Di Madura banyak bentuk dalam melestarikan budaya. Salah satunya sapi sono atau kontes kecantikan sapi betina.

Sebagian besar masyarakat Pulau Garam menganggap sapi adalah bagian dari budaya. Karena itu pula setahun sekali diadakan event besar di sana. Yaitu sapi sono dan karapan sapi.

Kendati demikian, pada umumnya orang lebih mengenal karapan sapi daripada sapi sono. Padahal, kontes sapi betina ini juga termasuk salah satu warisan budaya.

Menariknya pada ajang sapi sono ini, 24 pasang sapi-sapi betina dari berbagai umur, dihias bak ratu kecantikan dengan dandanan menarik. Mulai dari kain beludru merah dan juga kuning, kayu ukir bentaos dari Karduluk (sentra ukiran Sumenep), juga tak ketinggalan kelintingan (bebunyian). Semua dipersiapkan para tongkok (joki, red), guna menambah indah suasana saat sapi sono melintas di atas catwalk sepanjang 25 meter.

Tak hanya itu yang dilakukan. Dalam pertunjukan sapi sono selalu dipadukan dengan iringan kesenian musik saronenan. Sebuah musik khas Madura yang di antaranya terdiri atas bunyi-bunyian selompret dari kayu jati.

Iringan musik saronen inilah menambah menariknya suasana sapi sono. Sehingga tidak hanya sapi yang dihias seperti pengantin, tetapi kelompok pemusik saronen juga dihias dengan seragam warna-warni.

Spontan di pinggir lintasan, ratusan penonton bersorak-sorai, adapula yang menyiuli sapi sono yang melintas dihadapan mereka. Meskipun panas mentari yang begitu menyengat tepat di atas kepala, namun tak mudah menyurutkan semangat.

Di balik penonton yang nampak bersemangat. Para peserta pun terlihat cukup antusias pada event sapi sono. Terbukti, sejak satu hari sebelum acara digelar di Lapangan Bakorwil IV Kabupaten Pamekasan, mereka sudah berdatangan dari berbagai daerah di Madura. Seperti Bangkalan, Sampang, Pamekasan, hingga Sumenep.

Seperti yang diakui M. Aziz, 46 tahun, pemilik sapi sono bernama Artis Safari. “Karena sapi sono termasuk salah satu budaya yang harus dijaga, maka sudah dua hari sebelum pelaksanaan saya sudah datang kemari,” ujar peserta asal Desa Dukabu, Kecamatan Abunten, Kabupaten Sumenep itu.

Kesopanan
Tak begitu populer bagai karapan sapi. Tetapi yang suka bukan kepalang banyaknya. Semua tertarik jika tak ikut serta dalam kontes kecantikan sapi betina ini.

Bagi sapi betina milik siapapun, dan dinilai paling cantik. Baik itu meliputi gerakan, busana, penampilan, maupun iringan musik saronen. Sang pemilik merasakan sebuah simbol kesopanan dan keberhasilan dalam melestarikan budaya. Karena sapi adalah budaya besar bagi masyarakat Madura.

Sedangkan pengertian dari sapi sono berasal dari bahasa Madura. Bila mengambil kata sono, berasal dari kata srono’, yang artinya masuk. Masuk di sini adalah berkaitan dengan awal mula budaya ini, yang kerap digunakan menyambut tamu yang datang di rumah warga Madura.

Namun, konon pula menurut sejarahnya sapi sono masih terkait dengan karapan sapi. Yaitu muncul sebuah keinginan dari sebagian masyarakat Madura, yang menginginkan adanya hiburan dalam menghadapi musim tanam tembakau.

“Karena Madura banyak terdapat pertanian tembakau, maka sebelum musim tanam mereka butuh hiburan rakyat hingga terlahir karapan sapi dan sapi sono,” papar Ali Mulyono, staf Badan Koordinasi Wilayah IV Pamekasan.

Ali juga menambahkan, jadi di Madura tidak cukup hanya menggunakan sapi jantan sebagai hiburan, seperti di karapan sapi. Melainkan juga menggunakan sapi betina sebagai bentuk sarana hiburan, seperti di sapi sono.

Sedangkan menurut Munasik, 28 tahun, Ketua paguyuban sapi sono Batu Marmar, Pamekasan, menjelaskan, dalam sapi sono menyimbolkan sebuah kesopanan dalam bertingkah laku. “Ini terlihat dari penampilan setiap pasang sapi yang nampak anggun, bersih, dan selaras,” tambahnya pada EastJava Traveler.

