Megah dan kaya keunikan. Kesan ini tergambar jelas di Kwan Sing Bio, sebuah kelenteng yang berdiri gagah di pesisir pantai utara Tuban. Selain luas bangunan yang luar biasa, ikon yang digunakan sebagai penghias gapura juga beda dari kebiasaan. Bukan naga, tapi kepiting raksasa.

Dua siswi berseragam pramuka itu melangkah ringan. Beberapa pedagang makanan kecil yang mengacungkan dagangan, dibiarkan berlalu begitu saja. Sementara jari lentik salah satu siswi itu sibuk membenahi kerudungnya.

Siang itu memang terasa gerah. Namun siswi-siswi sebuah sekolah Islam itu tak mau kalah. Mereka beringsut ke koridor yang lebih sejuk, lalu mulai menikmati pesona Kwan Sing Bio.

Ini pemandangan biasa ditemui di sini. Karena bagi pengurus kelenteng, Kwan Sing Bio memang terbuka untuk siapa saja. Bagi penganut agama apa saja, dari mana saja. Apalagi pemerintah Kabupaten Tuban, telah memposisikan Kwan Sing Bio sebagai salah satu aset wisata kebanggan daerah, di luar wisata pantai dan makam Sunan Bonang.

Namun demikian, sebagai tempat peribadatan umat Tri Dharma, Kwan Sing Bio terus terjaga kesuciannya. Beberapa pengurus kelenteng setia menjaga bangunan ini dari ancaman tangan-tangan jahil. “Kami tak segan menegur siapapun yang berulah tidak baik di sini,” ujar salah satu pengurus yang enggan menyebut namanya.

Terletak di tepi Jalan RE Martadinata, Tuban, tepatnya di sisi kiri jalur yang menghubungkan Surabaya-Semarang, Kwan Sing Bio seperti batu delima yang sangat mencuri perhatian. Tak hanya warna bangunannya yang menyolok, tapi juga ikon kepiting raksasa di atas gapura pintu masuknya.

Luas keseluruhan klenteng Kwan Sing Bio diperkirakan mencapai 2,5 hektar. Tapi bangunan utamanya sendiri hanya berukuran 7X7 meter. “Tempat inilah yang sering digunakan untuk sembahyang,” ujar penurus kelenteng tadi.

Selain bangunan utama ini, Kwan Sing Bio juga dilengkapi dengan beberapa bangunan pendukung. Seperti ruang sembahyang tambahan, ruang sekretariat, tempat kursus Bahasa Mandarin, ruang serba guna, ruang tamu, ruang makan, lahan parkir, lapangan basket, lahan parkir, plus area pementasan seni dan budaya.

Dan bersamaan dengan hari peringatan ulang tahun ke-1846 Kongco Kwan Sing Tee Koen pertengahan tahun lalu, klenteng Kwan Sing Bio akan menambah bangunan baru. Sebuah pagoda sembilan lantai siap berdiri. Budget yang disiapkan tak main-main, Rp 17 Miliar.

Pagoda itu dibangun di atas lahan di belakang klenteng yang luasnya mencapai 5.000 M2 atau setengah hektar. “Di tengah bangunan pagoda nantinya akan disiapkan lift, sehingga mempermudah pengunjung naik turun dari lantai ke lantai. Sedangkan bangunan lantai dasarnya seluas 20 x 20 meter dikelilingi taman dan fasilitas umum lainnya,” papar Hanjono Tanzah, Ketua I Pengurus Tempat Ibadah Tridharma (TITD) Klenteng Kwan Sing Bio Tuban. Proyek ini, lanjutnya, untuk kepentingan wisata ritual. Sehingga terbuka untuk siapapun yang datang ke klenteng.

Dewa Keadilan
Memperkuat sisi releigiusnya, Kwan Sing Bio diperkaya dengan patung-patung yang sangat apik. Katanya, patung-patung ini dibangun untuk menghormati nenek moyang dan dewa-dewa masyarakat Tionghoa. Seperti patung Kwan Kong atau Dewa Keadilan.

Dewa ini dulunya manusia biasa yang kemudian dinobatkan sebagai raja muda di Tiongkok pada abad ke-2 di Kota San Se, tepatnya pada masa terakhir pemerintahan Dinasti Han. Selama memerintah, ia bertindak sangat adil. Sehingga, masyarakat daratan Tiongkok banyak yang memuja dia layaknya dewa.

Di sisi yang lain, tepatnya di di gedung serba guna, ada relief indah yang berkisah tentang sembilan dewa. Lalu di bagian lain, ada relief tentang legenda-legenda populer Tiong Hoa yang kaya dengan nilai filsafat. Seperti kisah tentang kakek bijak yang memancing tanpa kail, dan masih banyak lagi.

Dengan segenap atribut yang dimiliki, Kwan Sing Bio diyakini sebagai klenteng terbesar di Asia Tenggara. Selain itu, kleneteng ini juga dipercaya sebagai yang paling unik.

Iskandar, sumber di Sekretariat Kwan Sing Bio mengatakan, salah satu yang palng berbeda di klenteng ini adalah penggunaan ikon kepiting raksasa di gerbangnya. Biasanya, klenteng menggunakan hiasan naga raksasa. “Lambang kepiting ini sebenarnya tidak menyimpan makna macam-macam. Hanya saja, saat klenteng akan direnovasi, salah satu pengelola sempat bermimpi, bertemu dengan kepiting,” katanya.

