Di saat tertentu seperti musim liburan, atau musim ziarah jelang datangnya Bulan Ramadhan, di Jawa Timur beberapa tempat yang dianggap sebagai wisata religi ramai dikunjungi peziarah. Seperti halnya komplek makam Pondok Pesantren Tebu Ireng, Desa Cukir, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Di dalam komplek makam yang sederhana dikelilingi bangunan pondok pesantren itu, terdapat makam Kyai Hasyim As’ari (Pendiri Nahdlatul Ulama), Kyai Wahid Hasyim (Mantan Menteri Agama RI dan Ayahanda Kyai Abdurrahman Wahid), Kyai Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang juga mantan Presiden ke-4 RI, serta beberapa keluarga besar pesantren tersebut. Tidak salah bila, komplek makam ini kerap jadi referensi kunjungungan wisata religi beberapa peziarah di tanah air.

“Akan tetapi situasi komplek makam ini berubah menjadi ramai dikunjungi, bahkan menjadi salah satu aset wisata religi berubah saat Gus Dur meninggal dan dimakamkan di sini,” ungkap Zainul Arifin, salah satu pengurus Ponpes Tebu Ireng, Jombang. Apalagi di saat hari-hari besar Agama Islam, Ramadhan misalnya dalam satu hari saja bisa mencapai sekitar 4 ribu orang yang datang dari berbagai daerah yang datang untuk berziarah. Peziarah tersebut ada yang berangkat dengan roda dua ataupun rombongan yang menggunakan mobil pribadi dan kendaraan bus.

Hal ini tidak lain, dikarenakan semasa hidupnya Gus Dur yang kerap jadi rujukan masyarakat kita. Bahkan tidak hanya jadi panutan umat muslim saja, terkait dengan gaya pemikirannya. Melainkan juga umat non muslim. Terutama dengan paham Pluralisme yang lebih menghargai kemajemukkan dan kebhinekaan. Maka tak heran jika makam Gus Dur juga dikunjungi peziarah dari kalangan Kristiani, Budha, Hindhu, Kong Hu Chu, dan masih banyak dari kalangan lainnya.

Untuk mendukung kenyamanan pengunjung yang datang ke komplek makam yang pernah mendapat penghargaan Anugerah Wisata Nusantara (AWN), di luar makam juga telah tersedia area parkir yang memadai dan aman. Mulai untuk bus, kendaraan roda empat hingga kendaraan roda dua.

Tidak hanya itu, sarana pendukung lainnya juga telah ada. Seperti jalur khusus peziarah, tempat istirahat (menginap), tempat makan, masjid, dan masih banyak lainnya. Sebagai pemberdayaan perekonomian masyarakat sekitar, juga telah banyak berdiri penjual-penjual souvenir atau berbagai macam bentuknya yang juga sudah tertata rapi.

Muslimin, peziarah asal Banyuwangi, yang saat ditemui eastjavatraveler.com bersama rombongannya mengaku, sudah tiga kali ini datang ke makam Tebu Ireng Jombang. “Selain ada makam Kyai Hasyim dan Kyai Wahid, kehadiran kami juga ingin hormat kepada Gus Dur, yang cukup kami kagumi di daerah asal kami,” ujarnya.

naskah : m.ridlo’i | foto : farid rusly