Sejak diresmikan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini pada akhir November 2017, Museum Dr. Soetomo terus mencuri perhatian. Tiap hari, museum dua lantai ini tak pernah sepi pengunjung. Khususnya pelajar SMP dan SMA.

Museum berlokasi di kompleks Gedung Nasional Indonesia (GNI), Jl Bubutan Surabaya, berjajar dengan pendapa dan makam dr. Soetomo.

Pendapa GNI dulu sering digunakan sebagai tempat resepsi pernikahan atau acara lainnya. Selaras dengan program pemerintah kota, bangunan ini dikembalikan fungsinya sebagai bangunan bernilai sejarah.

Nama dr. Soetomo memang lekat dengan sejarah Indonesia. Ia adalah pendiri Budi Utomo atau Boedi Oetomo. Organisasi pemuda ini didirikan bersama para mahasiswa STOVIA, seperti Goenawan Mangoenkoesoemo dan Soeraji. Penggagasnya sendiri adalah Dr. Wahidin Sudirohusodo.

Berdiri 20 Mei 1908, Budi Utomo tumbuh menjadi organisasi sosial, ekonomi, dan kebudayaan. Mengutip Wikipedia, Budi Utomo menjadi awal gerakan yang bertujuan mencapai kemerdekaan Indonesia walaupun pada saat itu organisasi ini awalnya hanya ditujukan bagi golongan berpendidikan Jawa.

Dr Soetomo lahir di Ngepeh, Loceret, Nganjuk, 30 Juli 1888. Ia meninggal di Surabaya, Jawa Timur, 30 Mei 1938, saat usianya masih 49 tahun. Tahun 1903 Soetomo menempuh pendidikan kedokteran di School tot Opleiding van Inlandsche Artsen, Batavia.

Setelah lulus pada 1911, ia bekerja sebagai dokter pemerintah di berbagai daerah di Jawa dan Sumatra. Pada tahun 1917, Soetomo menikah dengan Everdina J. Broering, perawat Belanda. Pada tahun 1919 sampai 1923, Soetomo melanjutkan studi kedokteran di Belanda.

Setahun kemudian mendirikan Indonesian Study Club atau Indonesische Studie Club di Surabaya. Tahun 1930 mendirikan Partai Bangsa Indonesia dan 1935 mendirikan Parindra atau Partai Indonesia Raya.

Di Museum Dr Soetomo, kiprah dan jejak perjalanan dr Soetomo itu dipajang dan bisa dilihat langsung oleh pengunjung. Termasuk barang-barang pribadinya semasa aktif menjadi dokter di Rumah Sakit Central Burgelijke Ziekeninrichting.

Rumah sakit ini kelak berubah menjadi Rumah Sakit Simpang. Sayang, keberadaan RS SImpang sudah tak berjejak, karena di tempat ia berdiri sudah berubah jadi Plaza Surabaya. (hendro d. laksono | foto : tiara aydin sava)