Tak bisa dipungkiri, potensi dan sumber daya manusia jaman dahulu banyak menginspirasi kemajuan era ini. Hasil dari buah imajinatif mereka, terbukti mampu membawa identitas bagi masyarakat Indonesia, misalnya saja warisan budaya batik.

Batik bahkan memiliki karakter yang berbeda-beda sesuai geografi dan budayanya. Misalnya Batik Sidoarjo yang khas dengan motif Kembang Bayem, yang berarti daerah Sidoarjo ditumbuhi banyak tanaman bayam, dan masih banyak lagi.

Keaneragaman batik itulah, yang membuat Komunitas Batik Jawa Timur di Surabaya alias KIBAS, bersama dengan House of Sampoerna dan Pemerintahan Kabupaten Pamekasan, mengadakan pameran batik Pamekasan. Pada tanggal 15 sampai 29 Oktober 2015, di Art Gallery House of Sampoerna, Jalan Taman Sampoerna 6, Surabaya.

Setelah sebelumnya sukses mengadakan acara serupa dengan tema Batik Sidoarjo, kali ini batik Pamekasan dipilih karena memiliki keunikan dan keragaman yang lebih bebas. Belum lagi, daerah Pamekasan adalah salah satu sentra batik terbesar di Jawa Timur. Bahkan hampir disetiap kecamatan, terdapat sentra perajin batik. Misalnya di Candi Burung, Toket, Nong Tangis, Podhek, Klampar, Banyumas, dan sejumlah kecamatan lainnya.

Dalam pameran batik ini, pengunjung akan melihat sesuatu yang berbeda. Mulai dari pemakaian warna-warna berani, keluar dari ‘pakem’, seperti orange, hijau menyala, ungu, kuning, dan warna pop lainnya khas batik Pamekasan dipajang apik.

Selain pameran batik, acara yang mengusung tema ‘Dibalik Selembar Kain Batik Pamekasan’ ini, dibuka (15/10) dengan menghadirkan budaya masyarakat Pamekasan yang mulai jarang dilakukan. Diantaranya,

Son son, metode merawat kain panjang atau dalam bahasa umumnya spa batik. Dalam Bahasa Jawa dikenal dengan nama ratus. Pada Prinsipnya son son ini adalah selain mengasapi kain agar awet, juga bertujuan agar kain menjadi harum. Son son khusunya dipakai waktu ritual mantenan. Istilah lain son son adalah okop.

Mengkuwuk, proses yang sudah lama ditinggalkan, tujuannya adalah untuk menggilapkan batil. Prosesnya dilakukan secara manual dengan peralatan kayu dan kuwuk alias kerang besar. Hasilnya akan membuat kain tampak mengkilat selama delapan kali pencucian. Ini juga dilakukan di tempat lain, misalnya saja Sidoarjo jaman dahulu. Proses menggilapkan dengan cara mekanik yaitu mengepres kain dengan mengguakan gilingan besi.

Jebluk, alat musik tradisional Pamekasan yang sudah jarang dikenal oleh kalangan umum. Alat yang digunakan sangat sederhana, berupa bejana dari tanah liat (klenting dalam Bahasa Jawa), dengan alat tiup yang menimbulkan suara-suara menarik. Kelompok yang terdiri dari beberapa pria ini, juga dilengkapi terompet dengan vokal.

Topeng Getta, adalah tarian yang dimainkan oleh beberapa laki-laki. Tarian ini menggunakan topeng sebagai cirinya, untuk sambutan selamat datang. Topeng Gettak merupakan penggambaran Raja Madura yaitu Baladewa. Dan beberapa penampilan lainnya.


naskah : pipit maulidiyah | foto : rangga yudhistira