Geliat batik garapan IKM Batik Ciprat mulai dikenal oleh masyarakat luas. Terlebih Batik Ciprat ternyata dikerjakan oleh penyandang disabilitas, sehingga mendapat apresiasi dari berbagai kalangan.

Bahkan pada Pameran Batik dan Bordir 2018 di Grand City Surabaya, 9 hingga 13 Mei 2018 lalu, IKM Batik Ciprat meraih juara tiga untuk kategori stand terbaik. “Melalui pameran yang telah diikuti, harus dilakukan evaluasi untuk memperbaiki kekurangan. Sehingga produk IKM mampu berdaya saing,” ujar Hj. Ninik Rijanto, Ketua Deskranasda sekaligus Ketua TP PKK Kabupaten Blitar, saat membuka kegiatan pembinaan Deskranasda IKM Batik Ciprat, Kamis (7/6/2018).

“Ini menjadi spirit untuk makin berinovasi. Dan Pemerintah Kabupaten Blitar melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan akan terus melakukan pendampingan, sehingga hasil karya mereka semakin dikenal,” janji Ninik.

Menanggapi hal ini, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Blitar, Puguh Imam Susanto, S.Sos, M.Si mengatakan, pembinan kepada IKM merupakan program rutin tahunan oleh Disperidag.

“Untuk memperluas akses pasar, IKM Kabupaten Blitar bekerjasama dengan BUMD Provinsi Jawa Timur, diantaranya melalui keikutsertaan pameran, misi dagang, Pasar Induk Agro, dan kegiatan lainnya,” papar Puguh.

Di luar itu, tentu saja, juga mengikuti pelatihan packing, pemasaran online dan ekspor untuk menjamin kualitas serta peningkatan pemasarannya.

Dijelaskan pula, pihaknya saat ini sedang proses mematenkan batik yang diproduksi oleh IKM Blitar. Mengingat animo masyarakat terkait Batik Blitar termasuk Batik Ciprat sangat besar. Bahkan Bupati Blitar menyerukan agar ASN di Kabupaten Blitar menggunakan batik khas Kabupaten Blitar.

“Ini sebagai bentuk aplikasi ‘Ayo Bela Beli Produk Blitar’. Selain itu, melalui duta wisata juga turut mempromosikan batik khas Kabupaten Blitar. Di antaranya tanggal 30 Juni-1 Juli 2018 akan ada Duta Batik yang notabene menggunakan batik khas Kabupaten Blitar,” jelas Puguh lagi. (sp/edwin r | foto : istimewa)