Bagi seniman, karya adalah sebuah media dialog. Ini juga yang ingin disampaikan Noor Ibrahim dan Aripin Petruk, dalam pameran patung mereka yang bertajuk Survival, di CCCL Surabaya, 4 – 20 Pebruari 2009.

Keduanya mengajak masyarakat berdialog melalui karya-karya patungnya. Dengan gaya kubisme yang kental, dua pemahat ini menggunakan media tembaga, kuningan, stanlies, dan kayu dengan teknik palon (palu).

Untuk itu, dua perbandingan yang ditawarkan keduanya mungkin dapat memberikan jawabannya. Saat ini, semua orang diguncang dengan semakin tingginya tingkat kemiskinan di kota-kota besar. Marjinalisasi sebagian masyarakat tak lagi terperhatikan, manusia yang bertarung dengan diri dan lingkungannya. Itulah tokoh yang ditengahkan melalui patung-patung, diri kita sendiri. “Saatnya untuk merenung dan peduli pada orang lain, belajar untuk saling memahami dan bertahan bersama,” tutur Aripin Petruk.

Tokoh aneh dengan sepedanya, mata-mata dengan sorotan tajam, dan tali merah menjulur bergelantung menghiasi taman serta galeri CCCL Surabaya. Merupakan sebagian dari karya lain yang dipamerkan oleh seniman yang pernah mengikuti Biennale, Venezia tahun 2005, dan sederet karya lainya itu.

naskah : shiska pradibka | foto : dhimas prasaja