Meski belum setenar dan seheboh Jember Fashion Carnival, dalam ajang pertama kalinya di Probolinggo beberapa waktu lalu, Kontes Busana Daun (Kobuda) berhasil memukau ribuan pasang mata.

Terik mentari begitu menyengat, namun semua yang hadir serasa tak peduli. Mulai dari warga yang datang dari dalam kota maupun luar kota, turis, pejabat, hingga para fotografer yang tak henti-hentinya mengabadikan momen ini.

Acara yang juga dibarengi launching program Semipro (Seminggu di Kota Probolinggo), yang dicanangkan oleh Buchori, Wali Kota Probolinggo ini, memang di luar dugaan panitia. Sehingga barikade pagar besi tak bisa membendung massa yang ingin menyaksikan peserta secara dekat.

Decak kagum pun terus bergelora. Pandangan mata terus mengikuti gerak-gerik para model, bahkan siulan dan aplaus terus terdengar di berbagai penjuru. ”Ayo terus menari! Hidup Kobuda! Teruslah eksis karena kota kita belum pernah ada seperti ini,” celetuk seorang warga yang menonton di dekat garis finish.

Peserta berjalan gemulai dengan catwalk jalanan aspal. Dengan rute start dari SMKN 1 Taman Siswa Jl. Dr. Saleh. Selanjutnya setiap peserta yang meggunakan busana bertema daun ini melintasi Jl. Panglima Sudirman, Jl. Suroyo, dan finish di Alun-alun Probolinggo Jl. A. Yani. Dalam rute itu panitia menyediakan 2 stage, di mana para peserta unjuk kebolehan di depan para juri dengan bergaya menari.

Setiap peserta yang berpartisipasi dalam kontes ini, terdiri dari 11 orang dalam setiap kelompoknya. Satu orang menjadi maskot yang busananya wajib menggunakan daun asli, sedangkan 10 orang lainnya diperbolehkan memakai daun imitasi.

Dalam Kobuda juga dibuat berbagai kategori lomba. Pemenang dalam kontes ini akan langsung diumumkan. Hadiahnya juga diserahkan langsung oleh Wali Kota Probolinggo.

Misal kategori untuk busana dan ekpresi maskot. Di mana panitianya adalah Probolinggo Photo Club. Pemenang maskot ini akan dijadikan cover poster pada Kobuda tahun depan.

Kriterianya adalah maskot yang paling banyak dipotret oleh fotografer. Tentunya fotonya juga bagus. Bukan hanya sekedar banyak, namun harus memenuhi unsur fotografi.

Tak heran bila menjelang kontes telah terdaftar sebanyak 300 lebih fotografer. Ada yang sengaja datang dari Surabaya, Sidoarjo, Malang, Jakarta, Jogjakarta, Bali, Semarang, dan sejumlah fotografer dari luar negeri.

”Semuakan buah karya para generasi muda Kota Probolinggo, guna terus memacu semangat, mereka pantas untuk diberi penghargaan,” kata Peny Priyono, Ketua Komunitas Pariwisata (Kopara) sebagai salah satu penyelenggara kontes.

Ajang para Perancang
Di balik kepuasan para penonton dan keindahan busana daun yang dikenakan para model. Kontes ini juga menjadi tantangan bagi para perancang untuk mengadu kreatifitas sekaligus ketelitian.

“Merangkai satu daun dengan daun lainnya harus tepat agar tidak robek ketika pemakainya bergerak,” tutur Sri Isnaini, perancang busana tim Sekolah Menengah Pertama Negeri 10, Probolinggo.

Memang merangkai busana dari bahan daun bukanlah pekerjaan mudah. Ada yang menggunakan bahan pengawet agar daun tetap tampak segar. Apalagi proses pekerjaan sudah dimulai beberapa hari sebelum kontes. Bahkan ada yang merebusnya saat melakukan pencampuran dengan zat pewarna.

“Teknik ini digunakan agar daun tak layu, karena berpengaruh pada hiasannya,” tutur Yuli Maryatin, perancang busana tim Sekolah Menengah Pertama Negeri 7, Probolinggo.

Aroma persaingan memang terasa kental. Tim penilai juga harus bekerja keras memilih mana yang terbaik, yang akhirnya memilih tim dari Sekolah Menengah Atas Negeri 2, Probolinggo, sebagai pemenang. Mereka menyajikan pakaian dengan tema Leaves of Heaven.

Perpaduan antara kreativitas, keterampilan, dan penyajian menjadi kunci sukses tim ini. “Mereka benar-benar total dalam menyajikan busana daun,” kata Tutik Atmawati, salah satu juri kontes.

Menurut Tutik, daun lebih terlihat dominan daripada pakaian dasarannya. “Kain dasarannya menjadi hanya sebatas aksesori dibanding daunnya,” imbuhnya lagi, sambil menunjuk kain dasar berwarna hijau yang dikenakan seorang model.

Tim juri menganugerahkan gelar universal costume. Apalagi rangkaian busananya didesain sendiri oleh siswi-siswi sekolah itu.

Dia mengakui tim lainnya tak kalah kreatif. Tapi beberapa tim lebih menonjolkan kain dasarannya daripada busana daunnya, sehingga daun malah terlihat sebagai aksesorinya. “Memang bagus, tapi belum mencerminkan busana daun,” pungkas Tutik.

Wujudkan Ikon Kota
Siapa sangka ide terlahirnya Kontes Busana Daun terlontar begitu saja dalam sebuah percakapan. ”Obrolan itu pada Agustus 2008 lalu, saat berlangsung pawai bunga,” tutur Peny Priyono pada EastJava Traveler.

Saat itu keluar celetukan dari mulut saya. Dan, saat itu ada beberapa kawan, seperti Kukuh, Kepala Seksi Pariwisata Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Kota Probolinggo, lalu Agus, fotografer sebuah media harian di kota ini. “Kenapa bukan daun? Di Probolinggo banyak daun yang kaya bentuk maupun tekstur,” kenang pemilik sanggar tari Bayu Kencana kala itu.

Ide itu pun terus dirembuk. Gagasan pun digodok di sanggar tari milik Peny, yang kemudian melahirkan inspirasi penyelenggaraan kontes. Berbagai persiapan pun dikebut. Bahkan, kontes yang semula tidak dilombakan, akhirnya disepakati dilombakan. ”Inilah yang bikin saya sibuk bukan kepalang,” tambah Peny.

Tidak ada kaitannya dengan Jember Fashion Carnival. Apalagi menirunya. Kobuda berbeda, karena hanya menggunakan bahan dedaunan. Peni dan kawan-kawan optimis Kobuda bisa sebagai ikon budaya dan pariwisata Kota Probolinggo. Kontes serupa pun akan digelar sebagai acara tahunan. Rencana Juli 2009, akan kembali digelar bersamaan dengan program Semipro.

naskah : m.ridlo’i | foto : wt atmojo