Travel Writer Bukan Menulis Catatan Perjalanan

Travel Writer Bukan Menulis Catatan Perjalanan

Menulis adalah salah satu mukjizat terbesar yang diberikan Tuhan pada manusia. Setidaknya, itulah yang dipercayai Doan Widhiandono. Kalimat itu pula, yang ia sampaikan untuk membuka workshop travel writing di Ruang Star 3 BG Junction, Surabaya, Kamis (14/12/2017).

Dus, begitu ia kerap di sapa, adalah wartawan Jawa Pos sekaligus travel writer. Bahkan, ia telah menerbitkan buku bertajuk ‘Oleh-Oleh Jurnalis’. Yakni, buku kumpulan tulisan wisata Dus yang pernah diterbitkan di Jawa Pos. Bedanya, tulisan di buku ini adalah versi asli yang belum diedit redaktur. “Ini bentuk pembalasan dendam saya. Karena kadang hal yang menuut saya penting, dihilangkan redaktur sebelum dimuat,” terangnya sambil terkekeh.

Selain menceritakan pengalaman menulis wisata dan berwisata sebagai jurnalis, Dus juga menjelaskan cara menjadi travel writer yang baik. Ia menegaskan bahwa travel writer, bukanlah catatan perjalanan. Melainkan sebuah cerita wisata. Sehingga, harus memiliki value. Setidaknya, memberikan informasi dan edukasi bagi pembaca.

Karena itu, seorang travel writer harus mengarahkan kameranya ke depan. Bukan kebelakang. Dalam artian, mengamati dengan seksama lingkungan yang ada di sekitarnya. Bukan pada diri sendiri. Meski bukan berarti penulis sebagai subyek kemudian harus dihilangkan sama sekali.

Sebab, tulisan wisata akan lebih tahan lama dan tidak cepat basi jika bisa dirangkai dengan nilai kemanusiaan. Bukan tempat atau sekadar peristiwa yang ada di sana.

“Travel writing itu bukan laporan harian sebuah perjalanan wisata. Hari ini ngapain, besok kemana. Tetapi, menceritakan sebuah kisah yang tematik tentang sebuah perjalanan wisata,” terangnya.

Selain menerima materi, peserta workshop juga diberikan kesempatan praktik. Mereka diberi waktu untuk membuat tulisan travel writing. Dimana, tulisan terbaik berhak mendapatkan hadiah berupa voucer wisata open trip Nusa Penida edisi Tahun Baru.

Hadiah tersebut merupakan pemberian dari IPI (Insan Pariwisata Indonesia) yang juga menjadi supporting partner Festival Literasi Surabaya.

Workshop yang diikuti sekitar 30 peserta ini, merupakan salah satu rangkaian acara Festival Literasi Surabaya yang berlangsung selama empat hari di BG Junction. Setiap harinya, akan ada event literasi menarik yang digelar sejak pukul 10.00 WIB sampai 20.00 WIB.

naskah dan foto : fathur rohman

Share: