Kekaguman terhadap sosok perempuan baik sebagai individu maupun seorang ibu diungkapkan oleh seniman asal Surabaya Hari Prajitno melalui puisi dan sketsa yang ditampilkan dalam pameran bertajuk Perahu Pembawa Tunas dan Pelita, di Galeri House of Sampoerna mulai 07 Desember 2012 hingga 06 Januari 2013 mendatang.

Sebanyak 25 puisi dan 25 sketsa yang dihadirkan dalam pameran ini menunjukkan kasih sayang dan ketangguhan sosok perempuan dari sudut pandang seorang laki-laki. Misalnya, puisi berjudul “Sakitkah Hari Ini, Rizk” yang mengungkapkan kekhawatiran seorang ibu melihat anaknya yang sedang sakit. Ada pula karya sketsa berjudul “Perahu Pengangkut Batu” dimana perempuan digambarkan sebagai perahu yang berlayar dengan beberapa batu diatasnya. Hal ini merepresentasikan perempuan yang mampu menjalani hidup meski menanggung banyak beban.

Bersama karya-karya Hari, turut dipamerkan karya puisi dari beberapa tokoh di Surabaya yang berasal dari berbagai profesi. Seperti Agus Koecink yang dikenal sebagai seniman dan kurator seni. Kasih sayang seorang ibu, menurut Koecink, digambarkan bagaikan sesuap nasi seperti yang tertuang lewat sebuah puisi berjudul “Semangkok Nasi Putih”. Lain lagi bagi Kika Dhersy Putri, lewat puisi berjudul “Dia, Tuhan-kah?”, Kika yang seorang penulis mengungkapkan kekaguman seorang anak terhadap sosok ibu. Beragam imagi seorang perempuan atau ibu dapat dilihat juga dari karya-karya puisi atau esai milik Suparto Brata, Dukut Imam Widodo, Carlos, dan Chrisanti Anggi.

Hari Prajitno adalah seorang perupa kelahiran Surabaya, 19 Januari 1968 silam. Lulusan pendidikan seni rupa FSR-ISI Jogjakarta ini berprofesi sebagai pengajar seni rupa di Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya. Selain menekuni bidang puisi dan ilustrasi, Hari juga aktif menghasilkan karya lukis dan patung. Beberapa karyanya telah dipamerkan secara tunggal seperti pameran “Seni Lukis” di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki, Jakarta tahun 2002 dan pameran instalasi “Something We’ve Built” di Jogjakarta tahun 2010. Tidak hanya berpameran tunggal, Hari juga mengikuti beberapa pameran bersama, misalnya pameran “Arus – Arus Terpencil” bekerjasama dengan Ugo Untoro di Galeri Emitan, Surabaya tahun 2009 serta pameran “Bergerak ke Dalam atau Terpelanting Keluar” di Surabaya tahun 2011.

Melalui pameran puisi dan ilustrasi ini, Hari ingin mendorong khususnya kaum laki-laki untuk lebih menghargai kaum perempuan termasuk mengingatkan kembali akan cinta kasih seorang ibu yang tanpa syarat. “Sebagai seorang “pencipta”, ibu tidak akan menuntut anak untuk membalas kasih sayang yang pernah beliau berikan. Karena itu, sudah sepantasnyalah kita sebagai anak senantiasa berbakti kepada orang tua, khususnya ibu yang melahirkan, membesarkan, dan mendidik kita,” ujar Hari.