Ratusan helai kain batik, mulai batik motif flora (bunga-bungaan) dan fauna (burung, kupu, capung), serta masih banyak lagi tersusun rapi di atas kursi dan meja di rumah Abu Han, Jalan Karet 72, Surabaya, Minggu (23/01) pagi.

Kain-kain batik tersebut merupakan kumpulan dari 18 pemilik batik kuno yang mengikuti acara Seminar dan Pameran Batik Encim sekaligus peluncuran dari Komunitas Peranakan Indonesia.

Acara ini merupakan salah satu cara dalam menyambut tahun baru Imlek. Freddy H. Istanto salah satu pendiri Komunitas Peranakan Indonesia mengatakan, acara ini sengaja diselenggarakan di rumah Abu Han. Lantaran rumah yang memiliki luas 800 meter persegi tersebut merupakan salah satu bangunan peninggalan warga Tionghoa yang ada di Surabaya yang bangunannya memiliki arsitektur perpaduan antara Tionghoa dan Jawa.

Tujuan dari acara ini sendiri mengenalkan batik encim. Batik encim merupakan batik yang pada masa lalu dipakai oleh encim julukan untuk seorang perempuan peranakan setelah mereka menikah. Dan merupakan sebuah usaha yang diberikan kepada masyarakat bahwa kita saat ini memiliki kekayaan yang luar biasa yaitu batik.

“Selain itu acara ini dimaksudkan agar banyak orang yang mengahrgai karya seni batik dan bisa ditularkan ke generasi berikutnya,” jelas Freddy yang juga pendiri Heritage Surabaya pada East JavaTraveler.com

Freddy menambahkan, Komunitas Peranakan Indonesia ini diluncurkan pula, karena komunitas ini interest sekali terhadap penggalian aspek budaya peranakan, yang merupakan perpaduan antara budaya Tionghoa dan budaya lokal, sekitar 100 anggota yang terdaftar hingga saat ini.

naskah/foto : dhimas prasaja