Menjaga tradisi warisan budaya leluhur agar tetap bertahan. Sebuah upaya yang tak mudah di masa seperti sekarang.Tapi bagi beberapa orang di Dusun Mojo, Kecamatan Bringin, Kabupaten Ngawi, jalan ini jadi sebuah keharusan. Beberapa perajin gamelan di tempat ini, terus bergiat untuk melestarikan tinggalan nenek moyang bangsa. Salah satunya di sebuah rumah, yang di bagian atap depan rumah terpampang spanduk bertuliskan UD Pringgodani. Gamelan-gamelan itu terlahir.

Siang itu sayup-sayup alunan irama lagu jawa terdengar menyapa langkah menuju ke garasi sebuah rumah yang terdapat banyak tertata rapi beberapa perangkat gamelan, seperti siter gong, kenong, bonang dan tumpukan wayang kulit.

Seperti diketahui usaha kerajinan gamelan di tempat itu adalah milik Ki Sukadi Sasmitoadji, seorang perajin gamelan yang mengaku membuatnya karena dasar cinta pada budaya Jawa dan sebagian lantaran hobi.

Menurut Ki Sukadi, usaha yang dilakukannya juga berdasar pada kultur Ngawi masih kental dengan nuansa Jawa. Karena itu, mulai sekitar 2001 lalu didasari rasa hobi saya sejak duduk di bangku kuliah, usaha membuat gamelan ini mulai saya kerjakan,” ujar alumni Universitas Negeri Surabaya jurusan fisika pada EastJava Traveler.

Ketika membuat satu paket gamelan bukanlah sebuah upaya yang mudah dan butuh waktu yang singkat. Dari penjelasan pria berusia 43 tahun itu diperoleh informasi, pembuatan kenong, salah satu alat gamelan misalnya, memakan waktu cukup lama. “Untuk membuatnya hampir satu bulan. Mulai dari kuningan hingga jadi seperti alat musik ini,” ulasnya, yang sedang melakukan proses pembersihan karat dari kenong.

Selain untuk membuat penyangga gamelan atau (gayor dalam bahasa jawa, red), mulai bonggol kayu berbentuk kotak pun juga membutuhkan masa penggarapan yang lama. “Mulai dari kayu kotak di gambar bentuk naga lalu nantinya dipahat,” sela Adi, salah seorang pegawai Ki Sukadi yang sedang memulas gayor dengan brown.

Sementara dari segi ukuran, model atau bahan sesuai dengan tradisi lama atau mengikuti panji terdahulu. Tradisi dalam sebuah pembuatan gamelan sendiri jika di lihat dari sejarah pendahulu atau empu empu kita ternyata didapati unsur magis. “Kalau dulu atau masa panji dan empu (pembuat keris dan ala persenjataan kerajaan) mereka melakukan puasa, serta menjalani mo limo secara terus menerus sesuai dengan hari kapan mereka membuat gamelan hingga akhirnya mampu merampungkannya,” tutur Ki Sukadi lagi.

Dari usaha yang dirintis ini banyak juga pemesanan yang datang dari luar Jawa. Seperti Sumatera Sulawesi, bahkan hingga luar negeri. ”Rata rata mereka yang memesan adalah dalang, kolektor barang-barang unik dan orang umum,” jelas pria berkacamata ini.

Untuk pemasarannya, pria kelahiran Ngawi 5 juli 1966 mengaku masih melalui cara tardisonal, seperti penyebaran info melalui brosur, dan ada rencana menyiapkan sebuah website dengan mengajak kerjasama dinas pariwisata setempat.

Di tengah modernisasi jaman sekarang ini, beberapa perajin di desa itu mengaku mempertahankan eksistensi perajin gamelan. Apalagi dari sisi modal atau pembiayaan untuk pembelian bahan baku gamelan yang sulit diperoleh.

Karenanya seperti seorang Ki Sukadi, terkadang berusaha mencari tambahan untuk biaya kehidupan dengan melayani order berupa tanggapan pentas. Saat menjalani pementasan biasanya beberapa alat yang dipakai alat yang sudah jadi dulu, lalu bila alat tersebut telah diambil kembali oleh sang pemesan maka peyangga itu diganti kembali. Kalau laku pancikan diganti dengan baru dan dibersihkan dengan watu ijo yang dicampur bensin untuk menggosok pakai kain, dan terakhir pakai gamping (kapur).

“Bila dalam bentuk pentas, gamelan dalam satu paket pertunjukan tampil bersama seni wayang, hampir satu malam dalam mengiringi pertunjukan tari-tarian serta wayang,” tambahnya.

Keselarasan
Bagi perajin gamelan seperti Ki Sukadi, alat musik ini memiliki makna filosofi hidup budaya Jawa yang diungkapkan dalam sebuah seni musik. Yang didalamnya merupakan sebuah keselarasan antara kehidupan jasmani dan rohani. Keselarasan dalam hal berbicara dan bertindak sehingga tidak memunculkan ekspresi yang meledak-ledak serta mampu mewujudkan toleransi antar sesama.

Dirinya juga mengatakan wujud nyata dalam musik gamelan adalah tarikan tali rebab yang sedang, paduan seimbang bunyi kenong, saron kendang dan gambang serta suara gong pada setiap penutup irama. Sedangkan dari arti kata gamelan sendiri berasal dari bahasa Jawa, yakni gamel yang berarti memukul atau menabuh.

Mencoba menarik ke belakang mengenai sejarah gamelan, ada di tanah Jawa sejak jaman kerajaan Airlangga, namun dahulu cuma hanya ada kenong. Lalu terus menerus berkembang menuju sudah hampir komplit untuk perlatan gamelan itu sendri. Ketika itu gamelan juga memasuki Jawa dengan perantara berbagai macam cara. Berawal dari masuknya Sunan Kalijogo, sekaligus membawakan Islam dengan mengenalkan gamelan di tanah Jawa.

Dalam mitologi Jawa, gamelan dicipatakan oleh Sang Hyang Guru pada Era Saka, dewa yang menguasai seluruh tanah Jawa, dengan istana di gunung Mahendra di Medangkamulan (sekarang Gunung Lawu, red). Sang Hyang Guru pertama-tama menciptakan gong untuk memanggil para dewa. Untuk pesan yang lebih spesifik kemudian menciptakan dua gong, lalu akhirnya terbentuk set gamelan.

Jika di tarik sejarah mengenai penemuan sejarah tentang gamelan yang ada sebenarnya merupakan gambaran tentang alat musik ensembel pertama ditemukan di Candi Borobudur, Magelang Jawa Tengah, yang telah berdiri sejak abad ke-8. Alat musik itu semisal suling bambu, lonceng, kendhang dalam berbagai ukuran, serta kecapi, alat musik berdawai yang digesek dan dipetik, ditemukan dalam relief tersebut. Namun, sedikit ditemukan elemen alat musik logamnya. Bagaimanapun, relief tentang alat musik itu dikatakan sebagai asal mula gamelan.

naskah dan foto:dhimas p