya seni kaligrafi tiga dimensi yang bernilai tinggi.

Ketelitian dan kesabaran memang dibutuhkan dalam membuat kerajinan yang satu ini, apalagi hal ini bersentuhan langsung dengan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Ketelitian dalam setiap pembentukan pola sangat diperlukan untuk menghasilkan seni kaligrafi yang tak salah ejaan, sekaligus enak dipandang.

Kaligrafi yang dihasilkan oleh pasangan suami istri, Mustafa Hadi (39) dan Lila Lestari (37) tersebut tergolong unik dan berbeda dari kaligrafi kebanyakan. Jarum pentul dan benang mamilon menjadi bahan utama pembuatan kaligrafi yang dikerjakannya tanpa bantuan mesin, hanya mengandalkan tangan-tangan terampil para pekerja.

“Awalnya kita membuat kaligrafi berbahan mika, namun karena krisis ekonomi yang menerpa Indonesia tahun 1998, dampaknya harga mika melambung tinggi. Akhirnya kita cari alternatif bahan lain, yang inovatif sekaligus murah, maka ketemu lah jarum pentul dan benang mamilon,” terang Mustafa sembari menunjukkan koleksi benang mamilon miliknya.

Menurut pria yang pernah mengenyam pendidikan di Universitas Al-Azhar Kairo ini, membuat kaligrafi berbahan jarum pentul dan benang mamilon diakui memang cukup rumit, dibutuhkan ketelatenan dan kesabaran. Dari tahap awal hingga finishing satu kaligrafi berukuran besar dibutuhkan waktu hingga empat hari. Bisa saja satu kaligrafi selesai hanya dalam waktu satu minggu, bila sedikitnya dikerjakan oleh tiga orang untuk tiap kaligrafi.

Untuk memenuhi pesanan tersebut, Mustafa dan istrinya dibantu 47 orang karyawan, 30 diantaranya sebagai pekerja borongan yang tak lain adalah tetangganya yang tinggal di kawasan Bulak Rukem, Surabaya.

Awal pembuatan kaligrafi dilakukan dengan menggambar pola, lantas pola tadi dipertegas dengan jarum pentul, baru setelah itu disulam dengan benang mamilon. Satu per satu jarum yang sudah dibentuk pola huruf Arab harus saling dikaitkan dengan benang. Saat penyulaman dari satu jarum pentul ke jarum pentul lain inilah yang membutuhkan kesabaran dan ketelatenan.

Diakui Mustafa, jelang Ramadhan home industry yang berlokasi di jalan Bulak Rukem 2 nomor 17, Surabaya ini, terus menuai banyak pesanan. Jika pada hari-hari biasa home industry tersebut mampu memproduksi 16 kaligrafi setiap bulan, sejak mendekati Ramadhan produksinya meningkat hingga dua kali lipat.

Kaligrafi yang dihasilkan memiliki ragam ukuran, mulai dari yang terkecil 30×30 centimenter hingga yang terbesar berukuran 92×122 centimeter. Dengan ragam tulisan yang dihasilkan antara lain Asmaul Husna, Ayat Kursi, Shalawat Fatih hingga Ayat Seribu (1000) Dinar, serta masih banyak lagi yang lain.

Sampai detik ini, kerajinan hasil tangan-tangan terampil sebagian warga Bulak Rukem Surabaya ini, selain merengkuh pasar di kabupaten-kota di Jawa Timur. Jakarta, Padang, Riau, Batam, Kalimantan bahkan negeri Jiran Malaysia tak luput menjadi pangsa pasar kerajinan kaligrafi bernama el Baraka ini.

naskah dan foto : rangga yudhistira