Relung masa terus bergulir, seiring derasnya terpaan zaman. Meski kadang tertahan, nilai luhur seni dan budaya nusantara terus terpancar. Salah satunya, dari Museum Mpu Tantular.

Galeri Von Faber salah satu ruangan di Museum Mpu Tantular siang itu nampak ramai. Puluhan orang, baik yang berseragam dinas pemerintahan, dan beberapa seniman bergegas mengusung arca-arca dan benda-benda seni ke dalam galeri tersebut.

Benda-benda bersejarah itu sengaja dipindahkan dari ruang Majapahit (tempat pameran tetap) ke galeri Von Faber, sebuah ruang yang didesain untuk acara pertunjukan seni dan budaya. Memang keesokan paginya di tempat ini diadakan seminar dan pameran kesenian Misteri di Balik Sketsa Jiwa dan Energi.

Para seniman berkumpul guna berembuk persoalan magis dari lembar demi lembar gambar yang mengandung nilai seni. Semua ditujukan demi melestarikan eksistensi budaya leluhur. Aktifitas itulah yang dapat disuguhkan, sebagai kedudukan fungsional lainnya dari museum yang kini terletak di Jalan Buduran Sidoarjo itu.

Bahkan, bukan hanya itu saja kelestarian seni dan budaya dikembangkan. Edi Irianto, Kepala Sub Bagian Tata Usaha Museum Mpu Tantular menuturkan, sebelumnya seringkali diadakan kegiatan kesenian dan kebudayaan, tentu dengan tidak menyampingkan aspek edukatifnya. “Biasanya para pelajar maupun masyarakat umum memanfaatkan alat-alat tradisional yang ada di dalam museum, seperti dakon dan gamelan, untuk berlatih serta bermain,” katanya.

Seiring bergulirnya masa, Edi menambahkan kedepannya museum ini jika dilihat ada nilai positif dari unsur wisata, seni dan budaya, khususnya bagi masyarakat umum. “Kami pun sangat berobsesi untuk menjadikan tempat ini sebagai sarana wisata, seni dan budaya,” tukas pria berusia 45 tahun itu.

Kedudukan museum ini sebagai sentra seni dan budaya memang masih di-godok oleh instansi terkait, dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Timur bersama dengan Dinas Pariwisata Jawa Timur. Mengenai hal ini, Harun, Kepala Dinas Pariwisata Jatim mengatakan, kalau dilihat dari sisi budayanya memiliki potensi yang tinggi bagi pariwisata, maka kedepannya museum ini akan dikelolah lebih baik dengan tujuan mendongkrak minat wisatawan Jawa Timur.

Von Faber
Berdirinya Stedelijk Historich Museum Surabaya yang didirikan, Von Faber, kolektor berkebangsaan Jerman yang sudah menjadi warga Surabaya, merupakan awal mula berdirinya Museum Mpu Tantular.

Usaha Von Faber mendirikan museum tersebut telah dirintis sejak 1922, tetapi baru tahun 1933 baru dapat terwujud. Sedangkan pembukaannya secara resmi dilaksanakan pada 25 Juni 1937.

Sebelum bernama Mpu Tantular, museum ini berganti nama dari Stedelijk Historich Museum Surabaya menjadi Museum Jawa Timur pada tahun 1972. Kemudian pada 1 November 1974 resmi berganti nama menjadi Mpu Tantular.

Lagi-lagi dengan iktikad awal sebagai wujud apresiasi seni dan budaya. Demi mengabadikan dan berharap berkah dari seorang pujangga besar Kerajaan Majapahit, sekaligus pengarang kitab Arjunawijaya dan Sutasoma. Di tahun itulah museum tersebut diberi nama Museum Mpu Tantular.

Lokasi Museum
Mengenai lokasi Museum Mpu Tantular boleh dibilang berpindah-pindah tempat. Pada mulanya bertempat di Raadhius Ketabang, kemudian pindah di Jalan Tegalsari di rumah janda Han Tjiong King. Setelah itu berpindah ke Jalan Pemuda 3 Surabaya (sekarang SMU Trimurti), dan berikutnya pindah lagi ke Jalan Taman Mayangkara 6 Surabaya. Selanjutnya pada 14 Mei 2004 menempati lokasi tetap di Jalan Raya Buduran (Barat Jembatan Layang, Buduran, Sidoarjo).

naskah : m. ridlo’i | foto : mamik w