“Bisa saja, ini cuma bunga tidur. Tapi ada yang bilang, ini pesan dari leluhur dan Dewa,” kata Iskandar. Dengan dasar ini, lambang kepiting-pun digunakan sebagai penghias klenteng.

Mencari Peruntungan
Data di sekretariat Kwan Sing Bio menyebut, tiap hari, tak kurang dari seratus tamu datang ke klenteng. Mereka ada yang datang khusus untuk bersembahyang, melihat-lihat, ada juga yang datang untuk mencari peruntungan dan mohon petunjuk.

Kebetulan di salah satu ruang di sisi kiri klenteng, ada ruang ramalan yang siap melayani kebutuhan tamu. “Soal itu ya tergantung orangnya. Mau percaya boleh, nggak percaya juga boleh,” kata Iskandar sembari tersenyum.

Dari catatannya, mereka yang datang ke kelenteng ternyata tidak hanya berasal dari kalangan Kong Hu Chu. Beberapa tahun terakhir, setelah kran kebebasan mulai terasa di Indonesia, Kwan Sing Bio juga didatangi pemeluk agama lain, seperti umat Kristen, Islam, dan lain-lain.

“Kami juga mendapat kunjungan dari mereka yang berasal dari luar Jawa Timur. Seperti Jakarta, Semarang, dan masih banyak lagi. Yang dari luar negeri juga ada. Seperti Malaysia, Singapura dan Thailand,” katanya.

Klenteng Tertua?
Meski belum ada rujukan pasti tentang eksistensi Kwan Sing Bio, namun sumber di klenteng ini meyakini, Kwan Sing Bio merupakan klenteng tertua di Indonesia. “Ada yang cerita, kelahiran Kwan Sing Bio terkait erat dengan rentetan sejarah runtuhnya Singosari, bangkit-ambruknya Kediri, dan berdirinya Kerajaan Majapahit,” kata sumber EastJava Traveler di klenteng ini.

Lalu ia menunjukkan beberapa catatan, menjelang akhir abad ke-13, utusan Kubilai Khan datang bersama pasukannya di Tuban, lalu membangun sebuah pemukiman darurat di pantai. Kedatangan mereka bersumber pada niat untuk membalas dendam pada Kerajaan Singosari yang dianggap sudah menghina Raja Mongolia beberapa tahun lalu.

Namun niat ini terganjal gara-gara mereka mendengar kabar, Singosari sudah keburu dihancurkan Kerajaan Kediri. Situasi ini, seperti ditulis banyak literasi sejarah, kemudian dimanfaatkan Raden Wijaya, penguasa Trowulan, Mojokerto. Dengan segala dalih, Raden Wijaya mempengaruhi pasukan Mongol agar mau menyerbu Kerajaan Kediri. Pasukan Kubilai Khan terpancing dan menyerbu pusat kekuasaan Jayakatwang, Raja Kediri.

Perlawanan pasukan Kediri yang masih mabuk kemenangan berbuntut runtuhnya tahta Jayakatwang. Bersama pasukan Mongol, Raden Wijaya pun menuai kemenangan.

Di tengah pesta kemenangan itu, mendadak ia balik menghajar pasukan Kubilai Khan. Pasukan Mongol yang juga populer dengan sebutan Tar Tar itu kocar-kacir. Perlawanan yang diberikan sia-sia, karena pengaruh minuman keras yang disuguhkan Raden Wijaya.

Konon, pasukan Mongol yang melarikan diri itu ada yang berhasil pulang ke negaranya, namun ada juga yang tertahan dan berdiam di Karangsari, Tuban. Untuk melengkapi kebutuhan peribadatan, mereka membangun sebuah kelenteng berukuran 7X7 meter yang kemudian diberi nama Kwan Sing Bio.

Versi lain, kelahiran Kwan Sing Bio bermula dari konflik besar yang terjadi pada masa pemerintahan Belanda di tanah Jawa pada abad ke 17. Di tengah pergolakan itu, banyak warga Tiong Hoa memilih untuk mengungsi ke arah Timur dengan menggunakan jalur darat dan laut. Rombongan yang melewati jalur laut, menggunakan kapal-kapal besar agar bisa mengangkut rumah dan persedian yang banyak.

Saat memasuki perairan Tuban, kapal yang digunakan untuk berlayar berhenti begitu saja. Dalam kondisi demikian, beberapa anggota rombongan berinisiatif untuk mohon petunjuk dari para dewa. Setelah ada wangsit, rombongan itu memutuskan untuk menetap dan memajang kelenteng yang mereka bawa, di atas daratan menghadap ke laut.

Kini, bangunan itu menjadi bangunan utama Kwan Sing Bio. Sampai sekarang, kondisi bangunan ini belum berubah dari aslinya. Jika dilihat lebih teliti, paku yang digunakan untuk menempelkan papan dan kayu usuk, masih memakai paku berbahan dasar kayu. Kalaupun ada sentuhan modernitas, hanya sekedar pengecatan ulang dan pembersihan.

naskah : hd laksono | foto : wt atmojo, boby np (matanesia.com)