Di tengah bentuk budaya yang kian heterogen, seni pertunjukan tradisional ini muncul dengan paduan keindahan.

Dua puluh penari naik ke atas panggung, sembari kedua tangannya tak henti mengibaskan selendang berwarna kuning. Gerak tangan, lenggang kaki, dan lirikan mata dari mereka mengawali sebuah pertunjukan malam itu.

Penari-penari itu membawakan tari remo dan tari jejer asal Banyuwangi. Belum lagi tari kiprah gelipang dan tari kuntulan. Keduanya menggambarkan sebuah masyarakat yang religius.

Seiring dengannya iringan musik perkusi terdengar rancak selaras dengan gerak penari. Gamelan, gong, selompret, dan beberapa alat musik lain saling bersahutan. Musik pembuka ini menceriterakan tentang kedinamisan masyarakat Jawa Timur.

Kedinamisan masyarakat Jatim dalam memiliki aspek berbudaya, dan dalam menyikapi segala sesuatu. Membawa esensi Indonesia kaya akan budaya yang berbeda-beda dan didukung dengan keunikannya. Terlebih bagi masyarakat kita dalam bertindak saat menerima pesan yang berhubungan dengan budaya. Misal saja di Jatim ini.

Sehingga keragaman dalam budaya di Jatim cukup komplek, dan patut bagi penggiat seni dan budaya untuk berusaha menyatukannya menjadi sebuah keindahan.

Memang, bicara kebudayaan Jatim bisa dibilang cukup banyak. Mulai dari tari remo, jejer, kuntulan, sparkling Surabaya, mongde Nganjuk, dan masih banyak lainnya. Yang mana masing-masing mewakili identitas setiap daerah yang ada di propinsi ini.

Dari hal itu, hingga akhirnya muncul beberapa inisiatif untuk menyatukan sebuah adegan pertunjukan baru. Dimana cerita-cerita itu dibuat sedemikian rupa dan nampak indah. Hingga menghasilkan komposisi yang pas akan identitas keragaman budaya Jawa Timuran.

Terilhami dari beberapa hal itulah, tak beberapa lama lalu lahirlah sebuah seni pertunjukan tradisional bergaya kreasi baru. Kuwung wetan namanya.

Pelangi dari Timur
Sebuah Pagelaran seni pertunjukan yang menggambarkan keindahan keberagaman budaya di Propinsi Jawa Timur, yang menyatu dalam sebuah harmonisasi bunyi, nyanyian dan tarian sebagai produk alkulturasi budaya timur.

Inilah yang dapat membangun sebuah sikap terbuka, ramah, religi dan menguntai semangat solidaritas yang tinggi. Khususnya bagi masyarakat kita.

Itulah bagian dari balik cerita kesenian pertunjukan tradisional Kuwung Wetan. Seni pertunjukan ini boleh dibilang masih baru. Dan, didalamnya mencoba memberikan kedekatan multi disiplin, lebih pada keutuhan gerak, tari, dan teater tradisional.Seperti yang terlihat dari pagelaran di atas panggung. Yang mana ada beberapa seni unggulan, antara lain Reyog Ponorogo, Singo Ulung Bondowoso, Tari Jejer Banyuwangi, Jepaplok Kediri, Tari Remo, Tari Kuntulan, dan Tari Kiprah Gelipang.

Diiringi musik perkusi kramat percussion ensamble dari Pamekasan, Madura, sejumlah 20 penari masuk disusul kemudian singo ulung, reyog, barong osing, dan jepaplok. Pagelaran pun siap dimulai. Penonton bersorak menyambut sebuah pertunjukan apik dan masih baru ini. Lengkap dengan bermacam-macam seni budaya dari beberapa daerah yang ada di Jatim.

Menurut Heri ‘Lentho’ Prasetyo, penggagas karya tari Kuwung Wetan pada EastJava Traveler mengatakan, jika dalam sebuah pertunjukan kuwung wetan secara umum memakan waktu selama lebih kurang 25 menit saja. “Tapi waktu itu bisa lebih lama tergantung permintaan dan kondisi,” imbuh ketua bidang Program Dewan Kesenian Jawa Timur ini.

Lebih lanjut Heri Lentho menjelaskan bila kuwung wetan, adalah sebuah pertunjukan yang mengangkat kesenian-kesenian potensial di wilayah Jatim. Misal saja gerak tari osing yang diwakili tari jejer, tari kuntulan sebuah budaya Madura pendalungan maupun Madura kepulauan, seperti yang diwakili dengan kesenian perkusi Pamekasan,singo ulung Bondowoso.

Sedangkan unsur kebudayaan dari wilayah arek. Ada tari remo, dan di wilayah mataraman ada tari jepaplok dari Kediri, reyog dari Ponorogo. Dan masih banyak lainnya.

Lantas, apa arti dari kuwung wetan sendiri? Dari penjelasan Heri Lentho, kuwung wetan berasal dari kata Kuwung yang artinya pelangi, dan wetan yang berarti timur. Dari sini jelas, kalau arti penjabaran dari kuwung wetan bermakna sebuah perpaduan budaya yang ada dari timur atau Jawa Timur.

Hal ini terkait dari sejarah awal terciptanya tari kuwung wetan. Menurut cerita dari Heri Lentho ide menciptakan tari ini, adalah bermula atas pengamatan dirinya sebagai pengamat seni dan budaya di Jatim. “Sering kita ketahui kesenian ataupun kebudayaan dari berbagai daerah di Jatim, yang mereka semua membawakan unsur keindahan dari daerahnya masing-masing,” ujarnya.

Sehingga, dari sekian banyaknya menjadi inisiatif dirinya yang menggagasnya bersama Budianto, Kepala Dinas Kebudayaan dan pariwisata Kabupaten Banyuwangi untuk melahirkan kuwung wetan.

“Ya, lebih tepatnya kuwung wetan bisa disebut sebagai perpaduan dari berbagai unsur kebudayaan yang ada di Jatim. Dan semua melebur menjadi satu di sini hingga nampak indah dinikmati sebagai kreasi baru,” papar pria kelahiran Malang, 13 Mei 1967 itu.

Akulturasi Budaya
Kuwung wetan yang didukung lengkap dari banyaknya kesenian yang ada di Jatim. Membuat seni ini sangat pas dikategorikan sebagai perpaduan budaya, atau sebuah akulturasi budaya di tengah heterogennya jaman.

Ini dibenarkan dengan pernyataan dari Heri Lentho. Baginya kuwung wetan adalah sebuah akulturasi budaya yang telah tercipta. Sehingga kini ada lagi yang patut dibanggakan di Jatim.

“Bila ada yang bertanya kesenian yang menggambarkan keberagaman kebudayaan di Jatim, cukup beragam.

Alhasil, kuwung wetan yang mengusung keberagaman budaya Jatim sejak awal terlahir hingga sekarang mampu menggebrak. Terbukti dengan telah ditampilkannya kesenian ini di beberapa even.

Seperti di peringatan hari jadi Jawa Timur tahun 2007 di halaman Grahadi Surabaya, grand final duta penari Jawa Timur 2007, ballroom Mercure Hotel Surabaya, opening Majapahit Travel Fair Gramedia Expo Surabaya, tari pembukaan peringatan Hari Nusantara di Pelabuhan Gresik pada tahun 2008, peringatan hari pers nasional di Senayan tennis indoor Jakarta pada tahun 2008, dan masih banyak dibeberapa kesempatan lainnya.

naskah : m.ridlo’i | foto : wt atmojo, dok.heri lentho