Pulau Madura tak hanya dikenal karena Karapan Sapi. Karena di Kabupaten Bangkalan, pacuan kuda tradisional justru tumbuh subur dan jadi salah satu ikon budaya daerah.

Uniknya, ajang balap kuda dengan trak lurus ini belum ada ada di Pamekasan, Sumenep hingga Sampang. Melihat potensi itu, Pemkab Bangkalan melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) berharap

“Kami berharap agar balapan kuda tradisional bisa dilestarikan,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar), Lily Setia Mukti, seperti ditulis di laman bangkalankab.go.id. Dikatakan pula, Pemkab Bangkalan bahkan mendukung penuh jika lomba pacuan kuda bisa diadakan, sehingga bisa menyedot para wisatawan.

Ke depan, lanjutnya, Bangkalan tidak hanya dilengkapi dengan lapangan kerapan sapi, tapi juga lapangan balapan kuda. Melihat potensi pariwasata dari pacuan kuda tradisional ini, Lily berharap agar ajang balap kuda bisa dijadwalkan seperti kerapan sapi di Kabupaten Bangkalan.

“Masih mau berkomunikasi dulu dengan pihak Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi), bagaimana teknisnya nanti,” ujarnya. Di luar itu, pihaknya juga berencana untuk bekerja sama dengan pecinta balapan kuda tradisional guna mengembangkan potensi wisata rakyat tersebut.

Ketua Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (PORDASI) Kabupaten Bangkalan R.H Moh Nasir Zaini menjelaskan, pacuan kuda tradisional Bangkalan ini di helat sejak 1985, dengan menggunakan trak lurus. Balapan ini melibatkan dua hingga tiga penunggang. “Kegemaran ini lahir dari kalangan bawah. Hanya satu-satunya di Madura, dan tidak ada judi. Kalau tidak percaya lihat saja di garis start,” kata Nasir. (sp/foto : dok bangkalankab.go.id)