Bagi warga Malang, khususnya yang berada di kawasan Jalan Ijen keberadaan dan kelezatan Iga Bakar Mas Giri sudah tidak asing lagi. Sejak buka cabang di Jalan Ijen 77 B Malang, Iga Bakar Mas Giri seolah tak pernah surut dari pembeli.

Keberadaan warung iga bakar di Malang ini sendiri merupakan cabang ke-20. Untuk Jatim sendiri baru ada dua cabang yakni di Tulungagung dan Malang. Selebihnya, tersebar di seluruh Indonesia seperti Jakarta (empat cabang), Bekasi, Bandung, Bogor, Mataram, Pekanbaru, Banda Aceh. Sisanya tujuh cabang yang berpusat di Medan yang didirikan oleh Sugiri, pria kelahiran Ngawi yang sudah sejak 1996 hijrah ke Medan.

Iga Bakar Mas Giri terbilang spesial dari citarasa dan keempukan daging iganya. Tahapan proses masak iga yang benar-benar diperhatikan. Pertama, iga direbus dengan rempah-rempah pilihan hingga empuk. Kemudian direndam selama beberapa menit dengan campuran bumbu. Lalu daging yang utuh dan protol dipilah-pilah. Daging iga yang protol dari tulangya dijadikan sate iga.

Sementara untuk menu iga bakar sendiri, terdapat dua pilihan yang didasarkan pada ukuran, yakni biasa dan super. Untuk iga bakar biasa, menggunakan iga 80 gram, sementara untuk iga super menggunakan daging iga yang ukurannya 100-120 gram. ”Selain proses masak yang benar-benar matang, daging yang kita pilih sangat berkualitas. Yakni, dari daging sapi impor yang masih segar,” ujar Drajat Kherudin, Manager Iga Bakar Mas Giri.

Selain menu iga bakar, di sini juga tersedia beragam menu pilihan. Seperti sate iga, tongseng iga, bakso iga, gule, soup dan nasi goreng iga. Namun seperti diakui Drajat, menu andalan mereka adalah iga bakar atau penyet yang empuk, gurih, dan manis, plus sambel kecap yang pedas dan istimewa. Soal harga, pembeli tak perlu kuatir. Karena harga yang ada di warung yang buka mulai pukul 11.00 hingga 23.00 ini, sangat terjangkau.

naskah:dhimas prasaja / foto: boby np