eastjavatraveler_budiirawan_indonesiaimages

Jika Anda jalan-jalan di kawasan Jl Hasanudin, Kota Pasuruan, imaji seolah melayang di masa silam. Karena di sini, Anda akan melihat banyak bangunan lawas yang menawan. Salah satunya adalah Rumah Singa. Oleh pemerintah setempat, Rumah Singa masuk dalam bangunan cagar budaya.

Sebutan ini bersumber dari keberadaan patung singa di depan rumah. Konon, saat Keluarga Kwee membangun patung ini, mereka berharap agar rumah ini bisa terus terjaga. Maklum, Keluarga Kwee saat itu dikenal sebagai pengusaha paling kaya di Kota Pasuruan.

Gedung ini dibangun pada awal abad 19 dengan gaya Indische Empire, gaya bangunan yang paling populer di Hindia Belanda pada saat itu. Rumah ini dulunya dimiliki HanTik Gwan Khong Shu, perkumpulan keluarga Han. Di halaman gedung seluas lebih dari 1 hektar ini, terdapat bong atau makam Han Hoo Tong, Ketua Tiong Hwa Hwee Koan Pasuruan yang pertama. Dan kini, gedung ini dikelola Yayasan Pancasila, sebuah yayasan yang didirikan oleh warga Tionghoa Pasuruan.

Dalam kajian arsitektur, bangunan ini dibangun dengan pendekatan yang bersahabat dengan iklim tropis lembab. Selain didesain dengan gaya arsitektur Indische Empire, pengaruh gaya Tiongkok muncul kuat di bagian atap yang menyerupai pelana.

Rumah Singa, hingga kini dikenal sebagai simbol kejayaan Kota Pasuruan saat dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan di Jawa Timur. Didukung keberadaan pelabuhan dan pasar-pasarnya yang sangat ramai, kota ini kaya dengan kawasan bisnis yang menjanjikan. Itu sebabnya banyak orang percaya, nama Pasuruan diambil dari cara orang Belanda mengucapkan ‘pasar uang’.

Saat VOC menguasai jalur perdagangan tanah air, kota Pasuruan disebut sebagai Kota Bandar. Karena keberadaan pelabuhannya yang sangat membantu transportasi perdagangan. Saat itu wilayah administratif Pasuruan meliputi Malang, Probolinggo dan Lumajang.

Kondisi ini terus terjaga hingga kekuasan Pemerintah Hindia Belanda berakhir. Dan keluarga Kwee, pemilik Rumah Singa, jadi salah satu pengusaha kaya yang paling disegani pada saat itu.

naskah dan foto : budi irawan | indonesiaimages.net