Berada di sisi selatan Kota Pacitan, Pantai Srau menghampar dengan segenap pesonanya.
Meski tak terlalu luas, setidaknya jika dibanding pantai-pantai di Jawa Timur lainnya, pantai yang terletak di Dusun Srau, Desa Candi, Kecamatan Pringkuku, Kabupaten Pacitan ini menjanjikan etalase apik berhias bukit karang dan daratan-daratan kecil yang dipangku batu karang.

Pasir yang menyelimuti bibir Laut Selatan itu berwarna putih kemilau. Dan bila matahari bersinar terik, hempasan ombak yang menerpa batu-batuan menimbulkan efek cahaya yang berwarna. Masyarakat menyebutnya dengan Watu Kelir.

Luas area wisata Pantai Srau ini sekitar enam hektar. Sedangkan panjang bibir pantainya sendiri sekitar dua kilometer. Daya tarik lain di pantai ini adalah pengunjung dapat melihat hamparan Laut Selatan dari atas bukit karang yang letaknya cukup menjorok ke laut itu. Bahkan pengunjung juga dapat menyusuri bukit tersebut hingga bisa mencapai bagian lain pantai, yaitu yang ada di sebelah Barat.

Memandang ombak yang datang beriiring, sebagian menghempas karang dan sebagian yang lain menerpa permadani pasir. Di dukung deru angin laut, suara yang timbul bak melantunkan senandung alam. Asri dan alami.

Salah satu daya tarik Pantai Srau adalah kondisi alamnya yang sangat mendukung hobi memancing. Meski tak menggunakan perahu, kita bisa memancing di atas bukit karang, seolah di tengah lautan lepas.

Salah satu ikan yang paling diburu adalah ikan panjao. Ikan yang berukuran panjang ini bisa dibilang khas, karena tulangnya yang berwarna biru. Bagi mereka yang datang dengan tanpa membawa peralatan pancing, orang-orang di sana dengan sukarela akan memberikan pijaman alat pancing sederhana. Tentu saja alat pancingnya juga agak berbeda. Terbuat dari bahan bambu yang menjulur panjang agar bisa mencapai samudra.

Ikan ini biasanya banyak ditemui pada bulan Oktober hingga Januari. Pengalaman dari masyarakat setempat, pada masa itu mereka bisa mendapat ikan panjao dari memancing, antara lima hingga enam kilogram.

Dulu, Pantai Srau hanyalah pantai alami yang terkesan liar dan jauh dari tata kelola. Aneka pepohonan tumbuh rimbun tak beraturan. Oleh warga Dusun Srau, pantai ini mulai dibabat dan digarap. Sampai suatu saat, pemerintah setempat pun turun tangan, dan menyulap Pantai Srau menjadi salah satu kawasan wisata andalan. Berbagai fasilitas pun berdiri di sini. Seperti musholla, rumah makan, hingga toilet.

Pantai Srau dikembangkan dengan konsep back to nature. Upaya untuk menjaga sisi alami diarahkan pada standar ekowisata. Hal ini semata karena potensinya yang mengutamakan pelestarian lingkungan hidup di sana. Selain memberi dampak baik bagi masyarakat dan lingkungan sekitar, juga memberi dampak positif pula bagi pemerintah setempat.

Untuk kepentingan teknis perencanaan dan pengembangan lokasi wisata ini, pada tahun 2001-2003, Pemkab Pacitan telah melakukan kerjasama dengan Pusat Studi Pariwisata Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Hasilnya berupa IPO atau Induk Pengembangan Obyek. Lalu tahun 2005 mulau masuk ke fase realisasi. (andi widyanto | foto : dok kab. pacitan)