Dua ilmuwan luar negeri pernah meniliti tempat ini. Dengan penuh kekaguman mereka mengatakan, inilah goa alam terbesar di Asia Tenggara. Meski kesimpulan ini masih rentan polemik, setidaknya Goa Lowo (gua kelelawar, red) ini sangat layak untuk dilirik.

Tak sadar kaki terus melangkah. Sementara pandangan masih terus mengamati setiap detail sudut goa. Sambil bergumam dalam hati, inilah keagungan Sang Kuasa.

Detil batu berukir, terbentuk dari endapan kapur yang menetes bersama air, terlihat jelas dari balik cahaya lampu kecil yang dipasang di sudut-sudut goa. Sementara di bawah langkah kaki, terdengar gemericik air dari anak sungai mengalir pelan membelah sunyi.

Mengikuti arah aliran air itu beberapa orang mulai terus berjalan, penasaran ingin tahu ada apa di depan nanti. Kanan kiri mata terus mengamati dinding dan sudut goa, yang seolah terus memanggil untuk kita lirik.

Begitu juga dengan yang dirasakan EastJava Traveler, saat mengunjungi goa yang bernama Goa Lowo itu. Sebuah jujukan wisata yang berada di di Desa Watuagung, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur.

Lokasi goa itu, berjarak tempuh 30 kilometer dari Kota Trenggalek. Juga 30 kilometer dari Kota Tulungagung, dan kurang lebih 180 kilometer dari Kota Surabaya ke arah pantai selatan tepatnya ke arah Pantai Prigi, Kecamatan Watulimo. Sedangkan jarak Goa Lowo dengan Pantai Prigi sekitar 18 kilometer. Dan sekitar 19 kilometer dengan Pantai Pasir Putih Karanggongso.

Letak inilah bisa dibilang posisi yang cukup strategis dan mudah dijangkau. Karena keberadaannya yang satu jalur dengan obyek wisata Pantai Prigi dan Pantai Pasir Putih Karanggongso, membuat makin mudah bagi pengunjung karena dapat dalam bentuk satu paket tujuan wisata di Kabupaten Trenggalek.

”Biasanya para wisatawan yang datang ke Goa Lowo, melanjutkan kunjungannya sampai ke Prigi,” ujar Agus Rahmad, petugas jaga Goa Lowo.

Jumlah kunjungan wisatawan yang datang ke Goa Lowo, biasanya membludak saat akhir pekan. Terutama saat musim liburan datang. Mereka datang tak hanya dari Trenggalek saja. Tapi juga dari Madiun, Tulungagung, Kediri, Blitar, Pacitan, Magetan, Solo, Surabaya, bahkan Bali. ”Per bulan bisa mencapai ratusan orang yang datang ke sini,” imbuh Agus lagi.

Tak salah bila obyek wisata Goa Lowo, menjadi salah satu tumpuan pendulang Pendapatan Anggaran Daerah (PAD) Kabupaten Trenggalek. Hal ini tak lain dari adanya paket wisata yang coba ditawarkan pihak pemerintah di kabupaten seluas 1.205,22 kilometer persegi ini.

Meski, keberadaannya bersanding dengan beberapa tempat tujuan wisata lainnya. Bukan berarti masyarakat enggan berkunjung ke Goa Lowo. Hal ini tak lain, karena goa ini masih sangat alami, dan keindahannya tak kalah dengan beberapa goa lainnya yang ada di Jawa Timur.

Goa Terbesar
Menggambarkan keindahan Goa Lowo tidak akan lengkap, kecuali datang dan merasakannya sendiri. Selain stalagtit yang menggantung pada dinding atas goa. Begitu banyak bentuk menawan di sana. Ada yang menyerupai pantat gajah, singa, kura-kura, seorang putri, kaki, dan masih banyak bentuk menarik lainnya.

Menurut Kamto, 60 tahun, petugas UPTD Goa Lowo, pihaknya kurang jelas, mineral apa yang membentuknya seperti demikian. Tapi tak masalah, yang jelas bentuk-bentuk itu bak mutiara yang berkilau dikegelapan. Terlebih dengan kilau pantulan cahaya yang jatuh pada permukaannya, mewarnai tetesan air yang sungguh alami.

Bahkan informasi yang diperoleh dari pihak UPTD Goa Lowo. Goa ini adalah goa alam terbesar di Asia tenggara, dengan panjang goa 850 meter dan rata-rata ruang luas terdapat sembilan ruang utama, dan beberapa ruang kecil.

Data itu mereka peroleh dari penelitian dua ilmuwan ahli goa, yang dilakukan pada tahun 1984. Dan, dua ilmuwan yang berjasa itu adalah Mr. Gilbert Manthovani dan Dr. Robert K. Kho.

Namun, Kamto sendiri sangat menyayangkan, predikat Goa Lowo sebagai goa terbesar se-Asia Tenggara, didukung keindahan stalagtit dan stalagmit yang ada di dalam goa lambat laun memudar. Beberapa tahun terakhir seiring bertambah banyaknya jumlah kunjungan wisatawan, warna batu yang mengkilau tampak berubah kehitaman.

