Setangkup Asa di Panggung Irama Budaya


Suara gamelan bertalu. Dari luar, suaranya terdengar keras cukup keras. Membuat beberapa orang mulai masuk ke area gedung pertunjukkan. Membeli tiket seharga Rp 10 ribu, mereka kemudian masuk dan duduk menikmati pertunjukkan.

Berselang kemudian, satu persatu sinden masuk ke panggung dengan menyanyikan lagu-lagu Jawa dengan ayu dan merdu. Berlenggak-lenggok, mereka menari mengikuti alunan gamelan.

Sama seperti Sabtu malam sebelumnya, pagelaran ludruk Irama Budaya dimainkan dengan semangat menggelora. Tidak ada event yang spesial hari itu. Memang sudah menjadi jadwal Irama Budaya menggelar tobongan. Satu minggu sekali, dan diadakan di hari Sabtu.

Di Surabaya, tidak banyak kelompok budaya, khususnya ludruk yang masih eksis menggelar pertunjukkan hingga sekarang. Bahkan bisa dihitung dengan jari. Dan diantara sedikitnya itu, Irama Budaya menjadi salah satu kelompok ludruk yang masih setia membawakan cerita-cerita lawak khas Suroboyoan. Memiliki markas di area kompleks Taman Hiburan Rakyat (THR), Surabaya, Irama Budaya membuktikan eksistensinya di tengah tantang yang diihadapi di era digital ini.

Kelompok Ludruk Irama Budaya dibentuk pada tahun 1987. Bermula dari seorang paranormal waria, Sakia Sunarya (alm) yang menggelar tobongan (istilah ludruk ketika menampilkan pertunjukkan) dengan berpindah-pindah tempat. Mulai dari di daerah Pacar Keling, Moro Seneng, kandang babi Simo, hingga Wonokromo. Panggungnya juga sederhana dan didesain seadanya, tapi tetap tampak rapi.

Hingga di tahun 2010, setelah berpuluh-puluh tahun melalang buana di berbagai tempat, dan hanya hidup mengandalkan bantuan para lurah, Irama Budaya mendapatkan tempat layak. Istimewanya, tanpa adanya pungutan sewa. Tempat itu digunakan hingga sekarang.

Gedung belakang Taman Hiburan Rakyat (THR), Surabaya, yang merupakan pemberian Tribroto, Kepala UPTD THR Surabaya saat itu. “Beliau simpati dengan ludruk ini, akhirnya ludruk ini di bawa kesini (THR, Red),” kata Henky, anggota senior Ludruk Irama Budaya.

Tantangan tidak serta merta pada tempat pagelaran. Penonton menjadi tantangan selanjutnya bagi Irama Budaya. THR yang merupakan tempatnya anak muda, dinilai menjadi alasan utama mengapa jumlah penonton tidak banyak.

“Irama Budaya sudah lama di sini, tetapi penontonnya hanya itu-itu saja,” sesal Henky. Dengan harga tiket masuk yang hanya Rp 10 ribu, pendapatan Irama Budaya pun tak pelak hanya berkisar di bawah Rp 500 ribu per malam. Ini dengan asumsi, jumlah penonton tidak lebih dari 50 orang.

“Padahal, pemainya bisa 40 orang lebih. Bisa bayangkan nggak cara bagi hasilnya gimana,” tanya Henky sembari tertawa. Pria yang juga aktif sebagai pengamat budaya ini menambahkan, persoalan lain dari ludruk ialah masa kejayaannya yang telah habis. Ia menilai munculnya televisi dan DVD, berpengaruh secara signifikan tradisi tobongan. “Itu semua menjadi penyakit,” tegasnya.

Hidup segan, matipun tak mau. Demikianlah kalimat yang tepat untuk menggambarkan kondisi kesenian ludruk saat ini. Berkembangnya industri media menjadi pedang bermata dua. Media memiliki andil besar dalam promosi ludruk, tapi karena media juga ludruk bisa terhenti. Disinilah tantangan bagi para praktisi ludruk untuk banyak melakukan inovasi, menyesuaikan manajemennya dengan tuntutan zaman. (Vincensia Herdwinta, Betsy Yanuaringati)