Berawal dari ide untuk menggabungkan buku, musik, dan makanan, lahirlah Libreria Eatery. Bukan tanpa alasan, ketika Glorio Graciano, Sinta Gunawan, dan Alexander Ryan memilih Libreria Eatery sebagai nama tempat yang mereka impikan dan bangun bersama. Libreria Eatery yang dalam bahasa Italia berarti toko buku memang sudah memiliki konsep yang jelas sebagai sebuah tempat nongkrong yang asyik; good food, good book, and good music.

Kafe yang berdiri sejak 10 Oktober 2014 ini terletak di Jalan Ngagel Jaya Tengah nomor 89 Gubeng Surabaya, tepatnya di sebelah Toko Buku Uranus. Bukan kebetulan pula, ketika salah satu keunikan dari kafe ini adalah tersedianya buku-buku yang bisa dibaca untuk menemani para pengunjung kala menikmati waktu di Libreria Eatery. Sinta Gunawan yang adalah pemilik dari Toko Buku Uranus, serta Glorio, dan Ryan merasa ketika buku, musik, dan makanan yang berkualitas itu digabungkan ke dalam sebuah konsep kafe, maka itu akan menjadi ide yang sangat menarik.

ejt-libreriaeatery1Menurut Ryan, para pengunjung yang datang ke kafe dengan jam operasional mulai pukul 10.00 hingga 23.00 WIB ini tidak hanya bisa mendapati menu-menu yang enak dan berkualitas, tetapi tidak ketinggalan mereka akan disuguhi berbagai macam buku yang dapat memanjakan gairah membaca. Jangan lupakan pula lantunan lagu-lagu pilihan yang semakin akan menghangatkan suasana selama berkunjung di Libreria Eatery.

Cowok alumni Fakultas Manajemen Universitas Airlangga Surabaya ini menambahkan, target konsumen yang disasar adalah anak-anak muda dan mahasiswa dengan tingkat ekonomi menengah ke atas. Dengan kekuatan pada good book, good music, and good food, Ryan menuturkan bagaimana anak –anak muda ini bisa menghabiskan waktu mereka untuk sekedar nongkrong, baca, atau sambil mengerjakan tugas di Libreria Eatery. Beberapa menu andalan yang banyak dipesan di Libreria Eatery diantaranya Coney Dog, Aglio Olio, Chic Roulade, serta Chic Katsu Woku.

ejt-libreriaeatery1Hingga kini, Ryan melihat antusiame yang hadir lewat pengunjung Libreria Eatery cukup baik. Penyuka warna biru ini menjelaskan bagaimana setiap harinya rata-rata terjadi sekitar 60 transaksi. Ia menambahkan, peak performance kafe ini dimulai pukul 18.00 WIB hingga saat berakhirnya jam operasional nanti.

Ryan dan kedua temannya pun merasa tidak menghadapi kendala yang cukup berarti ketika mereka berniat untuk mengejawantahkan ide mereka ke dalam sebuah kafe, Libreria Eatery. Menurutnya, konsep tentang good book, good music, and good food itu sudah jelas dan pasti selalu dijadikan pegangan. Hanya barangkali, pada awal berjalannya Libreria Eatery, ia dan rekan-rekan masih mencari cara kerja operasional yang efektif.

Ke depan, ia berharap semakin banyak anak-anak muda yang datang untuk mengisi waktu mereka di Libreria Eatery. Ia dan kawan-kawan juga berencana untuk menambah koleksi buku yang bisa dibaca oleh para pengunjung yang datang. Bahkan cowok penikmat musik HAIM dan Marvin Gaye ini juga berencana untuk menyewakan koleksi buku pribadi Libreria Eatery bagi para pengunjung.

naskah : jonif lintang | foto : aditya poundra