Datang ke Surabaya bingung cari tanda mata yang tak biasa. Ada satu yang kiranya pas di hati, adalah Batik Suroboyo.

Hampir di semua kota yang ada di Jawa Timur memiliki batik sesuai karakter daerah masing-masing. Di Surabaya misalnya, siapa sangka terdapat kerajinan batik yang punya corak khas dari kota ini.

Batik Suroboyo, sekilas memang tidak berbeda dengan batik-batik daerah lain. Seperti batik Madura, batik Jember, batik Mojokerto, batik Jombang, dan batik Kenongo Sidoarjo. Semua pada dasarnya sama, yaitu batik tulis yang dikerjakan tangan-tangan terampil. Namun, bila kita amati mendetail maka tampak perbedaannya.

Motif khas ayam aduan dalam legenda Sawunggaling dan Daun Semanggi, merupakan ikon batik Suroboyo. Putu Sulistiani Prabowo, 50 tahun, adalah seorang penggagas dari lahirnya batik khas Kota Surabaya. Untuk kemudian lebih dikenal dengan sebutan Batik Suroboyo itu.

Inspirasi Putu dalam menciptakan kreasi Batik Suroboyoan, bermula dari cerita lahirnya Surabaya. Sehingga muncul motif ayam sawunggaling dan semanggi yang juga menjadi ikon dari Kota Metropolis ini.

Namun begitu, Putu mengaku berbagai corak coba terus digali dan dikembangkan. Bahkan kedepan dirinya akan menggunakan corak bergambar ayam, ayam bekisar, merak, atau motif lain seperti buaya. Motif ini nantinya dimodifikasi lagi sedemikian rupa untuk dikreasi di atas kain.

Selain pada motif, ciri khas lain dari Batik Suroboyo menurut penjelasan Putu ada pada warna. “Warna khas batik kita adalah cerah, sesuai dengan karakter orang Surabaya yang berani,” kata pemilik galeri dan workshop batik Dewi Saraswati ini.

Berkembang
Semula yang membantu Putu dalam membatik hanya tiga orang saja. Dua orang pembatik dan satu orang untuk pewarnaan. Dan, kini karyawannya sudah berjumlah 29 orang. Proses pembuatannya dilakukan di galeri dan workshop miliknya di Jalan Jemursari Utara II/19, Surabaya.

Mengenai proses pembuatan sama dengan batik umumnya. Mulai dari bahan dasar kain yang diberi kanji, digambar, dan seterusnya. Sedangkan pewarnaan, masih menggunakan pewarna sintetis, kini dirinya juga mulai pewarna alam.

“Menggunakan pewarna sintetis karena mengikuti keinginan pasar yang cenderung lebih suka warna-warna mencolok,” ujar ibu berusia 52 tahun itu.

Untuk bahan sebagai media kreasi, kini yang digunakan tidak hanya kain katun saja. Melainkan juga sudah menggunakan kain tenun. Beberapa bahan tenun lain, seperti serat kayu atau pelepah pisang pun digunakan.

Produk yang dihasilkannya beragam. Ada kain panjang atau selendang, bahan hem, syal, scraft, dan kebaya. Harganya juga cukup bervariasi, untuk bahan katun sekitar Rp. 400 ribu sampai Rp. 1 juta. Sedangkan yang berbahan sutra harganya bisa mencapai Rp. 2 sampai 3 juta, atau bahkan lebih.

“Tapi tinggi dan rendahnya harga itu tergantung pada motif dan bahannya,” imbuh sekretaris Asosiasi Tenun, Batik, dan Bordir (ATBB) se-Jatim ini.

Pemasaran
Untuk bentuk pemasaran Batik Suroboyo, Putu mengaku masih ditangani sendiri. Seperti tetap eksis di galeri miliknya, dengan alasan untuk tetap menjaga eksklusifitas produknya. Di galeri miliknya itu, pengunjung bisa langsung melihat proses pembuatan batik. Bahkan imbuh Putu tempatnya bisa dijadikan alternatif jujukan wisata di Surabaya.

Selain itu, produknya banyak diserap pasar terutama pada ajang-ajang pameran, atau bila ada kunjungan tamu. “Dari situlah Batik Suroboyo dapat lebih dikenal masyarakat luas,” kata ibu 2 anak ini.

Mencermati persaingan yang terus berkembang, dirinya mengatakan perajin batik ibarat seniman. Kita harus dituntut untuk terus pandai membaca kemauan pasar. Lalu mengembangkannya dalam motif, warna, dan bahan.

naskah : m.ridlo’i | foto : wt atmojo