Tanda Mata dari Ampel Denta


Suara lagu berdendang gambus, ratusan orang hilir mudik, juga ada yang asyik bertransaksi barang-barang yang terpajang di etalase. Suasana yang selalu nampak di pasar sekitar Masjid Ampel ini terasa membedah sepi.

Bila berjalan di komplek pasar itu, kita pasti akan tergoda dengan beragam pernik barang yang ditawarkan para pedagang di sana. Langkah pun terhenti sejenak, mata memandang satu per satu barang-barang yang ada.

Di jalan sepanjang lebih kurang lima ratus meter itu terdapat berbagai jenis botolan minyak wangi, perangkat sholat, buku-buku agama, akik, kaset islami, siwak, kurma, kismis, dan masih banyak lainnya yang ada di sana.

Harga barang dagangan di pasar Ampel relatif terjangkau, yaitu antara Rp 2 ribu sampai Rp 750 ribu. “Tetapi harga itu masih bisa ditawar lagi dan dari banyaknya jumlah barang yang dibeli,” ujar Ahmad Syaiful, 39 tahun, seorang penjual di komplek Ampel.

Namun juga jangan kaget jika ada tasbih seharga Rp 7,5 juta per untai. Tasbih ini terbuat dari kayu uka-uka, kayu yang konon menjadi bahan utama pembuatan bahtera Nuh, kapal raksasa nabi yang menyelamatkan dari air bah.

Sebagian produk-produk yang  ada di sana adalah buatan lokal sendiri, seperti dari Gresik, Pasuruan, Bangil, Banyuwangi, Tuban, Probolinggo, Solo, Pekalongan, Banjarmasin, dan sebagainya. Sebagian barang ada juga yang didatangkan langsung dari Pakistan, India, dan Polandia.

Para pedagang pun juga melayani pembelian barang secara grosir maupun dalam bentuk ritel. Untuk oleh-oleh beragam jenis kurma dianjurkan mengunjungi importir kurma terbesar di Ampel, Toko Lawang Agung Jalan Nyamplungan, Surabaya. Toko ini tak pernah surut pengunjung karena memiliki koleksi kurma, dengan jenis dan harga yang bervariasi serta terjangkau.

Sedangkan pada zaman penjajahan Belanda kawasan itu dinamakan District Arabsche Kamp atau kampung Arab. Karena begitu banyak penduduk keturunan Arab yang menetap di kawasan Ampel ini. Karena itupula para pedagang di sini adalah bermarga Arab, dan sebagian lainnya pendatang yang ikut menangguk peluang di kawasan Ampel.

Keberadaan pasar ini hanyalah satu bagian dari keseluruhan kawasan wisata religi Ampel. Berkunjung ke kawasan ini terasa makin nyaman karena sejak 2003 lalu telah dikembangkan sebagai kawasan wisata religi oleh Pemerintah Kota Surabaya. Lorong di Ampel Suci ini pun lebih sejuk karena dilengkapi dome yang kian menambah kenyamanan pedagang maupun pengunjung.

Sejak ditetapkan sebagai kawasan wisata religi, berbagai perbaikan telah dilakukan, antara lain peningkatan Jalan Sasak, KH Mas Mansyur, Nyamplungan, showroom produk-produk dan kerajinan Surabaya, serta telah tertata rapinya tempat para PKL.

naskah : andrian saputri | foto : wt atmojo