Memasuki bulan Desember, beragam asesoris Natal dipajang di etalase toko. Momen istimewa bagi siapa saja, mereka yang merayakan, supplier, atau pedagang eceran.

Selain toko-toko yang basa menjual asesoris Natal, Hari Natal juga jadi momentum bagi sejumlah pengusaha retail. Beragam pernik-pernik dijual dari harga paling murah hingga jutaan rupiah.
Ornamen Natal memang memiliki daya tarik sendiri. Sekalipun setiap tahun mereka yang merayakan Natal menata pernak-pernik Natal baik di rumah, di kantor, di gereja, maupun di tempat lokasi perayaan Natal, namun kegiatan itu tak jua menimbulkan rasa bosan. Seperti itulah yang dirasakan seluruh umat nasrani setiap menjelang Natal.

“Menjelang Natal ini, saya telah mendapatkan pesanan rosario dari pengusaha di Jakarta, Bandung, Bantul, Papua, dan beberapa kota besar lainnya di Indonesia. Bahkan sampai ke negara Malaysia hingga Roma, Italia,” ujar Jelita, penjual pernik Natal di Pasar Atum Surabaya.

Bisa dimaklumi, bagi umat Nasrani, Natal adalah hari yang istimewa. Untuk merayakan hari itu, mereka rela merogoh kocek khusus untuk mendapat asesoris yang terbaik. Seperti rosario, topi Santa Clause, pohon cemara, lonceng emas, dan masih banyak lagi. Jangan heran jika dalam satu hari, seorang pedagang rosario bisa menjual ratusan unit di harai-hari terakhir menjelang Natal.

Menurut Jelita, untuk mememenuhi permintaan pasar itu, dia arus bekerja dengan tujuh orang karyawannya dan dalam sehari agar bisa menjual 25 kalung rosario. Termasuk beberapa patung yang sering digunakan umat Nasrani untuk kelengkapan ibadah. Seperti patung Yesus Kristus, Bunda Maria, Tyas dalam Sri Yesus Kristus versi Raja Jawa, atau yang lain.

“Setiap rosario saya jual anatar Rp 90 ribu hingga Rp 600 ribu. Tergantung dari kualitas bahan yang dibuat serta tingkat kesulitan untuk membuatnya,” kata Jelita. Untuk mendapatkan barang dagangannya ini, ia mesti berburu ke agen atau perajinnya di Bantul, Yogyakarta.

Dia mengaku, khusus kalung rosario, yang paling diminati oleh pembeli adalah kalung berwarna hijau dan terbuat dari Batu Bustin. “Walaupun kalung rosario yang warna selain biru peminatnya lumayan banyak, namun kalung rosario dari bahan batu bustin berwarna biru paling banyak yang membelinya,” tutur Jelita.

Pohon Natal
Perlengkapan lain yang paling diminati pembeli adalah miniatur pohon natal, serta boneka Santa Claus. Pohon natal dalam ukuran sedang dan besar juga banyak peminat. Kali ini, kebanyakan penjual mengeluarkan pohon natal ala Alaska dan Roma. “Pohon Alaska ini dilengkapi dengan butiran salju,” kata Jelita lagi.

Diakui, dalam satu hari, ia mampu menjual satu buah pohon natal. Padahal, untuk ukuran besar yang dilengkapi dengan lampu dan pernik-pernik lain harganya mencapai Rp 25 juta.

Harga yang mahal? Ternyata tidak. Karena bagi mereka yang merayakan Natal, patokam harga seperti ini jadi standar yang lumrah. Satu hal yang pasti, mereka juga merasa terbantu karena eksistensi asesoris yang diinginkan jadi gampang dijangkau.

“Harga jadi urusan kesekian. Karena Natal bagi keluarga kami menjadi momen luar biasa bagi seluruh anggota keluarga,” kata Henry, 33 tahun, karyawan swasta asal Malang yang kini tinggal di Surabaya. Karenanya, tiap menjelang Natal, ia harus menyiapkan anggaran puluhan juta rupiah untuk asesoris hingga pohon natal.

Biasanya, lanjut Henry, ia berburu ke Pasar Atum, Tunjungan Plasa, atau Delta Plasa. “Juga CD lagu-lagu rohani, buku dongeng anak, sampai topi Santa Claus. Bener-bener harus sempurna,” kata Henry.

Dulu, lanjutnya, untuk berburu barang-barang itu ia harus ke Singapura, atau order di internet. Sudah barang tentu, selain mahal, urusan jadi lebih ribet dan butuh waktu lama. “Sekarang segalanya jadi lebih mudah,” kata Henry.

naskah : adrian saputri | foto : wt atmojo