Di Bojonegoro, kata ita-itu berarti pongah atau sombong. Tapi dalam konteks industri kreatif ala Dian Kristianto, 35 tahun, pengusaha konveksi dari Bojonegoro, ita-itu muncul dengan perspektif baru. “Boleh sombong, tapi harus ada alasan. Boleh sombong karena punya sesuatu yang memang istimewa,” kata Dian pada EastJavaTraveler.com, saat ditemui di outletnya yang terletak di halaman parkir Giant Supermarket Bojonegoro.

Ita-itu yang ia kenalkan, muncul bersama produk t-shirt dengan design bermuatan khas Bojonegoro. Seperti kosakata we’em (kepunyaanmu), piye leh (bagaimana lagi), dan masih banyak lagi. “Sejak saya kenalkan empat tahun lalu, kaos Ita-itu ternyata diterima dengan baik. Selain dikenal sebagai oleh-oleh khas, produk ini ternyata juga jadi kebanggaan tersendiri,” katanya sambil tersenyum.

Pernyataan ini bukan tanpa alasan. Karena dari pantauan EastJavaTraveler.com, outlet mungil mereka nyaris tak pernah sepi dari pengunjung. Beberapa pembeli datang dengan kendaraan roda empat bernomor polisi Surabaya, Blora, Cepu, bahkan Jakarta. Harga kaos yang dibandrol Rp 35 ribu hingga Rp 70 ribu, dinilai sepadan dengan kualitas kaos Ita-itu yang workshopnya terletak di Jl Kusnandar, Bojonegoro ini.

Untuk memperkenalkan produk khas daerah ini, Dian cukup rajin mengikuti eksebisi di tingkat daerah Bojonegoro hingga Jawa Timur. “Bahkan kaos kami pernah digunakan pasangan Kange-Yune untuk melengkapi identitas Bojonegoro dalam sebuah seremonial penting,” kata alumnus sebuah perguruan tinggi swasta jurusan akuntansi ini.

Darimana mendapat ide membuat t-shirt khas Bojonegoro? “Setelah lulus saya sempat aktif di dunia design. Lalu membuat observasi industri kaos di Yogyakarta dan Bali. Ya lalu mikir. Yogya punya Dagadu. Bali punya Jogger. Saya berpikir, Bojonegoro harus punya,” terangnya. Sehingga, lanjut Dian, suatu saat kalau ada orang datang ke Bojonegoro, oleh-olehnya tak mandeg di ledre atau makanan khas lainnya.

Seiring waktu, industri kaos bermuatan lokal yang ia buat ternyata tak muncul sendirian. Setidaknya ada empat produk dengan gaya serupa muncul di pasar. Tapi Dian percaya, banyaknya alternatif pilihan seperti ini akan membuat industri kreatif akan tumbuh lebih baik. “Kami berkompetisi secara sehat,” tandas Dian.

naskah dan foto : hendro d. laksono