Melintasi deretan ruko dengan desain modern, tepat di tikungan Jl Gubeng Kertajaya V, Surabaya, nampak lima kios kecil yang cukup mencuri perhatian. Karena di kios-kios ini, puluhan topeng reog dengan warna mencolok, dipajang dan berjajar rapi di etalase sederhana.

Topeng-topeng ini dijual dengan harga Rp 20 ribu hingga Rp 70 ribu-an. “Itu harga untuk topeng-topeng kecil. Kalau topeng besar hanya kami produksi saat ada order,” ungkap Susan (42), salah satu pemilik kios.

Pada eastjavatraveler.com, ibu tiga anak ini mengaku, ia sudah berjualan topeng sejak 2006. Bermula dari keinginan untuk memberikan hadiah pada anaknya, dia memutuskan untuk membuat topeng mainan tradisional. Selain dianggap murah, mainan ini juga merupakan usaha untuk mengenalkan kesenian tradisional sejak dini kepada anak mereka.

Di luar dugaan, tak hanya anak mereka yang suka, tapi warga di sekitar tempat tinggalnya juga cukup antusias. “Dari situ muncul ide bareng suami saya, kenapa tidak dibuat serius saja untuk dijual,” imbuh perempuan yang akrab dipanggil Mbak Sus ini.

Awal tahun 2006, bersama suami, dia mulai menggarap bentuk dari karakter topeng reog. Dengan usaha yang gigih, dia dengan suaminya memasarkan topeng reog di sekitar Tugu Pahlawan Surabaya.

Layaknya pedagang kerajinan tradisional yang lain, gelombang modernisasi juga menjadi momok bagi Susan. Karena semakin bergesernya minat anak dari budaya kesenian tradisional lokal ke produk-produk modern.

“Kondisi seperti ini tidak dapat dihindari. Tapi ini malah menjadi semangat untuk saya dan suami untuk terus menciptakan terobosan baru agar tampilan topeng lebih menarik,” tambah Susan sambil menggoreskan cat ke topeng buatannya yang hampir selesai.

Terobosan yang ia maksud, kini, selain memproduksi topeng reog, ia juga membuat topeng bantengan, jaranan, bahkan topeng barongsai. Di luar itu, Susan juga membuat topeng-topeng yang dibuat dengan mengikuti permintaan pasar.

perajin-topeng1Lewat strategi ini, laju perekonomian keluarga pun berjalan lancar. Terbukti di setiap minggunya, ratusan topeng dengan berbagai karakter bisa di produksi dan terjual di pasar. “Berkat kreasi topeng yang menarik, setiap hari lapak topeng kami tidak pernah sepi oleh pelanggan. Kalau hitungan kasar, tiap hari bisa dapat Rp 500 ribu-an,” imbuhnya.

Dikatakan, dari beberapa karakter topeng yang dibuat, ada tiga jenis yang sampai sekarang masih menarik minat konsumen. Seperti topeng ganongan, topeng macan, dan topeng reog. “Permintaan pesanan sekarang semakin meningkat. Tidak hanya di Surabaya, namun di kota lain seperti Banyuwangi, kota-kota di Jawa Tengah, sampai Kalimantan,” ungkap Susan bangga.

Penghasilan yang dinilai sudah cukup untuk menopang ekonomi keluarga tak lantas membuat mereka berdiam diri saja. Keinginan untuk memiliki galeri topeng sendiri menjadi cita-cita yang ingin diwujudkan. Selain untuk menarik perhatian pelanggan karena tempat yang semakin layak, mereka juga berfikir kesenian tradisional seperti ini harus tetap dijaga agar tidak menghilangkan identitas suatu daerah dan sejarahnya.

naskah dan foto : farid rusly