Mencintai Lingkungan dengan Zero Waste Fashion

Mencintai Lingkungan dengan Zero Waste Fashion

Tren berbusana saat ini berkembang cukup beragam. Model berpakaian dan model gaya terlihat melimpah, terutama jika ditengok dari cara berbusana anak muda. Namun meski begitu, agaknya hanya sedikit saja orang yang sadar berbusana yang benar dan ramah lingkungan.

Kurang lebih pesan itulah yang disampaikan Fashion Educator, Aryani Widagdo, di acara Festival Literasi Surabaya (14/12/2017). Dalam agenda yang dilaksanakan di BG Junction tersebut ia mengatakan, dari berbagai jenis merek dan gaya pakaian, tak banyak yang benar-benar memikirkan kondisi lingkungan. Ia mencontohkan, dari proses produksi fashion, jumlah limbah (sisa potongan kain) cukup banyak jumlahnya.

“400 miliar meter persegi kain yang diproduksi di dunia pertahun. Dan dari presentase kain yang dibuang selama proses pemotongan adalah lima belas persen, atau 60 milliar meter persegi” tandas wanita yang juga founder Arva School of Fashion tersebut.

Baginya cara berbusana di era seperti ini harus mulai dipikir kembali. Ia mengajak siapapun untuk memikirkan kembali napak tilas di balik terciptanya sebuah busana. “Harus mulai belajar bahwa di setiap pakaian Anda, ada story-nya,” ungkapnya.

Dalam hal itu, ia merujuk peristiwa kebakaran yang mengorbankan buruh pembuatan tekstil di Bangladesh 2012 silam. Sebanyak 1.200 lebih korban harus meregang nyawa karena kebakaran dan runtuhnya gedung pabrik setempat.

Berangkat dari itulah, wanita 6 Juli 1949 itu mengenalkan kembali konsep zero waste fashion kepada khalayak. Konsep ini sebenarnya merujuk pada pembuatan pakaian dengan meminimalisir atau bahkan sama sekali tak menimbulkan limbah pakaian (potongan kain yang tak terpakai). Caranya dengan membuat pola tertentu dengan sedikit potongan pada kain.

Jenis desain baju ini ia adopsi berdasarkan jenis desain di masa lalu. “Zero waste bukan barang baru. Desain zero waste telah ada sejak berabad-abad lalu, seperti Kimono Jepang, Busana dari India, atau Celana dari China Kuno,” ungkapnya.

Di sesi penutupnya, wanita kelahiran Semarang ini berpesan agar semua pihak mulai memperlakukan fashion dengan bijak. Ia sendiri memiliki tiga kunci agar kiat itu bisa terlaksana. “Melihat story baju (dari negara mana ia dibuat). Dengan tidak terlalu sering berbelanja baju. Serta memilih baju yang berkualitas (tinggi),” katanya.

naskah dan foto : farid fakih

Share: