Lelaki itu bernama Rahmad. Berperawakan sedang, tangannya legam, berambut keriting kemerahan. Tahun ini usianya 18 tahun. Masih muda. Namun bicara pengalaman, ia sudah kenal ombak setinggi pohon kelapa, tangis pilu orang-orang yang jauh dari rumah, bahkan bertaruh nyawa bersama para pengembara samudra.

“Lusa saya berangkat ke Kalimantan Timur. Stok barang di kapal sudah penuh, tinggal diangkut,” ujarnya. Kebetulan ada beberapa pedagang di Samarinda yang butuh barang buat toko kelontong dan sembako. Jika semua lancar, uang Rp 1,5 juta sudah menunggu dirinya di sana.

Rahmad, hanya segelintir orang yang rela menyandarkan harapan di pelabuhan ini. Selebihnya, puluhan orang ikut datang dan berdendang di Pelabuhan Kalimas. Bongkar muat barang, berburu bekal, dan bersiap membelah lautan.

Pemandangan ini juga yang kemudian jadi daya tarik Pelabuhan Kalimas. Semangat para pekerja bongkar muat barang, atau kapal-kapal tongkang yang berjajar bersama perahu lainnya. Etalase itu terasa kian mengkilap saat angan melayang ke masa lalu, saat Surabaya masih dikuasai kolonialisme Belanda.

Di banyak tempat, Surabaya berhias bangunan dengan gaya Eropa. Bentuk jendela, pintu, bahkan sirkulasi udara. Logika ala Belanda juga muncul di transportasinya. Selain mengandalkan jalan darat, Surabaya terasa hidup gara-gara transportasi air.

Di sungai dan saluran air yang membelah kota, beberapa kanal kecil berdiri. Tiap hari, kanal-kanal ini ramai dipadati lalu lintas orang yang ingin bepergian. Tak lupa, teriakan mandor dan kuli yang sibuk bongkar muat barang.

Eksistensi kanal-kanal ini kemudian adu kecantikan bareng jembatan gantung dan ophaalburg (jembatan yang bisa terbuka dan menutup untuk lintasan perahu, red). Saat itu kondisinya memang masih memungkinkan bagi kapal-kapal dagang berukuran besar untuk menjelajah tengah kota. Karena sungai-sungai yang ada memiliki tingkat kedalaman yang cukup mendukung. Airnya bersih, tak ada pendangkalan gara-gara jejalan sampah.

Surabaya Lama
Bicara Pelabuhan Kalimas, jelas tak bisa meninggalkan sejarah panjang Surabaya. Kota perdagangan yang berkembang dari sisi utara, tepatnya kawasan Heeresentraat, sekarang kawasan Jl Rajawali dan Kembang Jepun. Konon, ketika lalulintas air masih jadi media transportasi umum, setiap saat bersliweran kapal-kapal kecil yang memuat dan menurunkan barang di tepi Kalimas. Banyak yang menyebut, dulu ada sebuah pelabuhan utama di tengah Surabaya.

Jalur yang menhubungkan Rajawali dan Kembang Jepun, dikenal sebagai Roode Brug atau Jembatan Merah. Sebuah sumber menyebut, pada saat itu, Suabaya masih belum kenal dengan Pelabuhan Tanjung Perak. Pelabuhan yang ada dkenal dengan nama Pelabuhan Muara Kalimas.

Sungainya yang jernih dan segar pada saat itu, oleh Dukut Imam Widodo disdeskripsikan dengan kalimat, “Kala itu air Kalimas begitu jernih dan bersih. Batu-batu yang ada di dasar sungai itu sampai kelihatan. Sinar matahari pun bisa menembus hingga ke dasar sungai”.

Kalimas membelah Surabaya sisi utara menjadi dua bagian, masing-masing dikenal dengan nama Westerkade Kalimas (sebelah Barat Kalimas) dan Osterkade Kalimas (sebelah Timur Kalimas). Lidah orang Surabaya menyebut, daerah kulon kali dan wetan kali.

Sisi wetan merupakan ranah surga bagi para pedagang. Karena di sini, berkembang sentra-sentra perdagangan seperti Kembang Jepun, Cantikan, Kapasan, Pegirian, Nyamplungan dan seterusnya.

