Manik-manik dari kaca yang diproduksi penduduk Plumbon, Desa Gambang, Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, sempat merajai pasar di Bali. Para pelaku usaha mengaku sempat kewalahan memenuhi pesanan para pengepul di Bali, sebelum akhirnya datang barang sejenis dari Cina yang harganya lebih murah dan produksinya tak jauh beda bentuk dan kualitasnya.

“Pengepul yang ada di Bali sempat menghentikan pesanan dan saya dengar sedang pergi ke China. Saya sempat berpikir pengepul itu sedang membuka pasar di China, tapi yang terjadi malah sebaliknya, ia mendatangkan manik-manik dari Cina langsung,” ujar Achmad pemilik usaha manik-manik di Desa Ngambang.

Apa yang dialami Achmad ternyata juga dialami para pengusaha manik-manik yang lain. Padahal dulu sewaktu usaha ini masih ramai, setiap minggunya mereka bisa mengirim manik-manik yang kebanyakan berbentuk gelang, kalung, dan sejenisnya ini sampai beberapa kardus. Omzet mereka perbulannya bisa mencapai Rp 10 juta sampai 50 juta, tergantung besar kecil usahanya.

Manik-manik dari Cina katanya bukan produksi tangan seperti dari Jombang, namun dibuat mesin. Meski begitu, bentuknya sama persis. Karena hasil mesin, mereka bisa lebih banyak dalam jumlah produksi dan yang lebih mengherankan, mereka bisa menjual lebih murah daripada hasil kerajinan manik-manik dari Jombang.

“Mungkin mereka mendapatkan subsidi dari pemerintahannya dan dipermudah dalam urusan eksportnya,” duga salah seorang pegerajin manik-manik di desa ini, yang sedang berusaha mencari pasar lain selain Bali. Meski beberapa pengusaha manik-manik masih rutin mengirim barang-barang ke Bali, tapi Bali sekarang bukan tujuan utama hasil produksi mereka.

Achmad sendiri, selain pasar Bali yang kurang banyak, ia kini rutin mengirim hasil kerajinannya ke Jakarta dan Kalimantan. Ia juga membuka semacam show room di jalan Raya Gambang-Plumbon, Gudo, untuk memajang hasil kerajinannya. Sepanjang jalan ini memang ada cukup banyak toko manik-manik yang terlihat mencolok sehingga mengoda penguna jalan untuk mampir. Harganya pun termasuk murah, mulai Rp. 2 ribu sampai Rp 30 ribu. Padahal di tempat lain, harganya bisa naik berkali lipatnya. Karena langsung dari pengerajinnya itulah yang bisa membuat harganya lebih murah.

“Pengunjung yang datang langsung memang ada, tapi tidak banyak. Karena itu mudah-mudahan ke depannya daerah ini semakin terkenal sebagai penghasil manik-manik,” harap Achmad. Achmad sendiri mengaku belum bisa menembus pasar luar negeri, meski begitu ada beberapa pengusaha manik-manik dari desa ini yang sudah berhasil menembus ke pasar luar negeri walau jumlahnya belum besar sekali.

Manik-manik asal Gambang, Jombang sebenarnya sempat menjadi kebanggaan kerajinan pemerintah Jombang. Berbagai bentuk perhatian dan bantuan juga telah diberikan untuk semakin mengenjot hasil produksi dan dikenal masyarakat luas. Beberapa pejabat penting dari Jakarta, bahkan Presiden SBY sendiri juga pernah menemui pengerajin manik-manik Jombang untuk mendengar keluh-kesahnya. Namun, pasar bebas yang sedang terjadi tampaknya tidak berpihak pada mereka. Mereka kalah bersaing di negerinya sendiri.

ms media content network