Kabupaten Sidoarjo, dapat dibilang kaya akan kerajinan batiknya. Seperti halnya dengan sentra kerajinan Batik Al Huda Sidoarjo. Ketekunan perajinan dalam membuat estetika karya dalam motif mampu mengantarkan, batik ini melenggang dikenal kalangan luas, bahkan telah mendunia.

“Tinggal perintah saja, warna ini pesenan ini. Jadi mereka tidak hanya (menjadi) pekerja saja. Sudah ada ketrampilan. Mereka meracik sendiri.” jelas Nurul Huda, Pemilik Batik Tulis Al Huda pada eastjavatraveler.com. Menurutnya, tanggung jawab desain batik tetap ada pada dirinya, tapi untuk selanjutnya pada proses pembuatan lalu diserahkan pada asisten dan karyawannya.

Ya, begitulah konsep kerja yang dilakukan Huda pada usaha batik tulis pimpinannya. Sejak mendirikan usaha ini dari SMA, Huda memang mendesain sendiri batik tulisnya. Malah banyak produk desain batiknya yang menggunakan sistem One Product One Design. Sehingga pembeli yang memakai batik desainnya merasa bangga memakainya.

Setelah desain batik dibuat, untuk selanjutnya desain itu ia serahkan pada asisten untuk kemudian dilakukan proses penggambaran desain pada kain. Setelah itu baru dilakukan pelukisan dengan canting dilanjutkan dengan pewarnaan. Setelah diwarnai, kain desain itu lalu dibawa ke ruang khusus yang berisi drum-drum pencelupan. Setelah dicelupkan kemudian dijemur sampai kering. Setelah kering, kain bisa dilakukan pewarnaan lagi dan kemudian dilanjutkan pencelupan setelahnya. Jumlah pencelupan dan proses pewarnaan kembali ini bisa dilakukan berkali-kali tergantung kerumitan desain dan jumlah warna pada kain.

Batik Tulis usaha miliknya diakui Nurul Huda memang merupakan magnet tersendiri. Ia beberapa kali ditawari banyak mall untuk stand gratis di tempat mereka. Tapi beliau memiliki motivasi tersendiri ingin memajukan wisata alami tradisional, bukan butik batik modern. Bahwa siapapun dapat berkunjung secara langsung ke sana untuk melihat hasil kerajinan dan  juga proses langsung pembuatan batik tulis miliknya, terutama batik tulis khas Sidoarjo.

Sebagai pribadi yang mengaku terbuka dan akademisi, ia khawatir pernyataan dengan UNESCO bahwa batik yang diakui ini jika semakin menyusut akan dicabut. Oleh sebab itu beliau membuka diri untuk usaha pelatihan pembuatan batik tulis dengan jumlah grup 10 orang serta peralatan dan bahan disediakan. “Tapi apa yang terjadi? Banyak yang tidak mendukung, artinya mengolok-olok dan membenci dengan alasan kekhawatiran saya melatih beberapa orang akhirnya tumbuh pengrajin baru sehingga mereka menjadi pesaing. Itu yang dikhawatirkan, tapi saya ndak. Tujuan saya membantu pemerintah dalam menambah pertambahan ekonomi, menambah pengrajin-pengrajin baru sehinga banyak terserap tenaga kerja. Dari situlah ekonomi akan maju dan mengalami pertumbuhan yang sangat pesat.”, ujarnya.

Berkat usaha pelatihan batik tulis Nurul Huda, beliau berujar bahwa sudah terdapat ribuan orang dari seluruh Jawa Timur yang berhasil menguasai kemahiran membuat batik tulis dan banyak yang sudah mengikuti pameran-pameran. Pelatihan yang hanya memerlukan waktu 9 hari sampai mahir dan tidak perlu berbulan-bulan. “Karena saya berkeyakinan, kalau saya membantu masyarakat berarti saya dibantu oleh Allah. Itu saja prinsip hidup saya”, pungkasnya.

Batik Al Huda pernah mendapatkan penghargaan Rekor MURI melalui kemeja batik terbesar, dan penghargaan dari Gubernur jatim juara 2 kategori Pelestarian Budaya Penganugerahan UKM Berprestasi Jawa Timur Parasamya Kertanugraha tahun 2010. Belum lagi sederet penghargaan lainnya.
Tak salah bila, Nurul Huda dan usaha batik yang dikelolanya juga pernah mengikuti pameran taraf Internasional. Pernah waktu itu setelah pameran di Negara Swiss, tiga bulan kemudian istri para duta besar dari 17 negara Eropa berkunjung ke tempatnya yang beralamat di Perum Sidokare Asri AW No. 18 Sepande Candi Sidoarjo.

naskah|foto : muchson darul fatoni