”Sungguh sayang seiring berjalannya waktu banyak yang perlahan berubah. Baik stalagtit maupun stalagmitnya,” papar Kamto.

Tidak heran ini terjadi, karena indah dipandang mata, membuat mereka yang masuk ke dalam goa penasaran ingin memegang. Dilihat saja rasanya segar, batu-batu yang terukir secara alami itu seperti selalu basah tersapu air. Belum lagi hawa lembab di dalam sana yang sejuk.

Bahkan yang sungguh menyedihkan, seperti saat EastJava Traveler datang ke sana. Menemui beberapa pengunjung dengan asiknya merokok di dalam goa, seolah tanpa berpikir efek buruk yang diakibatkan dari asap rokok bagi kelangsungan alam bebatuan di sana.

Sementara di sudut lain, masih saja kita temui beberapa pasang muda-mudi yang terlihat sedang menjalin kasih di dalam goa. Jumlahnya saja tak hanya satu, dua, tiga pasang, malah lebih dari itu.

Melihat kondisi yang sedang terjadi, pihak pengelolah bukan tinggal diam saja. Kamto mengatakan, dengan dibantu pihak Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Trenggalek, tak kurang-kurang untuk memberikan himbauan pada pengunjung.

Adapun cara untuk tetap melestarikan goa ini, adalah dengan membatasi jumlah pengunjung. ”Harus diakui, mau tidak mau, dengan makin banyaknya pengunjung akan memicu perubahan kondisi dalam goa,” tutur Kamto. Tapi, solusi itu dirasa oleh pihak pengelolah tidak mungkin, karena mulai tahun 1984, tempat ini sudah ditetapkan sebagai salah satu jujukan wisata di Kabupaten Trenggalek.

Sehingga hanya dilakukan beberapa upaya pelestarian di kawasan goa. Seperti pembuatan tangga masuk goa, jalan yang memadai di dalam goa, penerangan dari lampu yang dipasang didalamnya, lalu dibukanya sarana dan prasarana penunjang bagi pengunjung. Seperti warung, mushola, wc, tempat parkir, dan lainnya.

Bertemu Kelelawar
Penamaan goa dengan sebutan Goa Lowo, tak lepas dari cerita sejarah yang dipercayai masyarakat setempat. Seperti yang diceritakan Kamto, yang sudah sepuluh tahun menjaga tempat ini. Kisah Goa Lowo, bermula dari sesepuh desa yang bernama Mbah Lomedjo. Saat itu tepatnya pada tahun 1914, dia masuk hutan untuk mencari tempat bersemedi.

Dan, diketemukanlah goa kecil yang dianggap cocok untuk bertapa. Yakni sebuah goa dekat dengan kedung yang berwarna kebiru-biruan. Yang pada akhirnya goa itu dinamakan Goa Kedung Biru. Letak Kedung kurang lebih 600 meter timur laut dari Goa lowo.

Dari hasil upaya puasa, semedi, dan permohonan pada Sang Kuasa, akhirnya berbuah hasil. Mbah Lomedjo mendapat mimpi jika di sekitar tempat dirinya bertapa terdapat sebuah goa besar, yang didalamnya bersembunyi hewan-hewan buruan dengan aman.

Esok harinya, Mbah Lomedjo menelusuri hutan belantara, hingga diketemukan mulut goa yang besar, gelap, dan dipenuhi kelelawar dengan bau yang menyengat hidung. Dari sinilah akhirnya dinamakan goa ini dengan sebutan Goa Lowo (Goa Kelelawar).

Menuju ke Goa Lowo?
Lokasi goa ini berjarak tempuh 30 kilometer dari Kota Trenggalek. Juga 30 kilometer dari Kota Tulungagung, dan kurang lebih 180 kilometer dari Kota Surabaya ke arah pantai selatan tepatnya ke arah Pantai Prigi, Kecamatan Watulimo. Sedangkan jarak Goa Lowo dengan Pantai Prigi sekitar 18 kilometer. Dan sekitar 19 kilometer dengan Pantai Pasir Putih Karanggongso.

Untuk jalur akomodasi, dapat dilalui dengan berbagai macam jenis kendaraan. Baik kendaraan pribadi, bus pariwisata, maupun angkutan umum. Bagi pengunjung yang memanfaatkan angkutan umum, dengan rute transit di Terminal Tulungagung, lalu naik MPU jurusan Durenan, setelah di Terminal Durenan ganti naik MPU jurusan Prigi.

Letak inilah bisa dibilang posisi yang cukup strategis dan mudah dijangkau. Karena keberadaannya yang satu jalur dengan obyek wisata Pantai Prigi dan Pantai Pasir Putih Karanggongso, membuat makin mudah bagi pengunjung karena dapat dalam bentuk satu paket tujuan wisata di Kabupaten Trenggalek.

naskah : m.ridlo’i | foto : wt atmojo