Sepanjang jalan Tunjungan pada Sabtu pagi (19/9) tak seperti biasanya yang tampak padat akan lalu lintas kendaran bermotor. Ribuan pelajar berbondong-bondong menuju hotel Yamato yang sekarang lebih dikenal sebagai Hotel Majapahit.

Berdasarkan pengamatan eastjavatraveler, hingga jam 7 pagi, mereka yang datang terus memadati badan jalan sekitar Gedung Siola, yang sekarang beralih fungsi menjadi Museum Surabaya hingga samping jalan Gedung Monumen Pers Perjuangan Surabaya.

Tak hanya para pelajar dengan seragam lengkap saja yang hadir saat itu, puluhan veteran dengan seragam bak layaknya para pejuang kala Indonesia melawan penjajah dulu juga tumpah riuh di sepanjang jalan Tunjungan.

Adalah Surabaya Merah Putih, sebagai ruang dan waktu yang terus-menerus digelar Pemerintah Kota Surabaya guna menjaga semangat dan memperingati jasa para pahlawannya.

Surabaya, sebagai satu-satunya kota di Indonesia yang menyandang predikat kota pahlawan, tentu saja memiliki kewajiban untuk terus menjaga semangat dan memperingati jasa para pahlawannya.

Acara yang bertajuk Surabaya Merah Putih ini, merupakan rekontstruksi sejarah 70 tahun silam terkait perobekan bendera di Hotel Yamato (sekarang hotel Majapahit). Tak kurang dari 2000 pelajar terlibat sebagai pengisi aubade dalam peringat sejarah kali ini.

Surabaya Merah Putih sendiri tak lain sebagai kegiatan yang sengaja disiapkan Pemerintah Kota Surabaya bersama Dinas Budaya dan Pariwisata Surabaya dalam menyambut kegiatan Surabaya Juang.

Yayuk Eko Agustin, Asisten I Pemerintahan Pemkot Surabaya, turut bercerita terkait kegiatan kali ini, pada saat malam tasyakuran peringatan Kemerdekaan Indonesia ke-70 di rumah dinas Wali Kota Surabaya, ada seorang pelaku sejarah yang bercerita bahwa peristiwa perobekan bendera di Hotel Yamato sebenarnya terjadi pada tanggal 19 September.

Berbekal alasan itulah, kegitan rekonstruksi sejarah perobekan bendera di Hotel Yamato pada tahun ini, akhirnya dilaksanakan tepat pada hari itu juga.

Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini juga turut ambil bagian dalam kegiatan kali ini. Di hadapan para partisipan yang terdiri dari masyarakat dan para konsultan jenderal dari negara sahabat yang ada di Surabaya, dengan lantang ia melakukan pidato kebangsaan. Kemudian, acara dilanjutkan dengan menyanyikan lagu gugur bunga oleh para pelajar bersama seluruh partisipan, serta dilanjut dengan menyanyikan lagu berkibarlah benderaku yang berbarengan dengan kibaran bendera merah putih yang dipegang oleh para pelajar.

Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata Surabaya, Wiwiek Widayanti mengatakan, bahwa ini adalah salah satu upaya melakukan edukasi kepada para generasi muda. Edukasi melalui pelajaran di sekolah, dan edukasi yang dilakuukan di lapangan. Sebagai contoh, Pemerintah Kota sendiri memiliki program sekolah kebangsaan, dan heroic track dimana pelajar sekolah diajak berkunjung ke situs-situs yang memiliki keterkaitan dengan momen 10 November.

Setelah acara ini, pihaknya akan terus melaksanakan berbagai rangkaian kegiatan, pada tanggal 9 November yaitu Surabaya Membara dan Parade Juang yang rencananya bakal digelar pada tanggal 10 November sebagai puncaknya.

naskah dan foto : rangga yudhistira