Berawal dari ketertarikan terhadap seorang mahasiswi asal Kalimantan yang dikenalnya saat mengajar di Universitas Darmstadt tahun 1983, Rudolf Schmidt, pelukis asal Jerman, akhirnya jatuh cinta pada Indonesia. Kedamaian yang tertangkap saat berinteraksi dengan alam dan masyarakat Indonesia memberikan kesan mendalam bagi Rudolf. Pengalaman inilah yang kemudian menjadi inspirasi karya-karya lukisnya pada pameran Voice of Tranquility yang diselenggarakan di Galeri Seni House of Sampoerna, 9 Februari hingga 04 Maret 2012.

35 karya lukis ‘menyuarakan’ kedamaian dan ketenangan yang dirasakan oleh Rudolf saat menikmati alam, budaya maupun aktivitas yang ditemuinya di Indonesia, dengan mengusung teknik penggambaran yang sederhana dalam bentuk namun kaya akan warna. Cara pandang Rudolf dalam melihat sebuah objek dari berbagai sudut pandang menghasilkan beberapa karya dengan konsep berpanel yang unik merupakan ciri khas pelukis beraliran realis ini.

Ciri khas ini dapat dilihat dari lukisan berjudul “Pura Basakih” yang berlokasi di Bali. Dalam memvisualisasikan pura tersebut, Rudolf memulai dengan melukis gapura/pintu masuk menuju Pura Basakih, dilanjutkan dengan melukis area halaman pura, dan kemudian melukis bangunan dari Pura Basakih itu sendiri. Menariknya, masing-masing angle tadi dilukis diatas 3 (tiga) kanvas yang berbeda yang pada akhirnya akan menceritakan lokasi “Pura Basakih” secara utuh.

Lain halnya dengan lukisan yang berjudul “Banjarmasin” yang menggambarkan tidak hanya keindahan tetapi juga kehidupan yang didapati Rudolf dari sebuah sungai di kota besar di Kalimantan ini. 4 kanvas dihabiskannya untuk melukis berbagai sudut aliran sungai, termasuk rumah-rumah pembibitan ikan yang berada di atasnya. Sekali lagi penggambaran secara utuh untuk menceritakan sebuah lokasi menunjukkan sudut pandang yang utuh dan ditel dari seorang Rudolf. Sosok atau aktivitas manusia juga tidak luput menjadi objek lukisan Rudolf. Lukisan berjudul “Water Vendor”, misalnya, menggambarkan sosok-sosok para penjual minuman atau karya berjudul “Street Vendor” yang melukiskan para penjual yang banyak beredar di pinggir jalan raya.

Lahir di Dieburg, Jerman pada 28 Juni 1930, Rudolf Schmidt menyalurkan bakat seninya dengan belajar di Akademi Jerman. Setelah lulus, dia lantas menjadi guru di beberapa universitas seperti Universitas Darmstadt (1972-1983), Universitas Kassel (1975-1978), dan Universitas Frankurt (1979-1983). Sebelum menikahi sang istri yang berkewarganegaraan Indonesia pada tahun 1980, Rudolf hanya melakukan perjalanan di Eropa untuk memperkenalkan karya lukisnya.

Baru di tahun 1983, Rudolf sering mengunjungi Indonesia dan melukis keindahan alam serta potret kehidupan masyarakat Indonesia di beberapa wilayah seperti Sumatera, Kalimantan, Jawa dan Bali. Saat berada di Indonesia inilah, Rudolf mulai tertarik mempelajari refleksi cahaya pada subjek lukisannya yang dituangkan diatas kanvas menggunakan media cat minyak, chalkcoal, dan crayon. Saat ini, selain aktif berpameran di Indonesia, Rudolf juga pernah berpameran di Belanda dan Jerman.

Bagi Rudolf, pemandangan indah yang terbentang luas dimana setiap orang hidup dalam keselarasan dengan alam dapat menimbulkan ketenangan tersendiri. Hal inilah yang menginspirasi Rudolf senang melukis tentang Indonesia. “Selain itu, saya suka bekerja di ruang terbuka dan langsung melukis apa yang saya lihat. Karena itu, saya cepat akrab dengan orang sekitar,” ungkap Rudolf.

naskah : dwi | foto : dok