Gae Koen Tok sebagai toko yang menjual pernak-pernik khas Surabaya kini sudah tidak asing lagi bagi penduduk lokal maupun internasional. Karena pernak-pernik tersebut sudah berhasil terjual ke berbagai negara seperti Belanda, Inggris, dan Kanada. Dibuka sejak tanggal 23 Agustus 2010 toko ini menjual t-shirt, polo shirt, mug, topi, pin, dan tempat pensil dengan harga yang terjangkau.

Berbagai produk cinderamata tersebut dapat Anda temui di toko Gae Koen Tok di Jalan Klampis Jaya E no.17, Surabaya. Kalau tidak sempat ke toko langsung kunjungi saja via online store-nya di www.gaekontok.com. Atau bisa juga datang ke Batik Mirota, Surabaya Plaza Hotel, Noin brand, DBL store, dan Sopahola.

gaekoentok 2gaekoentok 3Filosofi nama dari Gae Koen Tok sangatlah sederhana. Menurut Abi selaku pemilik mengatakan bahwa Gae Koen Tok adalah asli bahasa Suroboyoan. Kalau diterjemahkan ke bahasa Indonesia artinya adalah Buat Kamu Saja. Jadi pernak-pernik di sini sebagai wujud persembahan Abibayu untuk kamu-kamu saja, sama dengan nama dari toko ini.

Awal tujuan Gae Koen Tok didirikan bisa dikatakan cukup sederhana. Melihat kesuksesan Joger di pulau Bali dan Dagadu di kota Jogja, Abi berniat untuk membuat hal serupa namun di kota Surabaya. Menurut dia beberapa tahun lalu Surabaya sebagai kota wisata dinilai belum memiliki toko pernak-pernik khas Surabaya. Maka diwujudkanlah impian alumnus Universitas Ciputra tersebut. Di tahun keempatnya Gae Koen Tok bisa dikatakan cukup sukses. Dalam setiap bulannya toko ini mampu mendapat Rp 20.000.000 hingga Rp 30.000.000.

Sebagai merek yang sudah sukses dan terkenal rasanya kurang pas kalau tidak melakukan aksi sosial kepada masyarakat. Begitu pula yang dilakukan oleh Gae Koen Tok sebagai rasa terima kasih kepada warga Surabaya. Pada 26-28 Agustus 2014 kemarin Gae Koen Tok berkolaborasi dengan pameran Tugas Akhir DKV UK.Petra. Mereka menjual kaos seharga Rp 89.000 dan gelang Rp 15.000. Setelah dana semua terkumpul maka akan disumbangkan kepada SSCS. Sebuah organisasi yang fokus pada anak-anak jalanan di Surabaya.

naskah | foto: herwin widodo