Seni yang sarat dengan nilai perjuangan dalam menjaga sebuah wilayah ini, kembali menuai angin segar. Penampilannya kian diakui dunia di tengah jaman yang makin beringsut dari khasanah tradisinya.

Mendadak pelataran Gramedia Expo di Jalan Basuki Rahmat Surabaya sore itu tampak semarak. Warga kota bercampur dengan para undangan berkumpul. Mata mereka tertuju pada ratusan penabuh berbaju lorek merah dan putih disertai dengan celana berwarna hitam.

Mereka kelihatan riang dan asyik menikmati suara yang muncul dari alat-alat yang dipukul dari penabuh. Sambil menatap keindahan rancak gerak tangan para penabuh, sesekali mereka ikutan hanyut menyimak alunan dendang khas Madura.

Ya, orang yang memadati tempat itu sedang menyaksikan atraksi Musik Tong-tong asal Kabupaten Sampang, Madura. Ada yang mengatakan jika di daerah asalnya musik tong-tong disebut juga dengan Musik Daul Tuk-tuk.

”Tuk…tuk…tuk…tong…tong…tong…,” begitulah bebunyian yang keluar dari tetabuhan yang dilakukan ratusan orang yang membawakannya. Karena bunyi suara alat musik yang keluar seperti itulah sehingga kesenian ini dinamakan seni musik tong-tong.

Dalam sebuah peragaan seni musik ini, biasanya digunakan beberapa benda untuk tetabuhannya. Seperti drum minyak, drum ikan, gong, gamelan, kuali dan gong. Tak lupa pula selompret yang biasa dipakai pada kesenian musik saronenan.

Namun dalam memainkannya tidak aturan pakem yang harus dipenuhi oleh para pemain atau penabuh. Terpenting adalah semangat dan kekompakan untuk memainkannya. Mengingat musik ini mewarnai identitas masyarakat Pulau Garam. Penuh semangat dan berani.

”Memainkan musik tong-tong harus dengan serempak, kompak, dan penuh semangat. Sehingga kesan dan identitas daerah kami pun muncul,” papar Sodikun, 33 tahun, salah seorang pemain musik tong-tong.

Dari pokok itulah musik tong-tong melenggang. Semua melebur di antara keanekaragaman yang senantiasa diaktualkan untuk mengawal jaman yang terus berubah ini.

Sejak 1970
Siapa sangka menurut catatan sejarahnya musik tong-tong ini, ada sejak tahun 1970-an. Seperti yang diceritakan Ahmad Bahrawi, salah seorang penggiat musik tong-tong asal Sampang pada EastJava Traveler. Dia mengatakan musik tong-tong ada di Sampang pada tahun 1970-an.

”Saat itu musik ini digunakan sebagai musik patrol oleh masyarakat setempat. Terutama saat Ramadhan tiba digunakan untuk membangunkan orang saat waktu sahur,” tutur Bahrawi.

Lebih lanjut pria yang memliki nama panggilan Mamak ini menjelaskan, karena begitu legendarisnya musik ini hingga kami warga Sampang bikin pagelaran even tahunan, yakni lomba musik tong-tong setelah Lebaran.

Selain itu, dari literatur sejarah versi lain yang mencatat tentang kisah musik tong-tong. Di bagian ini didapati jika musik tong-tong populer pada tahun 1999. Saat itu kabel bawah laut yang merupakan aliran listrik di Pulau Madura putus. Sehingga suasana pun gelap gulita selama berbulan-bulan.

Peristiwa ini mengakibatkan wilayah Madura tidak aman dari tindak kriminal. Kemudian musik ini menjadi inisiatif warga untuk meredam tindak kriminal dengan melakukan patrol setiap malam hari. Suasana desa yang sunyi sepi pun tersulap menjadi ramai gegap gempita akibat adanya musik tong-tong. Terus menyanyi, menari, dan menabuh sambil berjalan-jalan mereka mengamankan dari bahaya.

