mi-kontennya

Jangan ngaku pecinta kuliner pedas sebelum mampir di tempat ini. Cafe Mie Akhirat. Karena di cafe yang berdiri di kawasan Jl Citarum, Surabaya ini, kita bakal disuguhi mi lezat dengan rasa super pedas.

Untuk menu yang ditawarkan juga memakai tema yang sesuai dengan nama cafenya, Mie Neraka dan Mie Surga. Mie Surga disajikan dengan menggunakan bahan mie kebanyakan, sementara Mie Neraka menggunakan mie bewarna hitam kelam.

“Bedanya, Mie Neraka agak sedikit lebih kenyal. Warna hitam Mie Neraka dihasilkan dari merang padi yang dikeringkan, bukan dari cumi atau seafood. Jadi yang nggak suka seafood jangan khawatir buat nyobain mie Neraka,” terang Dicky Gunawan, Marketing Cafe Mie Akhirat.

“Sensasi pedas olahan mie sudah banyak ditawarkan oleh berbagai resto, namun sensasi pedas dan unik ala Akhirat hanya bisa ditemui di Cafe Mie Akhirat,” gurau Dicky. Sajian Mie Surga dan Neraka juga dibubuhi dengan aneka toping, olahan ayam, pangsit, union ring, dan mentimun. Untuk rasa pedasnya, pengunjung bisa pesan mie dengan level pedas sesuai selera.

Mie formulasi Novaldypradika atau yang akrab dipanggil Aldy ini mengusung konsep ala Akhirat. Selain olahan mie, Cafe Mie Akhirat juga menyediakan menu lainnya, diantaranya Bubur Ayam Akhirat, Nasi Goreng Neraka, Baso Akhirat, Mie Ramen Neraka, dan masih banyak lagi. Total jumlah menunya mencapai 16 varian.

Sebelum buka di tempat yang sekarang, Mie Akhirat buka kali pertama di tahun 2013 di dekat Taman Bungkul, tepatnya di Jalan Progo 10, Surabaya. Dan siapa menyangka, makanan yang kini berkembang jadi salah satu ikon kuliner Surabaya ini punya sejarah yang panjang. “Waktu itu Aldy punya masalah yang sangat besar. Ia berfiki untuk mengakhiri hidupnya. Saat bertemu temannya, Aldy dinasehati bagaimana nanti di akhirat? Dari situ mas Aldy pakai konsep akhirat di menunya,” jelas Dicky.

Kini, Mie Akhirat tumbuh jauh dari rasa pesimis. Selain pindah di Jl Citarum sejak Januari 2015, cafe ini juga membuka cabang di Jl Medokan Ayu, Surabaya.

naskah : pipit maulidiya | foto-foto : rangga yudhistira