Siang itu suasana Jalan Raya Dukuh terlihat ramai dengan lalu lalang kendaraan dan aktifitas masyarakatnya. Namun, kondisi ini berbeda dengan yang ada di dalam Klenteng Yayasan Hok Tek Hian, sepi dan hanya ada 10 orang yang mulai bergegas beraktifitas.

Sebagian dari mereka ada yang mulai masuk ke sebuah ruangan, yang diperuntukan untuk pementasan Wayang Potehi. Sejurus kemudian, mulai terdengar bebunyian irama dari alat-alat musik. Seperti erhu (rebab besar), yana (rebab kecil), yang disusul siopak (kecer kecil), tua pah (kecer besar), jui (selompret), sioklo (gembreng kecil), tuak lo (gembreng besar), dongkok (tambur), pan (kayu ritme), dan beberapa peralatan lainnya yang biasa mengiringi pementasan potehi.

Namun, dari bermacam-macam alat musik itu dongkok dan pan yang memiliki peranan penting dalam sebuah permainan wayang potehi. Seperti yang dikatakan Mulyanto, sumber EastJava Traveler yang selaku salah seorang penanggung jawab grup Wayang Potehi Lima Merpati di Hok Tek Hian. Dia mengatakan pemain potehi harus paham betul memainkan dua alat itu. Karena keduanya yang akan menuntun alur sebuah pertunjukan.

“Setelah dongkok dan pan mengawali pertunjukan wayang potehi, baru setelah salah seorang dari kita mulai melakukan monolog tentang lakon yang diceritakan,” kata adik kandung Sukar Mujiono, Sang Pendiri Lima Merpati.

Menurut keterangan bapak dua anak ini, sebelum memainkan wayang potehi para pemain perlu melakukan ritual tujuannya agar dalam permainan nanti tiada halangan apapun. “Ritual itu seperti membakar Kim Cua atau sesaji dipersembahkan buat para dewa,” ujarnya.

Mengenai pakem khusus dalam memainkannya, dalam potehi memang ada beberapa pakem yang harus diikuti. Misalnya agar sang pemain paham betul dengan apa yang akan dimainkannya, maka harus paham bahasa dan belajar cerita lakon atau perwatakan dari tokoh-tokoh dalam wayang potehi.

Karena bahasa yang lebih baik digunakan adalah bahasa Cina atau tepatnya logat Hokkian, sebagai dialek mengawali permainan layaknya cerita aslinya. Baru kemudian dalam pertengahan lakon digunakan Bahasa Indonesia, hal ini untuk memudahkan penonton mudah memahami alur cerita. Dengan maksud lain penduduk pribumi pun tetap dapat menikmati cerita yang dimainkan.

Begitupun terkait dengan perwatakannya, pemain harus mengerti karakter dari sang tokoh dalam potehi. Dalam wayang potehi sendiri diketahui ada sebanyak 110 potehi karakter tokoh, yang biasa disimpan dalam sebuah kotak peti.

Hiburan Dewa
Sekilas bila dilihat wayang potehi memang begitu sederhana. Mulai dari bahan wayangnya, hingga pada sebuah adegan pertunjukan. Walau jaman sekarang ini terus berkembang di tengah era modernisasi.

Hal ini dikarenakan dalam sebuah pertunjukan nuansa sakral tetap ada. Lantaran wayang potehi dapat dibilang adalah bagian dari media dalam beribadah umat Tionghoa. Sebuah bentuk persembahan pada para dewa.
Menurut ceritanya, potehi sendiri berasal dari kata poo (kain), tay (kantung) dan hie (wayang). Jadi arti dari wayang potehi adalah wayang boneka yang terbuat dari kain yang menjalankannya dengan cara dikantungkan pada tangan manusia. Sang dalang akan memasukkan tangan mereka ke dalam kain tersebut dan memainkannya layaknya wayang jenis lain.

Wayang potehi juga merupakan unsur seni yang telah mengalami proses akulturasi budaya. Di Indonesia, wayang ini merupakan salah satu kesenian kebudayaan gabungan dari budaya Tionghoa-Indonesia. Kesenian ini mulai masuk di bumi pertiwi sudah sejak 300 tahun silam, tepatnya adalah di Kota Semarang. Sejak itulah wayang potehi terus berkembang, hingga menjebar ke beberapa kota besar. Salah satunya adalah di Kota Surabaya.

Di daerah asalnya, di Propinsi Hok Kian Negara Cina kesenian ini sudah berumur sekitar 3.000 tahun. Legendanya, seni wayang ini bermula dari lima orang narapidana di sebuah penjara. Kelimanya dijatuhi hukuman mati. Namun, empat orang di dalam sel hanya bisa bersedih saja, tetapi satu orang punya ide cemerlang dan tak malah bersedih seperti lainnya.

“Ketimbang bersedih menunggu ajal, lebih baik menghibur diri,” katanya waktu itu pada keempat napi lainnya. Maka, lima orang ini mengambil perkakas yang ada di sel seperti panci dan piring. Lalu mulai menabuhnya sebagai pengiring permainan wayang dari tangan mereka. Bunyi sedap yang keluar dari tetabuhan darurat ini terdengar juga oleh kaisar, sang kaisar pun merasa senang dan terhibur oleh persembahan mereka. Hingga akhirnya memberi pengampunan buat mereka berlima.

Karenanya, wayang potehi memiliki filosofi bagi siapa saja yang menanggap pagelarannya, adalah sebagai bentuk persembahan bagi para dewa. Wayang Potehi adalah hiburan yang dipersembahkan untuk dewa-dewa,” ujar Mulyanto lagi.

Begitupun dalam pertunjukannya, imbuh Mulyanto, kita tetap bermain secara rutin tanpa menunggu seberapa besar animo orang. Artinya, ada yang menyaksikan atau tidak, wayang potehi tetap digelar. Karena tujuannya adalah untuk sesembahan bagi para dewa.

Diperkirakan jenis kesenian ini sudah ada pada masa Dinasti Jin yaitu pada abad ke 3 sampai 5 Masehi. Dan, berkembang pada Dinasti Song di abad 10 sampai 13 Masehi. Beberapa lakon yang biasa dibawakan dalam wayang potehi adalah Sie Jin Kwie, Hong Kiam Cun Ciu, Cun Hun Cauw Kok, dan Poei Sie Giok. Setiap wayang bisa dimainkan untuk pelbagai karakter, kecuali Bankong, Udi King, Sia Kao Kim, yang karakter mukanya tidak bisa berubah.

Dulunya wayang potehi hanya memainkan lakon-lakon yang berasal dari kisah klasik dari daratan Cina, seperti kisah legenda dinasti-dinasti yang ada di Cina terutama jika dimainkan di dalam klenteng. Akan tetapi menurut Sukar Mujiono, Sang Pendiri Grup Kesenian Wayang Potehi Lima Merpati, saat ini wayang potehi seiring berkembangnya jaman sudah mengambil cerita-cerita di luar kisah klasik. “Contohnya adalah cerita tentang legenda Kera Sakti, dan beberapa cerita menarik lainnya,” imbuhnya.

Ke depan, beberapa penggiat wayang potehi punya sedikit harapan terhadap kelestarian kesenian ini. Seperti yang diutarakan Mulyanto pada EastJava Traveler, wayang potehi kelak harus tetap dapat diterima masyarakat pribumi. Secara luas keberadaannya dapat berada sejajar dengan kesenian-kesenian yang lain. Sehingga dapat memperkaya khasanah budaya di Indonesia.

naskah : m. ridloi | foto : wt atmojo