Tampak riuh puluhan orang membawa belanjaan keluar masuk gang selebar tiga meter itu. Sementara diluar, deretan pengayuh becak telah siap menunggu penumpang. Saat memasuki gang, terlihat lorong demi lorong berjejer toko dihiasi aneka barang dagangan. Mulai dari sajadah, surban, tasbih, kerudung, sarung, parfum serta kebutuhan umat muslim lainnya.

Pasar Bong Surabaya memang terkenal sebagai pusat oleh-oleh haji dan umroh. Tapi hampir tiap hari, berbondong-bondong orang datang memilih, menawar, dan memborong souvenir itu untuk dijual kembali.

Tak terkecuali saat bulan Ramadhan seperti ini, bermacam kebutuhan sandang ramai diminati. Hal ini diakui pemilik toko Satelita, di Jalan Pasar Bong nomer 10. Bahkan menginjak Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri omzet bisa mencapai empat, hingga lima kali lipat dari hari biasa. “Kalau Ramadhan gini yang ramai dicari ada baju muslim, kerudung, sarung, sajadah, macem-macem. Tapi yang paling banyak itu sarung, mulai dari yang paling murah sampai yang paling mahal,” tutur laki-laki berkulit putih dan memiliki tinggi semampai itu.

“Malah yang paling mahal sudah habis duluan, ini saya tinggal stok yang murah. Yang murah biasanya untuk diberikan ke orang-orang, untuk dibagi.” Tambahnya menerangkan.

Barang di Pasar Bong sangat beragam. Mulai dari kualitas rendah sampai tinggi pun ada. Untuk jenis sarung, harga berkisar mulai 45rb sampai 1jt lebih. Semua sarung terbuat dari bahan katun, namun untuk produk yang lebih mahal, bahan sarung bercampur sutra.

Sedangkan mukena, kerudung dan baju muslim juga bervariasi, untuk kerudung paling murah bisa didapat dengan harga 8 rb. Semua barang bisa dibeli satuan atau kelipatan.

Biasanya mereka menawarkan harga grosir minimal 12 barang. Berbagi produk yang dijual juga datang dari berbagai wilayah, lokal sampai impor. Mulai dari Pekalongan, Cina, sampai Turki dan Mekah.

Sebagai Info, jalan menuju Pasar Bong sangat mudah ditemukan. Karena berada di kawasan Kembang Jepun, tidak jauh dari Makam Sunan Ampel dan Jembatan Merah. Pasar buka mulai pukul 09.00 sampai 17.00 WIB ini, sering jadi rujukan para reseller (pembeli untuk dijual kembali).

Makam Cina
Kebanyakan penjual di Pasar Bong adalah keturunan Cina, mereka berjualan dari generasi ke generasi. Sekalipun terdapat keturunan lain seperti Arab dan Jawa. Ini dikarenakan lokasi Pasar Bong yang merupakan bekas pemakam Cina.

Seperti yang dikutip dari jawatimuran.com, dulunya terdapat makam Han Bwee Kong alias Han Bwee Sing (1727-1778), yaitu orang pertama dari keluarga Han yang menjabat sebagai Kapitan Cina di Surabaya semasa hidupnya.

Makam ini disebut juga Chineesche Breestraat, di sepanjang Jalan Cina lebar yang sekarang dinamakan Jalan Slompretan. Satu gang kecil yang disebut Pasar Bong dulunya adalah tempat menjual hewan seperti burung, anjing, kelinci dan lain-lain. Itu sebabnya dulu pasar ini dikenal sebagai pasar burung dan ayam.

Selain pasar burung, dulu di sepanjang jalan ini terdapat banyak toko obat tradisional. Karena banyak warga yang melihat keramaian bongkar muat di gudang-gudang sepanjang Jalan Slompretan, dan semakin hari bertambah ramai, akhirnya warga berinisiatif untuk membeli barang dan dijualnya kembali di rumah mereka sendiri. Akhirnya banyak pembeli, dan jadilah Pasar Bong sampai sekarang. Dinamai Pasar Bong karena kawasan ini dulunya pemakaman Cina.

naskah : pipit maulidiya | foto : farid rusly