Tren tanaman hias boleh berlalu, tapi tidak bagi bonsai. Tanaman kerdil ini tetap bertahan dan peminatnya tidak pernah sepi. Meski harus diakui tidak seramai waktu tanaman hias mengalami booming, yang otomatis bonsai juga ikut-ikutan terkerek booming, namun bisa dipastikan peminat bonsai masih terus bertambah sampai saat ini. Di berbagai daerah kabupaten, salah satunya di Mojokerto, bahkan sudah bersiap-siap mengadakan pameran, yang suatu saat komunitas di Kota Onde-onde ini ingin masuk ke anggota PPBI (Persatuan Pecinta Bonsai Indonesia).

Menurut Juniato, pecinta bonsai di Mojokerto akan mengadakan pameran pertengahan Desember mendatang. Pameran ini sebenarnya baru pemanasan, bila organisasi sudah berjalan baik, pecinta bonsai di Mojokerto bisa saja menjadi anggota Perhimpunan Pecinta Bonsai Indonesia (PPBI) Mojokerto. Sebab, ikut dalam organisasi sebesar PPBI mempunyai tanggungjawab berat. Yakni harus mengadakan pameran pada saat awal dibentuknya dengan juri-juri dari pusat dan paling tidak skalanya harus Jawa Timur.

Banyak yang bilang bahwa pecinta tanaman kerdil ini diberbagai daerah tak ada matinya. Bonsai juga dipandang tak sekadar hobi, tapi bonsai juga mampu menghidupi para pencari dongkel (bakalan bonsai), trainer (perawat bonsai), bahkan makelar bonsai. Di Mojokerto para pencari dongkel ini jumlahnya banyak sekali dan mereka diakui keberadaannya oleh pemburu bakalan dari daerah luar, sebab barang yang didapatkan berkualitas baik.

Mojokerto juga pernah memiliki seorang trainer andal dan diakui kualitasnya secara nasional. Bonsai-bonsai hasil training dan perawatannya dihargai sangat mahal dan sempat menyabet juara di beberapa ajang kontes pameran nasional.

Membicarakan bonsai, Junianto mengatakan bahwa Batu, Malang, adalah tempatnya. Ia menyebutkan bahwa di Batu ada UD Artha yang melibatkan perkumpulan pecinta bonsai Batu, yang berhasil mengeksport tanaman kerdil ini ke Eropa dalam jumlah banyak dan rutin.

Ekspor yang dilakukan UD Artha, menurut Junianto nilainya cukup lumayan. Dalam setahun bersama Paguyuban Pengelolah Bonsai Batu (PPBB), bisa meraup milyaran rupiah. Dari total pendapatan ekspor itu tidak seluruhnya berasal dari Batu, tapi di dukung dari daerah-daerah sekitarnya, termasuk Mojokerto, Sidoarjo, dan Jombang. Dalam setahun mereka mengekspor bonsai ke Belanda sebanyak tiga kali. Nilai sekali kirim per satu kontainer sekitar Rp 120 juta hingga Rp 200 juta.

Awalnya, pengiriman dilakukan melalui pelabuhan Tanjung Perak. Tapi karena volume ekspornya makin besar, proses pengiriman ke negara-negara Eropa akhirnya melalui pelabuhan di Semarang. Negara tujuan utamanya memang Belanda. Kalau sudah di Belanda, baru disebarkan ke berbagai negara di Eropa.

Dalam sekali ekspor, satu kontainer terdiri 700 hingga 800 buah bonsai. Tergantung ukurannya. Jenis tanamannya mayoritas tanaman tropis. Khusus jenis tanaman univerus (cemara, red.) tidak boleh diekspor, karena negara importer memiliki larangan import jenis tanaman tersebut. Dasarnya, hutan di Eropa didominasi jenis tanaman univerus, sehingga takut tertular berbagai jenis penyakit.

Nah, atas dasar peluang itulah pecinta bonsai di Mojokerto terus belajar mengembang diri, dengan mendirikan perkumpulan, pameran, dan membudiyakan jenis tanaman tertentu, sehingga tidak melulu mengandalkan pencarian dari alam yang bisa merusak lingkungan.

rudiyanto | eastjavatraveler.com