Corak
Hal unik lain yang ada pada musik tong-tong diantaranya terletak pada pembawaan dan tata busana para penabuh. Menurut keterangan beberapa penabuh mengenai pembawaan haruslah selalu terlihat ceriah, serta penuh semangat dalam bermain. Seperti tawa, kekuatan memukul drum, lantang suara, dan gerak tubuh.

Betapa tidak karena musik ini sesuai dengan sejarahnya menggambarkan gagah perkasa, dalam hal menjaga wilayah tempat tinggal mereka dari marabahaya. Bahkan untuk membuat rasa aman bagi warga lain yang sedang lelap dalam tidurnya.

Sedangkan tata busana para penabuh, pada dasarnya semua sama. Antara penabuh yang satu dengan penabuh yang lain. Antara yang membawakan alat musik drum dengan gong, ataupun pembawa selompret semua sama.

Mereka lengkap dengan busana khas masyarakat Madura. Kaos lorek merah putih dengan celana kain berwarna hitam. Dan, tak lupa pula selalu mengenakan peci hitam dikepalanya.

Begitu detilnya dalam mengatur pembawaan dan tata busana para penabuh musik tong-tong, sehingga membuat seni musik ini begitu nampak indah ketika digelar. Alasan lain karena bagian-bagian seperti ini menggambarkan nilai-nilai keluhuran, tingginya budaya Madura, dan juga semangat dalam menjaga keamanan wilayah.

Mamak menjelaskan kembali, musik tong-tong ibarat sebuah pusaka yang bertuah. “Kalau kita pandai menjaga dan merawatnya, maka manfaat beberapa kelebihannya akan terasa bagi masyarakat luas,” lanjutnya.

Karenanya sebagai salah seorang penggiat musik tong-tong, dirinya berharap hingga kelak seni ini dapat tetap lestari dan dapat terus berkembang. “Bahkan orang yang mau memainkannya kalau bisa dari segala lapisan, baik sosial maupun usia,” harapnya.

Rekor MURI
Menelusuri perkembangan seni khas Sampang ini tak beda dengan kesenian tradisi di berbagai daerah lainnya. Untuk waktu yang lama, seni musik ini pun pernah tenggelam. Bahkan kalah pamor dengan kesenian lebih populer.

Beruntung setelah tahun 1999-an dilakukan beberapa even yang menggelar musik tong-tong, bersamaan dengannya juga dilakukan penggalian kembali dari daerah asalnya.

Seiring waktu, sejak saat itu pula musik tong-tong terus berkembang. Tak lagi populer di wilayah Sampang saja, tapi tradisi memainkannya juga mulai menyebar di beberapa wilayah kabupaten lain yang ada di Madura. Seperti Bangkalan, Pamekasan, dan Sumenep.

Dari berbagai daerah lain yang memainkan musik tong-tong ini, diketahui tidak ada unsur pembeda. Mulai dari segi ciri khas busana, alat musik, tata rias penabuh, hingga gaya nyanyiannya. Terpenting adalah tetap satu budaya yakni budaya Madura.

Berkat tingginya apresiasi dan nilai budaya yang tersimpan dari seni musik ini. Juga atas keunikan musik ini, dan berdasar inisiatif masyarakat Sampang. Baru-baru ini musik tong-tong diusulkan untuk mendapatkan penghargaan dan masuk rekor MURI.

Hasilnya, bersamaan digelarnya Majapahit Travel Fair (MTF) 2009 beberapa waktu lalu, musik tong-tong berhasil masuk MURI dengan catatan rekor penabuh terbanyak. Yakni sebanyak 300 orang penabuh.

Dari buah prestasi membanggakan inilah, musik tong-tong dapat dikenal dunia. Selain itu tak ayal, seni musik ini kemudian menjadi tontonan rakyat yang digemari dan paling dinanti-nanti penampilannya.

“Mungkin karena dendang irama, gerak penabuh, kekompakan, dan semangat mereka yang selalu kita nantikan kehadirannya,” ungkap Yuli Anggraeni, 36 tahun, salah seorang pengagum musik tong-tong asal Bangkalan, Madura.

naskah : m. ridlo’i | foto : wt.atmojo