Pada tahun 1925, disepanjang sungai Kalimas, banyak berdiri pabrik-pabrik yang sekaligus jadi pembangkit sektor industri Surabaya. Tiap waku, di depan pabrik-pabrik ini, berjajar perahu-perahu angkut kecil yang kelak bertugas mendistribusikan produk pabrik, atau malah membawanya ke Muara Kalimas.

Sebuah catatan menyebutkan, aktivitas pelabuhan Kalimas sempat masuk di masa jaya pada kurun waktu 1870 hingga 1930-an. Pada saat itu, kapal layar yang datang untuk bngkar muat bisa mencapai lebih dari 300 kapal. Sementara pada tahun 1930, menurun separuhnya. Dan kini, tingal di kisaran puluhan kapal, itupun yang memiliki kapasitas angkut tak lebih dari 250 ton. Artinya menjelang dan sesudah tahun 1930, ada fase penurunan fungsi yang cukup signifikan.

Besar kemungkinan, penurunan aktivitas pelabuhan Kalimas merupakan imbas dari pembangunan dan pengembangan Pelabuhan Tanjung Perak yang dimulai pada tahun 1910. Inisiatif pembangunan Pelabuhan Tanjung Perak muncul karena seiring waktu, Pelabuhan Kalimas dinilai tidak dapat menampung semua kapal yang bersandar. Karena pada saat itu, perdagangan dan hasil komoditi berkembang pesat, sehingga dibutuhkan pelabuhan baru yang lebih luas.

Data lain menyebutkan, merosotnya aktifitas bongkar-muat barang paling banyak di sektor kayu Kalimantan. Konon, ketatnya izin masuk kayu melalui Pelabuhan Kalimas membuat pusing sejmlah saudagar kayu yang biasa mengunakan jalur masuk Pelabuhan Kalimas. “Sekarang para saudagar ini lebih suka lewat Gresik. Yang lebih longgar perizinannya,” bisik sebuah sumber yang neggan menyebutkan namanya.

Ngintip Phinisi
Pengembangan Pelabuhan Tradisional Kalimas sebagai sebuah aset wisata, tak lepas dari peran dan kebijakan revitalisasi yang digagas PT (Persero) Pelabuhan Indonesia (Pelindo) III Surabaya bersama Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya.

Potensi yang ada meliputi fungsi Pelabuhan Kalimas yang sampai saat ini masih jadi pusat kegiatan kapal-kapal rakyat untuk bongkar-muat barang dari Surabaya ke pelabuhan lain di pulau-pulau lain di Indonesia. Wisatawan juga diajak untuk melihat dari jarak dekat, bagaimana proses distribusi barang kebutuhan pokok dan general cargo lain, macam karet, rotan, kayu, dan lain-lain, yang datang dari Kalimantan dan Sumatera.

Uniknya, sebagian kapal-kapal yang ada di Pelabuhan Kalimas masih menggunakan jenis phinisi. Dan alat untuk mengangkut barang untuk mempermudah transportasi berasal dari jenis gerobak.

Di sisi lain, Pelabuhan Kalimas juga jadi etalase yang menawan. Karena area pelabuhan yang memiliki luas lahan sebesar 30 hektar dengan panjang dermaga 2.200 meter ini, menyimpan gudang-gudang fungsional sebanyak 20 unit. Dinataranya, sudah berusia lebih dari seratus tahun. Selain itu, hal lain yang bisa dinikmati adalah kolam sedalam 2-3 meter dan lebar kolam 50-130 meter.

Untuk menuju ke lokasi pelabuhan yang terletak di antara Pelabuhan Tanjung Perak dan Markas Komando Armada RI Kawasan Timur ini sangat gampang. Karena lokasinya berada tak jauh dari kawasan-kawasan populer di Surabaya, seperti Tugu Pahlawan, Jembatan Merah, atau Masjid Ampel. Jarak tempuh dari tengah kota hanya 30 menit ke arah utara, menuju Jalan Kalimas.

foto : dok indonesiaimages.net