Seni Bantengan merupakan budaya tradisi yang dikembangkan secara turun menurun oleh masyarakat, kesenian ini juga dihadirkan bagi masyarakat yang sedang berlatih pencak silat pada zaman penjajahan. Pada awalnya, seni bantengan sendiri menurut cerita masyarakat tumbuh di wilayah pegunungan Pacet dan Trawas, hingga berkembang  hampir di seluruh kecamatan di Kabupaten Mojokerto. Sampai sekarang tradisi bantengan terus menunjukkan potensinya bagi pariwisata khususnya di Jawa Timur.

Setiap pertunjukanya, seni bantengan memiliki berbagai cerita mengenai penjajahan yang digambarkan sebagai lambang dari rakyat jelata yang hidup berkelompok seperti halnya hewan banteng. Antusias masyarakat terhadap pertunjukan seni bantengan juga terus berkembang hingga saat ini. Hal inilah yang menjadikan Pemerintah Kabupaten Mojokerto optimis bahwa tradisi budaya seperti ini mampu memberikan peran positif untuk daya tarik bagi para wisatawan.

Dalam rangka Festival Bulan Purnama Majapahit 2013 dan memperingati Hari Jadi Kabupaten Mojokerto ke-720 Tahun, Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto kembali menggelar pertunjukan seni bantengan. Festival yang diselenggarakan di lapangan Desa Trawas, Kabupaten Mojokerto ini menghadirkan beberapa kesenian bantengan yang ada di sejumlah wilayah Jawa Timur. Sebanyak 17grup bantengan berlomba memberikan karya seni bantengan terbaik, acara yang dilaksanakan selama dua hari berturut-turut 27-28 April 2013 ini dimanfaatkan bagi masyarakat sekitar sebagai hiburan di akhir pekan. Tidak sedikit pula warga dari luar daerah mojokerto juga turut hadir untuk menyaksikan festival seni bantengan ini.

Pada perkembanganya, era bantengan kini memiliki sedikit perubahan untuk penyesuaian di era modern ini. Beberapa kerangka kepala banteng yang dulu menggunakan kepala banteng asli, kini hanya menggunakan kayu untuk melindungi banteng dari perburuan liar. Diharapkan, dengan semakin maraknya pertunjukan seni bantengan mampu menjadikan seni tradisi ini sebagai ikon dan kebangaan Mojokerto yang cukup diminati.

naskah dan foto : farid rusly