Semua bermula dari kesederhanaan, inspirasi, kreatifitas, imajinasi, dan keuletan yang tinggi. Hingga terbentuklah sebuah obyek nyata di atas kanvas.

Di kota-kota besar, seperti Surabaya, tak banyak kita menemukan seniman yang ahli melukis dengan teknik realis. Bukannya pada sepinya minat pemesan, tetapi teknik melukis seperti ini bisa dibilang cukup sulit dan dibutuhkan ketelatenan.

Seperti yang dikatakan Wahyudi, 53 tahun, seorang pelukis realis jalanan di Kota Surabaya mengatakan, dalam menghasilkan sebuah lukisan realis tidak hanya dibutuhkan kejelihan, melainkan juga ketelatenan.

”Sebab saat kita mengerjakan lukisan realis harus telaten, dalam mengamati setiap lekuk dan geratan yang ada pada obyek,” urai seniman yang biasa mangkal di sekitar Monkasel dan Taman Bungkul itu.

Setidaknya apa yang dikatakan Wahyudi benar. Seperti yang diamati EastJava Traveler saat melihatnya tengah melukis orang di kawasan Taman Bungkul, Surabaya. Satu orang meminta pada Wahyudi untuk digambar wajahnya. Sejurus kemudian pelukis itu mengamati sekilas wajah orang itu. Lalu dia pun mengambil selembar kertas karton dan sebuah alat gambar, dan dalam hitungan detik sketsa wajah pun jadi.

Setelah proses sketsa wajah usai, biasanya pelukis realis melanjutkan tugasnya dengan proses pewarnaan secara tipis. Sambil sesekali mengamati secara menerus setiap detail wajah yang menjadi obyek sasaran.

Melihatnya saat beraksi melukis, seolah benar pelukis itu nampak penuh konsentrasi dan telaten. Dengan tanpa merasa terganggu apa yang terjadi di sekitarnya. Karena di saat itu dia sedang dikerumuni puluhan orang yang lagi asik melihat caranya melukis. Bahkan dalam kondisi ini seolah tidak merasakan gugup sama sekali. Ia terlihat sangat menikmati dan larut bergulat dengan obyek yang ada dihadapannya. Goresan demi goresan melekat tanpa ragu, selekat hawa yang berdesir di malam itu.

Bukan lantaran sakti. Para pelukis realis pada umumnya memang mampu menyelesaikan obyek yang digambarnya, hanya membutuhkan waktu sekitar 15 hingga 20 menit saja. Padahal mereka bekerja dalam kondisi yang bisa dibilang cukup tertekan. Karena disamping dikerubuti banyak orang, tempat pengerjaannya pun di trotoar jalanan beratapkan langit, dan peralatan yang digunakan juga cukup sederhana.

”Ya, beginilah gaya seniman jalanan, mulai dari peralatan hingga soal tempat saja serba seadanya sebab yang penting berkarya,” kelakar Nano, 36 tahun, pelukis realis lain yang biasa mangkal di depan KFC Jalan Gajah Mada, Sidoarjo.

Bahkan beberapa pelukis realis mengaku awal memiliki bakat seperti ini muncul secara otodidak. Dalam artian tidak melalui jalan pendidikan di bidang seni lukis. ”Keahlian melukis realis itu muncul atas keinginan saya untuk maju dan jiwa itu langsung ada,” aku Wahyudi, yang sudah menggeluti seni realis sejak tahun 1980-an.

Kejujuran
Perupa realis selalu berusaha menampilkan kehidupan sehari-hari dari karakter, suasana, dilema, dan objek, untuk mencapai tujuan Verisimilitude (sangat hidup). Perupa realis cenderung mengabaikan drama-drama teatrikal, subjek-subjek yang tampil dalam ruang yang terlalu luas, dan bentuk-bentuk klasik lainnya yang telah lebih dahulu populer saat itu.

Atau dengan pengertian lain karya realis berarti usaha menampilkan subjek dalam suatu karya, sebagaimana tampil dalam kehidupan sehari-hari tanpa tambahan embel-embel atau interpretasi tertentu. Maknanya bisa pula mengacu kepada usaha dalam seni rupa untuk memperlihatkan kebenaran, bahkan tanpa menyembunyikan hal yang buruk sekalipun. Namun, dalam konteks ini pelukis realis lebih condong pada karya melukis wajah manusia.

Dalam pengertian lebih luas, usaha realisme akan selalu terjadi setiap kali perupa berusaha mengamati dan meniru bentuk-bentuk di alam secara akurat. Sebagai contoh, pelukis foto di zaman renaisans, Giotto bisa dikategorikan sebagai perupa dengan karya realis, karena karyanya telah dengan lebih baik meniru penampilan fisik dan volume benda lebih baik daripada yang telah diusahakan sejak zaman Gothic.

Kejujuran dalam menampilkan setiap detail objek terlihat pula dari karya-karya, beberapa pelukis realis yang ada di Surabaya. Antara serat dan lekuk wajah seakan menyerupai obyek aslinya.

Dan, biasanya para pelukis realis memberi titik acuan dari proses awal, yaitu sketsa wajah pada kanvas. Kualitas sketsa yang kuat akan tampak pada karya dapat dilihat dari segitiga emas, yakni mata, bibir, dan alis. Ketiga titik itu yang tidak bisa dipungkiri dan harus sesuai dengan obyek aslinya. Entah itu jarak, bentuk, bahkan lekuk.

Peralatan Melukis
Sebagian pelukis realis dalam menghasilkan sebuah karya hanya didukung dengan peralatan yang cukup sederhana. Seperti bahan media gambar dari kertas karton, atau bisa juga dari kanvas.

Sedangkan untuk peralatan melukisnya, ada serbuk karbon yang dituangkan pada dusel (kertas dibentuk menyerupai pensil yang lancip, red). Dan ada juga beberapa alat pendukung lainnya seperti kapas, dan lup (kaca pembesar) yang biasa digunakan untuk mengamati obyek dari foto.

Beberapa pelukis realis, selain langsung menggambar dengan melihat obyek yang dihadapannya. Terkadang juga menerima pesanan melukis wajah orang dari foto. Dan itu terserah sang pemesan, mau pakai media kanvas atau karton. Hasilnya pun tak berbeda jauh dengan bentuk foto ataupun asli, karya lukis realis meski bergaya minimalis namun nyata estetikanya.

naskah : m.ridlo’i | foto : wt atmojo