Pusat Kebudayaan Perancis (CCCL) kembali menggelar pameran foto dengan tema Perjalanan Masa Lalu pada 4 hingga 18 Agustus 2009 mendatanga. Tak kurang dari 80 potret hitam putih karya Alphons Hustinx, fotografer asal Belanda, dipajang di CCCL, Jalan Darmo Kali 10, Surabaya.

Foto-foto yang dipamerkan ini merupakan hasil eksplorasi Alphons Hustinx, sepanjang tahun 1930-1950.

”Ini merupakan kerjasama kami yang kedua kalinya setelah konser musik duo akordeon toeac pada mei lalu, dengan yayasan pendidikan dan kebudayaan Belanda (YPKIB),” ujar Louis Zweers, kurator dalam pameran foto ini.

Tak hanya pameran foto, dalam event ini digelar pula pemutaran film berjudul Kleur en glorie onzer tropen. Film dokumenter ini berkisah tentang perjalanan Alphons Hustinx dalam menapaki dunia fotografi dari masa ke masa.

”Dengan adanya pameran foto masa lalu ini kita bisa jadikan foto sebagai bahan evaluasi kedepan, untuk menyikapi perkembangan seni dan budaya yang terekam dalam lensa yang semakin berkembang,” imbuh Hari Ong, salah satu fotografer kawakan di Surabaya yang juga hadir di malam pembukaan.

Dari sekian banyak foto Hustinx, ada beberapa foto yang mencuri perhatian sejumlah pengunjung. Seperti suasana Gunung Bromo, foto human interest tentang seorang pemuda yang menghias wajahnya dengan Bagong, atau foto tentang karapan sapi yang juga menjadi salah satu ciri khas Jawa Timur. Hampir seluruh wilayah indonesia saat itu terekam oleh bidikan Alphons. Tak hanya itu beberapa rekaman foto juga menangkap Borobudur serta stupa stupanya di bawah sinar matahri yang menyengat.

Alphons juga merekam kehidupan masyarakat Minangkabau dan para wanita dengan keindahan busana yang beraneka warna serta kehidupan wanita sekitar Danau Toba saat itu.

naskah dan foto : dhimas prasaja