Apa jadinya jika kelapa muda disajikan dalam keadaan hangat. Lengkap dengan aroma dan rasa yang gurih, khas kelapa muda bakar.

Biasanya, kelapa muda lebih segar jika diminum sewaktu dingin. Dalam sebuah gelas, dicampur es batu, dan beberapa sendok sirup.

Tetapi di warung Bu Karyono yang terletak di pinggir jalan Jemursari Prapen, Surabaya, kelapa muda disajikan dengan cara yang beda. Selain menu es kelapa muda, ia menyiapkan menu andalan, degan bakar (degan, sebutan populer untuk kelapa muda, red).

Di warung Bu Karyono, kelapa mudanya tidak lagi berwarna hijau. Tetapi cokelat kehitaman. Ternyata, degan-degan itu berubah warna karena ditaruh di atas bara api kecil.

Bu Karyono mengaku, proses ini berjalan selama kurang lebih satu setengah jam. Setelah itu, selagi masih panas, degan dikupas kulit luarnya dan diberi campuran susu, telur, madu, jahe (STMJ) dan gula.

Tetapi jika Anda tidak ingin diberi STMJ, bisa langsung meminumnya. Pengupasan kulit degan bakar ini tidak sesulit degan yang biasa. Karena kulit degan bakar ini menjadi lebih lunak, sehingga makin mudah untuk dikupas.

Penyajiannya juga sama dengan es degan biasa. Disajikan di dalam batok atau tempurung kelapa. Sehingga, salah satu sensasi yang paling terasa saat menikmati degan bakar adalah, ketika membuka tutupnya pertama kali.

Asap keluar perlahan, membawa aroma daging kelapa muda yang menggoda.

Asli Kalimantan
Bagi sebagian besar masyarakat Jawa Timur, mungkin masih asing dengan degan bakar. Karena degan bakar ini aslinya dari Kalimantan.

Meski demikian, kelapa muda di warung Bu Karyono ternyata didatangkan dari Jember dan Lumajang, bukan dari Kalimantan.

Lantas selain rasa, apalagi kelebihan degan bakar? “Punya manfaat kesehatan, terutama untuk penyakit dalam,” kata Bu Karyono. Degan bakar, lanjut wanita asal Jombang ini, bisa menyembuhkan kencing batu, kencing manis, herpes, masuk angin, dan masih banyak penyakit dalam lainnya.

“Tetapi tidak bisa dalam sekali minum. Harus empat atau sampai lima kali minum, baru terasa,” tukasnya.

Harga degan bakar di warung ini berkisar dari Rp 10 ribu sampai Rp 14 ribu, tergantung dari jenis degannya. “Kalau jenis degan hijau harganya lebih mahal, karena manfaatnya lebih manjur,” imbuh Bu Karyono. Dan untuk membedakan degan hijau dengan degan biasa, kita bisa melihat dari bagian atasnya. Jika degan hijau, maka atasnya berwarna kemerahan. Sedangkan degan biasa tidak.

Jika Anda berminat untuk mencoba gurihnya degan bakar ini, Anda bisa langsung datang ke Jalan Jemursari Prapen, Surabaya pada pukul 08.00 sampai dengan 21.00. Atau alternatif lain, bisa coba di kawasan Jl Semarang dan Jl Ahmad Yani, Surabaya.

naskah dan foto : arista ika