Karena simbol dan makna itulah, kata Munasik lagi, sejak sekitar tahun 1970-an di Madura, sapi sono mulanya digunakan sebagian masyarakat untuk penyambutan tamu dalam berbagai acara. Misal saja acara pernikahan, ataupun khitanan.

Sehingga bisa jadi sapi sono, sekaligus juga sebagai bentuk rasa syukur masyarakat Madura kepada Sang Pencipta. Kehadiran sapi sono bisa menjadi local genius berharga dalam memperkaya warisan budaya nenek moyang Madura.

Harus Dimanja
Istimewa memang sapi-sapi betina ini. Tidak seperti sapi-sapi pada umumnya yang digunakan membajak di ladang persawahan. Sapi betina untuk sapi sono harus mendapatkan perhatian ekstra dari empunya.

Seakan tak peduli, jutaan rupiah dikeluarkan demi menghasilkan sebuah sapi betina yang cantik nan gemulai.

Untuk makan saja terkadang harus disuapi. Belum lagi makanan yang diberikan tidak asal-asalan. Itu masih belum dilihat dari komposisi ramuan jamu yang harus diminummnya setiap hari.

Hal lainnya sapi betina untuk sapi sono, seluruh bulu di badannya harus dipotong pendek dan rapi. Bahkan untuk memandikannya harus di pandokan (tempat khusus untuk memandikan sapi), dengan diberi sabun pelembut bulu dan seluruh badan juga harus dipijat.

Sang pemilik sapi seakan tak salah bila memperlakukan sapi secara istimewa. Karena prestasi yang diraih akan memberikan sesuatu yang lebih.

“Bukan saja pada kesenangan tetapi juga pada kebanggaan,” ujar M. Tholha, pemilik sapi sono asal Sampang. Menurutnya lagi bagi sapi sono yang dinilai paling menarik, mampu mengangkat pamor sang pemilik.

Penuturan Tholha, dalam perawatan dirinya memberikan suplemen dan ramuan jamu khusus guna menjaga stamina. Dan makanan tambahan selain rumput, pada sapi sono juga diberikan 2 butir telur ayam kampung setiap hari. Namun mendekati satu minggu sebelum event biasanya komposisi ini ditingkatkan, hingga dua kali lipat.

Tidak sampai di situ saja untuk memanjakan sapi sono. Beberapa pemilik sapi sono mengaku, berani membayar orang (joki) untuk merawat sapi betina itu secara khusus setiap hari.

Joki sapi sono ini tidak sekedar bertugas memberikan perhatian lebih pada kondisi tubuh sapi. Melainkan juga melatih keselarasan dan gemulai gerakan kaki, yang nanti juga masuk dalam kategori penilaian di catwalk.

Penilaian
Penilaian dewan juri didasarkan pada sejumlah ketentuan yang disepakati bersama sebelumnya. Ketentuan yang harus dilakukan oleh setiap pasang sapi sono di antaranya adalah waktu perjalanan mulai berangkat hingga selesai dalam dua menit, tidak boleh kurang dan tidak boleh melebihi batas.

Jika sepasang sapi sono berjalan kurang dari dua menit sampai selesai atau melebihi batas waktu, dewan juri akan mengurangi lima angka. Setiap kali sepasang sapi sono menyentuh garis lintasan, juri berhak memberi sanksi pengurangan lima angka. Sementara sapi yang berbalik arah dinyatakan gagal atau didiskualifikasi.

Penilaian terbaik diberikan pada sepasang sapi yang berjalan lurus serasi antar gerakan kaki. Setelah itu sepasang sapi harus naik panggung yang terbuat dari papan, dengan menginjakkan dua kaki depannya di atas papan. Tepat di bibir papan kayu, dua kaki depan sepasang sapi harus serasi diam menunggu penilaian dewan juri.

Bila kaki tidak pas menginjak papan panggung, penilaian bisa berkurang. Begitu pun jika sepasang kaki depan sapi bergerak-gerak tidak tenang, penilaian juga akan berkurang.

Namun, dalam event sapi sono semua peserta berhak mendapatkan penghargaan dari panitia. Hal ini sangat berbeda dengan event karapan sapi, penghargaan hanya diberikan pada satu pemenang saja.

Naskah : m.ridlo’i | foto : wt atmojo