Meski sebagian besar perajin telah gulung tikar, kawasan ini tetap dikenal sebagai kampung topeng kertas. Beberapa yang tersisa, terus bekerja keras untuk bertahan dalam situasi yang sulit. Karena yang ingin mengenang masa lalu, tentu tak lupa untuk mampir di kampung topeng ini.

Di balik dinding rumah yang kusam itu, nampak topeng-topeng kertas bergelantungan di ruang tengah. Sementara di teras rumah yang berlamatkan di Jl Girilaya VII/21, nampak aaaaa orang sibuk memasukkan topeng-topeng kertas dalam karung. “Ini mau disiapkan untuk pesanan dari Lamongan,” jawab Choirul Anam.

Choirul Anam, adalah satu di antara sekian banyak perajin topeng kertas di Kampung Girilaya yang masih bertahan. Hari-harinya diisi dengan kegiatan membuat topeng keratas, dengan bermacam-macam rupa. Mulai dari binatang, boneka teletubies, monster, dan masih banyak bentuk lainnya.

“Entah sampai kapan saya terus bertahan menjadi perajin topeng, apalagi usaha ini melanjutkan profesi orang tua yang sudah meninggal,” tutur bapak dua anak itu.

Menurutnya, dari usaha membuat topeng kertas dari segi penghasilan belum seberapa cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. “Apalagi kini di jaman yang serba susah semua kebutuhan mahal,” kata pria berusia 44 tahun ini.

Tapi dirinya masih merasa bersyukur. Karena topeng-topeng kertas hasil produksinya sudah banyak yang mengambil, bahkan dari dalam Kota Surabaya saja tapi sudah sampai luar kota. Seperti Sidoarjo, Bangil, Pasuruan, Gresik, Lamongan, Blitar, dan Malang.

Biasanya, Choirul Anam menuai rejeki lebih saat menjelang datangnya hari-hari besar. Seperti Maulud Nabi, tahun baru, bulan ramadhan, dan lebaran. ”Beberapa pembeli dari luar kota bisa membeli dalam jumlah ratusan topeng,” ujarnya.

Himpitan
Kampung Girilaya. Sebuah perkampungan di Kota Surabaya yang dulu terkenal dengan sentra kerajinan topeng kertas. Bahkan berbagai penjual dari luar kota, sengaja datang untuk memborongnya.

“Kalau dulu banyak yang menjadi perajin topeng kertas di kampung sini, tapi beberapa tahun terakhir ini perlahan mereka mulai tutup usaha,” kata Choirul Anam.

Ada beberapa faktor penyebab gulung tikarnya perajin topeng kertas. Antara lain tingginya harga bahan baku, seperti kertas bekas, semen digunakan membuat cetakan yang kemudian dijadikan sebuah bentuk, kanji, dan cat minyak. Yang mana dari semua itu tidak sesuai dengan harga jual sebuah topeng kertas. “Bila harga jual kami dinaikkan, berdampak pada kurang lakunya barang produksi kami,” ujar Choirul Anam lagi.

Karena bagaimana juga, di luar Kota Surabaya juga masih banyak dijumpai beberapa home industry topeng kertas. Sehingga alternatif yang diambil agar usaha memiliki daya jual, adalah bermain soal harga.

Sedangkan faktor lain, karena adanya pelaku usaha topeng kertas dengan modal besar dan jumlah pekerja yang banyak. Sehingga dari perajin kategori ini dengan mudah memproduksi barang dalam jumlah banyak. Terutama pada proses pembuatan lebih awal, dengan stok barang yang banyak pula.

Namun, di tengah himpitan jaman yang kian keras. Choirul Anam berharap agar kondisi seperti dulu dapat terulang. Kenangnya beberapa tahun silam, banyak tempat di Surabaya yang warganya menjadi perajin topeng kertas. Tapi kini semua sudah beralih ke profesi bidang usaha lain.

”Dulu sering saya jumpai pembuat topeng kertas, di Pasar Genting, Pasar Tembok, Jalan Demak, Pandegiling, Banyu Urip, dan kini yang tersisa di kampung sini saja,” pungkas Anam.

naskah : m ridlo’i | foto : wt atmojo